BPBD Lumajang Intensifkan Penyekatan, Api Bromo Masih 3 Km dari Permukiman
astakom.com, Jakarta – Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih belum sepenuhnya terkendali. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di Blok Jantur, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, karena api masih menyala dan berjarak sekitar 3 kilometer dari permukiman warga.
Petugas gabungan kini memperkuat penyekatan untuk membatasi pergerakan api agar tidak mendekati rumah maupun lahan pertanian masyarakat. Kondisi medan pegunungan yang curam juga membuat proses pemadaman langsung tidak mudah dilakukan.
Melansir dari keterangan resmi Kementerian Kehutanan pada Senin (14/09/2026), kebakaran di kawasan Bromo pertama kali terdeteksi pada Kamis (10/09/2026) sekitar pukul 16.30 WIB di Savana Pengol. Api kemudian bergerak ke arah Gunung Kursi dan berkembang hingga mencapai Pos Jemplang pada 12 September 2026.
Api masih dekat permukiman
Perkembangan terbaru menunjukkan titik api di Blok Jantur masih menjadi perhatian karena lokasinya relatif dekat dengan wilayah tempat tinggal masyarakat. BPBD Lumajang bersama petugas gabungan memperkuat pemantauan dan penyekatan di area yang masih dapat dijangkau melalui jalur darat.
Melansir dari laporan media nasional pada Senin, (14/09/2026), api di Blok Jantur terpantau sejak Minggu (13/09/2026) malam dan masih belum berhasil dipadamkan hingga Senin. Penanganan kemudian diarahkan pada pengendalian api serta pembuatan sekat bakar untuk membatasi pergerakannya.
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho mengatakan posisi api menjadi salah satu hal yang terus diwaspadai petugas karena berjarak sekitar 3 kilometer dari permukiman.
"Api yang masih menyala di kawasan hutan Blok Jantur, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, menjadi perhatian, karena berada sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga," kata Isnugroho di Lumajang, Senin.
Berdasarkan pemantauan BPBD Lumajang, sekitar 2 hektare kawasan hutan di Blok Jantur terdampak kebakaran. Petugas terus memantau arah pergerakan api sekaligus membatasi penyebarannya agar tidak mengarah ke wilayah yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat.
Isnugroho menegaskan jarak api dengan permukiman dan lahan pertanian menjadi alasan petugas memperkuat langkah pencegahan.
"Jarak api dengan pemukiman menjadi salah satu hal yang terus diwaspadai petugas. Api saat ini masih menyala. Kalau diperkirakan, jaraknya ke pemukiman sekitar 3 km. Itu yang diwaspadai agar jangan sampai api merembet ke pemukiman atau lahan pertanian warga,” Jelas Isnugroho.
Medan curam hambat pemadaman
Penanganan kebakaran di Blok Jantur tidak hanya menghadapi kobaran api, tetapi juga kondisi medan yang cukup sulit. Lokasi berada di kawasan pegunungan dengan jalur yang curam sehingga akses menuju titik api menjadi terbatas.
Karena kondisi tersebut, penyekatan melalui jalur darat menjadi salah satu langkah yang diprioritaskan untuk memperlambat pergerakan api. Cara ini juga memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan penanganan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan.
Isnugroho menjelaskan pemadaman secara manual cukup berat dilakukan karena karakter medan di lokasi kebakaran.
“Untuk melakukan pemadaman secara manual cukup berat. Karena itu, kami melakukan penyekatan yang bisa ditempuh melalui darat. Petugas juga kami minta untuk tetap berhati-hati dengan memprioritaskan keselamatannya saat penanganan karhutla,” ujarnya.
Pembuatan sekat bakar dilakukan untuk menghambat penyebaran api ketika pemadaman langsung sulit dilakukan. Sementara itu, pemantauan tetap berjalan untuk melihat perubahan arah api dan menentukan langkah penanganan berikutnya.
Penanganan masih berlanjut
Penanganan kebakaran di kawasan TNBTS sebelumnya dilakukan melalui sejumlah metode, menyesuaikan kondisi titik api dan akses di lapangan. Pemadaman mencakup penyemprotan air, penggunaan peralatan manual seperti gepyok dan jet shooter, hingga bantuan engine blower.
Dukungan dari udara juga diberikan melalui operasi water bombing oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Namun, kondisi musim kemarau, vegetasi yang kering, angin kencang, serta medan yang sulit menjadi tantangan dalam mengendalikan kebakaran.
Pada 11 September, api di kawasan Pengol yang mengarah ke Gunung Bromo berhasil dipadamkan, sedangkan api menuju Gunung Kursi masih dikendalikan. Sehari berikutnya, api kembali berkembang di kawasan Pengol dan mencapai Pos Jemplang sekitar pukul 16.20 WIB setelah dipengaruhi angin kencang.
Dengan masih adanya titik api di Blok Jantur, petugas kini tidak hanya mengejar pemadaman, tetapi juga berusaha memastikan kebakaran tidak bergerak menuju permukiman dan lahan pertanian warga.
Wisata Bromo ditutup total
Kebakaran juga berdampak pada aktivitas wisata di kawasan TNBTS. Kementerian Kehutanan melalui Balai Besar TNBTS menutup seluruh akses kunjungan Gunung Bromo mulai 12 September 2026 sampai batas waktu yang akan diumumkan lebih lanjut.
Penutupan dilakukan untuk memberikan ruang bagi petugas dalam menangani kebakaran sekaligus mengurangi risiko keselamatan bagi wisatawan di kawasan terdampak.
Kemenhut juga mengimbau masyarakat dan pengunjung tidak mendekati lokasi kebakaran serta mengikuti informasi terbaru dari Balai Besar TNBTS. Sementara itu, kunjungan ke Ranu Regulo masih diperbolehkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kebakaran Bromo pun belum bisa dianggap selesai hanya karena sejumlah titik sebelumnya berhasil dikendalikan. Api di Blok Jantur masih menjadi perhatian karena lokasinya sekitar 3 kilometer dari permukiman, sementara petugas terus memperkuat penyekatan dan pemantauan untuk mencegah api meluas. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
Buat kamu yang sudah punya rencana liburan ke Bromo, jangan buru-buru berangkat sebelum mengecek status terbaru TNBTS. Kawasan Gunung Bromo masih ditutup, sementara petugas masih fokus mengendalikan titik api dan mencegah kebakaran bergerak ke permukiman maupun lahan warga.









