Aktivitas Gunung Anak Krakatau Masih Terus Dipantau, Status Siaga Tetap Berlaku
astakom.com, Jakarta — Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berstatus Level III atau Siaga pada Selasa, (15/09/2026). Dalam pemantauan terbaru, gunung terpantau tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati, sementara aktivitas kegempaan masih terekam.
Melansir laporan Badan Geologi, kondisi GAK hari ini menunjukkan cuaca cerah hingga berawan dengan angin lemah menuju utara dan barat laut. Suhu udara berada pada kisaran 26,1–30,2 derajat Celsius dengan kelembapan 62–84 persen.
Perkembangan aktivitas tersebut juga menjadi perhatian tim SAR yang memasuki hari kedelapan pencarian rombongan jurnalis dan kru kapal yang hilang kontak di Selat Sunda.
Melansir dari media nasional, Basarnas menjadikan aktivitas GAK sebagai salah satu pertimbangan keselamatan dalam operasi pencarian.
Kondisi GAK hari ini
Dalam pengamatan 15 September, Badan Geologi mencatat dua kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 6–7 milimeter dan durasi 3–5 detik.
Selain itu, terekam satu kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 7 milimeter dan durasi enam detik. Badan Geologi juga mencatat satu kali Tremor Menerus dengan amplitudo 1–10 milimeter dan dominan 2 milimeter.
Meski asap kawah tidak teramati karena gunung tertutup kabut, aktivitas kegempaan tersebut menunjukkan pemantauan terhadap GAK masih terus dilakukan.
Kondisi ini sejalan dengan laporan Basarnas pada hari yang sama. Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten Rizky Dwianto mengatakan informasi dari PVMBG menjadi pedoman tim dalam menjalankan operasi.
"Informasi perihal aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersumber dari PVMBG kami jadikan pedoman. Pengamatan visual menunjukkan gunung tertutup kabut, sementara pengamatan kegempaan mencatat terjadi gempa vulkanik dangkal dengan tremor secara terus-menerus," jelasnya.
Status Siaga tetap berlaku
Status GAK hingga 15 September masih berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi meminta masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki tidak memasuki ataupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya berupa awan panas, lava, lontaran batu pijar, hingga hujan abu lebat.
Badan Geologi turut mengimbau masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung agar tetap tenang dan tidak mempercayai isu mengenai erupsi GAK yang disebut akan menyebabkan tsunami.
"Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat," ujar Badan Geologi.
Status Siaga ini merupakan kelanjutan dari aktivitas vulkanik GAK sejak awal September. Badan Geologi sebelumnya mencatat episode erupsi menerus berlangsung sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026.
Aktivitas masih dipantau
Setelah erupsi menerus tersebut berakhir, aktivitas GAK kembali menunjukkan karakter erupsi Strombolian. Hingga evaluasi 11 September 2026, tercatat 14 kali erupsi Strombolian.
Meski aktivitas erupsi permukaan mengalami penurunan, GAK masih aktif dan pemantauan tetap dilakukan. Karena itu, masyarakat diminta menjadikan informasi dari lembaga resmi sebagai acuan, terutama terkait status gunung dan potensi bahaya di sekitarnya.
Aktivitas GAK juga menjadi pertimbangan dalam operasi SAR hari kedelapan. Rizky menegaskan kondisi vulkanik perlu diperhitungkan untuk menjaga keselamatan personel yang melakukan pencarian di Selat Sunda.
"Hal-hal ini yang perlu antisipasi demi keselamatan tim SAR gabungan dalam melaksanakan pencarian," ujarnya di Posko Utama SAR Nasional, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa.
Selain aktivitas gunung, tim SAR turut menggunakan analisis cuaca BMKG sebagai acuan. Perairan Selat Sunda pada saat itu terpantau berawan dengan tinggi gelombang 0,5–2,5 meter dan kecepatan angin sekitar 5–20 knot.
Dengan kondisi tersebut, Gunung Anak Krakatau masih berada dalam pemantauan dan status Level III atau Siaga tetap berlaku. Masyarakat di sekitar Banten dan Lampung tidak perlu panik, tetapi tetap perlu mengikuti perkembangan dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
GAK memang sudah melewati erupsi menerus pada awal September, tetapi aktivitas kegempaan masih tercatat hingga 15 September. Jadi, tetap tenang, jangan termakan isu, dan jadikan update resmi sebagai pegangan.









