BRIN Soroti Celah Identitas Keagamaan di Program Sekolah Unggul Garuda
astakom.com, Jakarta – Gimana caranya menjamin program Sekolah Rakyat dan SMA Unggul Garuda nggak cuma mencetak siswa jago dalam akademik, tapi juga mampu merangkul identitas keagamaan dan pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat? 2 penelitian Badan Riset dan Inovasi mengungkap sisi pendidikan yang patut diperhatikan saat program sekolah unggulan garuda dibangun.
Nol dari 10 Poin
Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan (PRAK) BRIN, Aji Sofanudin, mengulik posisi Madrasah Aliyah pada SMA Unggul Garuda. Lewat kajian dokumen, ia menemukan kalau indikator kualitas program ini hampir seluruhnya berpusat pada keunggulan akademik dan peningkatan talenta.
“Pertanyaan utama kami sederhana: ketika Madrasah Aliyah bergabung dengan program sekolah elit, di manakah posisi identitas keagamaannya?” tutur Aji pada penjelasan dalam Bootcamp Regional DKI Jakarta tentang Penguatan Manajemen Talenta dan Pengayaan Sekolah Unggul Garuda Transformasi 2026 mengusung tema Joint Conference “Education in Contemporary Indonesia: Navigating Governance Transitions and Human Capital Impact," dikutip oleh astakom pada Kamis (08/10/2026).
Berdasarkan pendapat Aji, Program Garuda berdiri di atas 3 pilar utama yaitu akses yang seimbang, kepemimpinan masa depan, dan keunggulan lewat pengabdian kepada masyarakat. Tapi begitu indikator kualutas diterjemahkan ke sistem seleksi sekolah, aspek pembinaan keagamaan nggak kelihatan secara eksplisit.
“Standar ukuran untuk sekolah Garuda adalah 10 poin. Sebagai contoh, poin mana yang berkaitan dengan pembinaan keagamaan atau moral? Tidak ada. Nol dari 10 poin,” ungkap Aji.
Temuan ini memunculkan tanda tanya soal keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter keagamaan. Menurut Aji, madrasah selama ini memikul mandat ganda yaitu mencetak lulusan yang unggul secara akademik sekaligus punya kekuatan moral.
“Kriteria Garuda memastikan aspek ilmu pengetahuan, tetapi untuk sisi keimanan nilainya nol. Jadi identitas madrasah itulah yang harus mengemban separuh aspek lainnya,” ucapnya.
Smart dan Soleh ala Habibie
Dari situ, Aji menawarkan konsep sekolah unggulan yang memadukan kecerdasan akademik dengan kesiapan moral. Ia menyebut B.J. Habibie sebagai simbol paduan dua aspek itu.
“Kami mengusulkan profil sekolah unggulan Garuda yang mencerminkan dua aspek utama: smart dan soleh,” ucapnya.
Siapa Penentu Ilmu?
Kalau Aji mempertanyakan ruang bagi identitas keagamaan di pendidikan unggulan, peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN, Maria Palmolina, datang dengan kritik dari sudut yang beda. Ia menggarisbawahi pertanyaan mendasar yaitu siapa sesungguhnya yang memiliki hak dalam memutuskan pengetahuan yang dinilai penting dalam pendidikan?
Lewat riset pada komunitas Osing di Banyuwangi dan sekolah adat Pesinauan, Maria mendapati kalau pendidikan nggak melulu terjadi di ruang kelas atau ditentukan negara. Pengetahuan juga tumbuh lewat tradisi, komunitas, lingkungan, dan pengalaman lintas generasi.
“Siapa yang menentukan sosok manusia seperti apa yang harus dihasilkan oleh pendidikan?” tanya Maria dalam jelasnya.
Berdasarkan pendapat Maria, konsep modal manusia selama ini lebih sering dipahami sebagai kemampuan yang menopang produktivitas ekonomi. Sudut pandang itu dinilai belum cukup buat memaparkan gimana masyarakat menakar nilai sebuah pengetahuan.
“Modal manusia bukan hanya merupakan hasil ekonomi, melainkan juga hasil epistemik,” ucap Maria.
Belajar Ala Pesinauan
Di Pesinauan, pengetahuan nggak cuma datang dari kurikulum formal. Tetua adat, seniman, keluarga, dan komunitas punya peran penting dalam proses belajar. Perdebatan soal pengetahuan apa yang perlu diwariskan pun diselesaikan lewat musyawarah komunitas.
“Perbedaan ini tidak diselesaikan secara sepihak, melainkan dikembalikan pada musyawarah bersama,” ungkapnya.
Penelitian ini menandakan kalau masyarakat adat bukan cuma objek kebijakan pendidikan, melainkan aktor aktif yang memutuskan arah belajar mereka sendiri.
“Kasus Pesinauan menunjukkan bahwa masyarakat adat bukan sekadar penerima pilihan pendidikan. Mereka juga merupakan agen aktif dalam memproduksi, memvalidasi, dan menegosiasikan pengetahuan,” tutur Maria.
2 penjelasan ini memperlihatkan dimensi lain dalam agenda reformasi pendidikan Indonesia. Di satu sisi, negara berusaha mendirikan generasi unggul lewat standar mutu yang terukur. Di sisi lain, ada identitas, nilai, dan otoritas pengetahuan yang nggak sepenuhnya bisa diwakili angka.
Hasil ini bisa jadi bahan pertimbangan buat peningkatan Sekolah Rakyat dan SMA Unggul Garuda, terkhusus agar usaha mendirikan keunggulan pendidikan tetap memperhatikan keberagaman identitas, nilai, dan sumber pengetahuan yang tumbuh di masyarakat. (nAD/RaM)
Gen Z Takeaway
Jadi intinya, jadi pinter doang nggak cukup, bestie. Sekolah Garuda emang keren buat ngejar prestasi akademik, tapi BRIN bilang nilai iman dan moral malah dapet skor nol di standar penilaiannya. Di sisi lain, belajar itu nggak cuma soal kurikulum dari negara: tradisi, komunitas, sampai tetua adat juga punya hak buat nentuin ilmu apa yang penting. Pesannya, sekolah unggulan idealnya bukan cuma bikin siswa jago, tapi juga tetap nyambung sama nilai dan identitas yang hidup di masyarakat.









