Pompanisasi Bantu Petani Cirebon Hadapi Kemarau dan Jaga Sawah Tetap Produktif
astakom.com, Jakarta – Musim kemarau mulai bikin urusan pengairan sawah di sejumlah wilayah Cirebon jadi tantangan tersendiri. Saat sumber air menyusut, petani harus mencari cara agar lahan tetap mendapat pasokan air dan tanaman padi tidak berujung gagal panen.
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan petani di Kecamatan Arjawinangun dan Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Namun, persoalan itu kini mulai mendapat solusi lewat bantuan pompanisasi dari Kementerian Pertanian (Kementan).
Melansir dari keterangan resmi yang diterima astakom.com pada, Jumat, (11/09/2026), bantuan tersebut menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pompa digunakan untuk membantu mengalirkan air ke area persawahan yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pasokan saat memasuki musim tanam kedua.
Ratusan hektare terancam kering
Di dua kecamatan tersebut, sekitar 390 hektare lahan pertanian sebelumnya menghadapi ancaman kekeringan ketika musim tanam kedua dimulai.
Para petani selama ini mengandalkan air dari Sungai Rentang yang berada di Kabupaten Majalengka. Jarak sumber air dengan area persawahan mencapai sekitar 1.500 meter sehingga proses pengairan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Situasi makin tricky karena embung yang selama ini ikut menjadi sumber air bagi petani mengalami kebocoran. Artinya, petani harus mencari alternatif lain agar kebutuhan air untuk sawah tetap aman.
Kehadiran pompa bantuan pemerintah kemudian menjadi opsi baru untuk mengatasi persoalan tersebut. Teknologi yang digunakan juga bukan sekadar pompa biasa karena mengandalkan sistem energi hybrid.
Pada siang hari, pompa memanfaatkan energi matahari dari panel surya. Sementara saat malam, pengoperasiannya menggunakan listrik.
Skema tersebut membuat pompa dapat beroperasi dengan lebih efisien sekaligus membantu mengurangi beban biaya pengairan yang harus ditanggung petani.
Air lebih deras, biaya lebih ringan
Salah satu petani, Mashudi, mengatakan persoalan air memang menjadi tantangan tersendiri bagi sawah di wilayahnya, terutama ketika memasuki musim tanam kedua.
“Untuk kondisi lapangan, khususnya sawah di wilayah kami ini kan notabene tadah hujan. Untuk setiap tahunnya memang belum pernah yang namanya puso atau gagal panen. Hanya saja untuk musim tanam kedua, itu sangat besar biayanya. Karena harus mengambil air dari sungai itu sekitar 1.500 meter,” ucap Mashudi, ditulis Jumat (11/9/2026).
Menurut Mashudi, kebocoran embung turut membuat persoalan pengairan semakin berat. Setelah pompa hybrid bantuan pemerintah hadir, kondisi tersebut mulai berubah karena mesin mampu menghasilkan aliran air dengan debit yang cukup besar.
“Sekarang, dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, pompanisasi yang terbaru di 2026, yang hybrid itu alhamdulillah bisa menghasilkan air yang begitu deras,” katanya.
Pompa tersebut memiliki kemampuan mengalirkan air sekitar 36 ribu liter per jam. Dengan kapasitas itu, kebutuhan air untuk lahan pertanian bisa lebih terjaga selama musim kemarau.
Bukan cuma soal ketersediaan air, bantuan tersebut juga berdampak pada rencana pengeluaran petani. Sebelum mendapat bantuan, petani sempat menyiapkan opsi memasang pompa secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan pengairan.
Namun, rencana tersebut akhirnya tidak perlu dilakukan setelah bantuan pompanisasi pemerintah diterima.
“Dengan adanya pompanisasi ini, alhamdulillah yang kemarin rencananya petani itu mau memasang pompa swadaya, dan tidak jadi setelah ada bantuan ini. Alhamdulillah, terima kasih sekali,” ujar Mashudi.
Dengan pasokan air yang lebih aman, Mashudi juga melihat peluang peningkatan hasil produksi ketika masa panen tiba.
“Dengan adanya bantuan pompanisasi ini, pasti nanti akan ada peningkatan tonase ketika panen, pasti,” jelasnya.
Petani berharap panen aman
Dampak persoalan kekeringan juga dirasakan petani di Blok Kayen, Desa Susukan. Kepala Desa Susukan Saefudin Adriansyah menyebut area pertanian di wilayah tersebut memiliki luas sekitar 309 hektare.
Selama hampir dua tahun, kawasan itu menghadapi masalah kekeringan ketika memasuki musim tanam kedua. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat petani menghadapi risiko gagal panen.
“Kalau luas pertanian di daerah Blok Kayen, Desa Susukan, itu kurang lebih 309 hektare. Dan selama ini hampir dua tahun itu ketika musim tanam kedua memang mengalami kekeringan dan gagal panen,” ujar Saefudin.
Menurut Saefudin, bantuan pompanisasi diharapkan bisa membuat persoalan pasokan air tidak lagi menjadi hambatan utama bagi petani ketika memasuki musim tanam.
Dengan dukungan pengairan tersebut, petani diharapkan dapat menjalankan musim tanam pertama maupun kedua dengan kondisi air yang lebih terjamin.
“Nah, untuk itu dengan adanya bantuan ini, insyaallah baik masa tanam satu maupun tanam dua, insyaallah air terpenuhi,” katanya.
Buat petani Cirebon, pompanisasi ini bukan cuma soal hadirnya mesin baru di area persawahan. Bantuan tersebut menjadi salah satu penopang agar lahan tetap produktif ketika musim kemarau datang, sekaligus membantu menekan biaya yang sebelumnya harus dikeluarkan untuk mengalirkan air dari sumber yang cukup jauh. (deA/RaM)
Gen Z takeaway
Kemarau memang bikin tantangan pengairan makin nyata, tetapi teknologi pompa hybrid memberi opsi baru agar sawah tetap mendapat air, biaya petani lebih terkendali, dan target panen tetap punya peluang untuk dijaga.









