Inklusi Keuangan Syariah Baru 13%, Airlangga Spill RI Punya Potensi Besar

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Sabtu, 12 September 2026 | 11:32 WIB
Inklusi Keuangan Syariah Baru 13%, Airlangga Spill RI Punya Potensi Besar
Inklusi Keuangan Syariah Baru 13%, Airlangga Spill RI Punya Potensi Besar [Dok. Kemenko Perekonomian]

astakom.com, Jakarta - Pemerintah gaspol untuk memperkuat pengembangan ekonomi syariah. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar nyata buat mewujudkan pembangunan ekonomi yang inklusif sekaligus berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi kalau diliat-liat dari datanya, ternyata ada gap yang lumayan gede antara tingkat pemahaman masyarakat dengan penggunaan layanan syariah secara riil di lapangan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membeberkan realita lapangan terkait angka-angka di sektor ini. Airlangga ngespill kalau tingkat inklusi keuangan syariah ternyata masih stuck di kisaran 13 persen. Padahal kalau ngomongin soal tingkat literasi atau pemahamannya, angkanya udah terbilang oke karena udah nembus lebih dari 43,07 persen.

Perbandingan ini makin ketara kontras banget waktu dibandingin sama sektor keuangan konvensional. Inklusi di sektor konvensional itu udah gede banget sampai menyentuh angka 93,53 persen.

Potensial buat dijangkau lagi

Melihat fakta statistik ini, Airlangga menilai ada ruang gerak yang super luas buat digarap lebih dalam lagi ke depannya di sektor keuangan syariah.

“Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang besar untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah, terutama di perdesaan, sektor pertanian, dan UMKM,” kata Airlangga dalam Simposium Sumbangan Ekonomi Pancasila, Ekonomi Islam, dan Ekonomi Konvensional: Menuju Pembangunan Indonesia yang Berkeadilan Sosial, di Jakarta, dikutip astakom.com Jumat (10/09/2026).

Game plan terstruktur

Buat mengejar ketertinggalan itu, pemerintah udah nyiapin game plan yang terstruktur. Penguatan ini fokus dilakukan lewat berbagai saluran strategis, mulai dari perluasan inklusi keuangan syariah, kemudahan akses pembiayaan, pengembangan industri halal yang masif, sampai optimalisasi seluruh potensi keuangan berbasis syariah.

Di ranah pembiayaan, pemerintah terus ngegas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Syariah. Target utamanya adalah supaya skema ini bisa dijangkau secara lebih luas oleh para pelaku usaha, terutama deretan UMKM yang jadi tulang punggung ekonomi.

Perbankan syariah diperkuat

Selanjutnya, kapasitas perbankan syariah juga terus dipoles dan diperkuat biar bisa maksimal dalam menyokong pembiayaan produktif serta menggerakkan roda ekonomi warga lokal.

Nggak cuma ngebahas soal pembiayaan modal usaha, pemerintah juga ngeliat ada potensi raksasa yang datangnya dari sektor instrumen keuangan sosial Islam, yaitu zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Biar dampaknya makin terasa ke masyarakat luas, koordinasi dan konsolidasi antarlembaga terkait wajib banget diperketat biar nggak jalan sendiri-sendiri.

Gaspol industri halal

Pengembangan ekosistem ini makin lengkap dengan adanya dorongan kuat pada industri halal. Caranya adalah dengan terus melancarkan program sertifikasi halal dan mendongkrak kapasitas operasional UMKM. Fokus utamanya ada pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), tata kelola yang makin profesional, serta sinergi yang makin rapat antara pelaku UMKM dan industri keuangan syariah.

Soal penerapan ekosistem yang udah mateng dan berjalan solid, Airlangga menyoroti Provinsi Aceh sebagai salah satu percontohan yang patut diacungi jempol.

Dalam konteks pengembangan ekosistem syariah, Airlangga mencontohkan Provinsi Aceh sebagai salah satu model pengembangan keuangan syariah. Ekosistem di Aceh menunjukkan sinergi antara perbankan, lembaga keuangan nonbank, dan keuangan sosial lewat Baitul Mal yang dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain.

Sinergi lintas lini seperti yang ada di Aceh terbukti berhasil menciptakan iklim ekonomi berbasis syariah yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Peluang emas buat perekonomian nasional

Melihat potensi yang ada, peluang ekonomi syariah buat tumbuh mekar di Indonesia sebenarnya terbuka sangat lebar. Dukungan dari aset keuangan yang jumbo, saluran pembiayaan yang makin terbuka, hingga pasar produk halal yang terus membesar bakal jadi fondasi yang sangat kokoh.

“Dengan potensi aset keuangan syariah, pembiayaan, industri halal, serta keuangan sosial yang besar, ekonomi syariah memiliki ruang yang semakin luas untuk memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Penguatan ekosistem tersebut juga diharapkan dapat memperluas akses masyarakat dan meningkatkan peran UMKM dalam perekonomian,” ungkapnya.

Ekonomi syariah Indonesia punya peluang gede, tapi ada satu plot twist: literasi keuangan syariah sudah 43,07%, sementara inklusinya baru sekitar 13%. Pemerintah pun gaspol memperluas akses lewat KUR Syariah, penguatan perbankan syariah, optimalisasi ZISWAF, dan pengembangan industri halal. Aceh jadi salah satu contoh ekosistem syariah yang sudah terintegrasi dan bisa direplikasi daerah lain. Intinya, pemahamannya sudah naik level, sekarang akses dan pemakaiannya yang perlu ikut gaspol. (Shnty?RaM)

Gen Z Takeaway

Ekonomi syariah Indonesia sebenarnya punya potensi gede, tapi ada plot twist: literasinya sudah tembus 43,07%, sementara inklusinya masih sekitar 13%. Artinya, masyarakat makin paham, tapi akses dan penggunaan layanan keuangan syariah belum ikut gaspol. Pemerintah pun dorong KUR Syariah, perbankan syariah, ZISWAF, dan industri halal, dengan Aceh jadi salah satu contoh ekosistem yang sudah terintegrasi. Intinya, ilmunya sudah naik level, sekarang aksesnya yang perlu menyusul.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Inklusi Keuangan Keuangan Syariah Perbankan Syariah Ekonomi Syariah

Infografis

Terkini