Presiden Prabowo Respons Kritik ke MBG dan Kopdes: Kita Tidak Gagal, Kita Berhasil!
astakom.com, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto memberikan penjelasan guna merespons berbagai kritik yang ditujukan terhadap sejumlah program prioritas pemerintah.
Beliau mempertanyakan dasar argumen yang menilai bahwa program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih mengalami kegagalan.
Presiden menyinggung keberlanjutan program-program tersebut sejalan dengan kebijakan efisiensi anggaran negara. Langkah penghematan ini dinilai mampu mengalihkan alokasi belanja pemerintah secara optimal ke sektor strategis yang dibutuhkan masyarakat.
"Salahnya apa saya mau tanya? MBG, Koperasi Merah Putih, salahnya apa kalau saya menghemat ratusan triliun? Saya bisa perbaiki sekolah," ujar Kepala Negara dalam acara Presiden Prabowo Menjawab, Rabu (16/09/2026).
“Jadi ini ada kelompok yang mau pengaruhi bahwa kita gagal, kita ini. Kita tidak gagal, kita berhasil," ujarnya.
Realisasi penghematan anggaran
Menurut Presiden Prabowo, pemangkasan anggaran bukan sekadar upaya menekan belanja pemerintah semata, melainkan mekanisme untuk mengarahkan kembali dana efisiensi guna membiayai program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dalam pidatonya mengenai arah perekonomian 2026, Presiden mengemukakan bahwa pemerintah telah merealisasikan penghematan anggaran melebihi Rp300 triliun pada tahun pertama masa jabatannya.
Anggaran hasil penghematan tersebut dialokasikan secara khusus untuk mendanai program MBG serta kebutuhan prioritas lainnya.
Peran Kopdes Merah Putih
Dalam perannya terhadap ketahanan pangan, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih ditempatkan sebagai sarana strategis untuk memotong rantai distribusi barang kebutuhan pokok yang selama ini dinilai terlalu panjang.
Panjangnya rantai pasok tersebut mengakibatkan tingginya keterlibatan pihak perantara di antara petani dan konsumen.
Oleh karena itu, pemerintah mendorong Kopdes Merah Putih untuk mengambil peran aktif dalam mengelola rantai pasok nasional.
Presiden Prabowo memaparkan data riset yang menunjukkan bahwa margin yang diambil oleh pihak perantara mencapai 30 hingga 40 persen, atau setara dengan Rp313 triliun. Sebaliknya, margin operasional Kopdes Merah Putih ditargetkan berada pada tingkat yang efisien, yakni 5 hingga 10 persen.
"Ini adalah keamanan ekonomi jangka panjang," kata Presiden Prabowo dalam penjelasannya mengenai Kopdes Merah Putih.
Program ini dirancang guna memperkuat ketahanan ekonomi di tingkat pedesaan. Dalam sidang kabinet, dilaporkan bahwa lebih dari 1.000 Koperasi Desa Merah Putih telah beroperasi, dengan target pengembangan mencapai 30 ribu unit hingga akhir tahun 2026.
Tutup celah kebocoran anggaran
Selain efisiensi, Presiden menegaskan komitmen pemerintah dalam menutup celah kebocoran APBN serta menindak tegas aktivitas ekonomi ilegal.
Langkah penertiban ini berpotensi memunculkan resistensi dari pihak-pihak tertentu yang selama ini memperoleh keuntungan dari kelemahan tata kelola anggaran dan sumber daya alam.
Kebijakan fiskal pemerintah kini makin berfokus pada efisiensi belanja secara menyeluruh. Sejumlah pengeluaran yang dinilai kurang produktif, seperti kegiatan perjalanan dinas, seremoni, rapat, dan seminar, resmi dipangkas guna dialihkan ke program yang memiliki nilai tambah ekonomi tinggi.
Hingga saat ini, program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih tetap menjadi agenda utama pemerintah. Berdasarkan dokumen APBN 2026, program MBG mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp335 triliun, sementara penguatan Kopdes Merah Putih terus dioptimalkan sebagai pilar penggerak ekonomi masyarakat pedesaan. (aLf/aNs)
Gen Z Takeaway
Presiden Prabowo menegaskan program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih tetap dijalankan di tengah kebijakan efisiensi anggaran. Ia menyebut penghematan APBN diarahkan untuk membiayai program prioritas, termasuk perbaikan sekolah dan kebutuhan masyarakat. Dalam APBN 2026, MBG mendapat alokasi Rp335 triliun, sementara Kopdes Merah Putih diposisikan untuk memperpendek rantai distribusi dan memperkuat ekonomi desa.









