Spill Serba-serbi Asian Games: Sejarah, Pengertian, dan Perjalanan Prestasi Indonesia di Pesta Olahraga Asia
astakom.com, Jakarta - Asian Games bukan sekadar ajang olahraga yang mempertemukan atlet dari berbagai negara di Asia. Tapi di balik pertandingan, medali, dan persaingan di arena, ada sejarah panjang yang membuat pesta olahraga ini jadi salah satu event olahraga terbesar di kawasan Asia.
Setiap empat tahun, atlet dari puluhan negara datang dengan satu misi, yakni membawa pulang medali dan mengharumkan nama negaranya. Perhatian publik Asia biasanya tertuju pada satu panggung yang sama.
FYI, Indonesia pun punya cerita panjang di dalamnya. Sejak Asian Games pertama pada 1951, Indonesia sudah ikut ambil bagian. Bahkan, Indonesia tercatat dua kali menjadi tuan rumah, yaitu pada 1962 dan 2018.
Hasilnya nggak kaleng-kaleng, dua kesempatan menjadi tuan rumah itu juga menghasilkan cerita yang berbeda. Pada 1962, Indonesia sukses finis di posisi kedua. Sementara pada 2018, ketika Asian Games kembali digelar di Jakarta dan Palembang, Indonesia mencatat salah satu prestasi terbaik sepanjang sejarah dengan mengoleksi 31 medali emas.
Oke, terus sebenarnya apa itu Asian Games? Bagaimana sejarahnya? Yuk kita spill dari awal.
Apa itu Asian Games?
Singkatnya nih, Asian Games adalah pesta olahraga yang mempertemukan atlet dari berbagai negara di Asia. Disebut multievent karena cabang yang dipertandingkan nggak cuma satu, tapi banyak banget, mulai dari atletik, renang, bulu tangkis, sepak bola, basket, hingga angkat besi.
Penyelenggaraannya berada di bawah Olympic Council of Asia atau OCA, organisasi yang menaungi gerakan Olimpiade di kawasan Asia.
Karena skalanya besar, Asian Games juga jadi salah satu tolok ukur kekuatan olahraga negara-negara Asia. Buat atlet, medali bukan sekadar angka di klasemen, tapi bukti hasil kerja keras dan pembinaan yang sudah dijalani.
FYI, di balik satu medali ada proses panjang. Mulai dari pelatih, fasilitas, sport science, dukungan pemerintah, sampai strategi federasi. Jadi, Asian Games bukan cuma soal bertanding dan naik podium, tapi juga soal seberapa siap sebuah negara membangun olahraga dan atletnya.
Buat negara, Asian Games juga bisa menjadi panggung untuk menunjukkan kemampuan penyelenggaraan event olahraga internasional. Jadi, jangan bayangkan Asian Games hanya soal atlet masuk arena, bertanding, lalu pulang membawa medali.
Di belakangnya ada sistem pembinaan, pelatih, fasilitas olahraga, sport science, dukungan pemerintah, federasi olahraga, hingga strategi masing-masing negara untuk mempersiapkan atlet terbaiknya.
Awal sejarah Asian Games dimulai
Kalau ditarik ke belakang, Asian Games ternyata punya perjalanan yang cukup panjang. Sebelum ajang ini lahir, negara-negara Asia sudah lebih dulu punya kompetisi olahraga regional, salah satunya Far Eastern Championship Games yang pertama digelar di Manila, Filipina, pada 1913.
Dari sini, ide untuk membuat kompetisi olahraga yang melibatkan lebih banyak negara Asia mulai berkembang. Apalagi setelah Perang Dunia II berakhir, muncul keinginan untuk punya satu ajang yang bisa mempertemukan atlet dari berbagai negara di kawasan Asia.
Momentum pentingnya terjadi pada 1948 saat Olimpiade London berlangsung. Perwakilan negara-negara Asia mulai membahas gagasan untuk membentuk kompetisi olahraga tingkat Asia.
Pembahasan itu terus berlanjut hingga akhirnya Asian Games Federation terbentuk pada 1949. Nah, dua tahun kemudian, sejarah baru resmi dimulai.
Asian Games pertama digelar di New Delhi, India, pada 4–11 Maret 1951. Saat itu, 11 National Olympic Committees atau NOC ikut berpartisipasi. Total ada 489 atlet yang bertanding dalam 12 cabang olahraga dengan 57 nomor pertandingan. Kalau dibandingkan dengan Asian Games sekarang, skalanya memang masih jauh lebih kecil.
Tapi dari sinilah semuanya bermula. Dari ajang yang awalnya sederhana, Asian Games terus berkembang hingga menjadi salah satu pesta olahraga terbesar di kawasan Asia.
Maskot dan deretan negara yang jadi peserta
Sejak Asian Games tahun 1982 di New Delhi, India, Pesta Olahraga Asia Asian Games secara rutin memiliki maskotnya sendiri, biasanya berupa fauna asli milik negara tuan rumah atau figur manusia yang menggambarkan warisan budayanya.
Semua 45 anggota yang menjadi berafiliasi kepada Dewan Olimpiade Asia dapat ikut serta dalam ajang Asian Games termasuk Indonesia.
Berdasarkan keanggotaan di Dewan tersebut, negara lintas-benua seperti Kazakhstan dapat turut serta dalam Asian Games tapi tidak dengan Mesir yang masuk ke Pesta Olahraga Afrika walaupun sebagian kecil kawasannya masuk ke Asia, yakni daerah Sinai.
Berbagai negara lainnya juga ikut serta di Pesta Olahraga Eropa kendati wilayah geografisnya sebagian besar berlokasi di benua Asia yakni Turki dan Rusia atau Uni Soviet, yang nyaris semuanya berada di benua Asia seperti Azerbaijan dan Georgia; atau yang seluruhnya berada di benua Asia: Siprus, Armenia, Israel.
Ikut dari awal hingga jadi tuan rumah
Indonesia bukan pendatang baru dalam sejarah Asian Games. Kontingen Merah Putih sudah berpartisipasi sejak penyelenggaraan pertama di New Delhi pada 1951.
Kala itu, Indonesia belum mampu membawa pulang medali emas maupun perak. Kontingen Indonesia mengoleksi lima medali perunggu dan berada di posisi ketujuh klasemen medali.
Meski belum langsung menjadi kekuatan utama, keikutsertaan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Indonesia di Asian Games.
Dari satu edisi ke edisi berikutnya, Indonesia mulai membangun reputasi sebagai salah satu negara yang punya atlet kompetitif di sejumlah cabang olahraga. Perjalanan tersebut kemudian mencapai salah satu titik penting pada 1962.
Pada 1962, Indonesia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games. Jakarta dipercaya jadi lokasi penyelenggaraan Asian Games keempat.
Ini bukan sekadar event olahraga biasa bagi Indonesia. Pada masa itu, Asian Games juga memiliki nilai strategis dan simbolis yang besar.
Indonesia ingin menunjukkan bahwa negara yang baru merdeka tersebut mampu menjadi tuan rumah event olahraga internasional berskala besar.
Hasilnya cukup spektakuler, Indonesia tampil sebagai salah satu kekuatan utama dan berhasil mengoleksi 11 medali emas. Dengan total 51 medali, Indonesia finis di posisi kedua klasemen akhir, hanya berada di bawah Jepang.
Asian Games 1962 juga ikut mendorong pembangunan berbagai fasilitas olahraga di Jakarta. Salah satu warisan paling ikonik dari periode tersebut adalah kompleks olahraga Gelora Bung Karno.
Artinya, Asian Games pada masa itu meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada sekadar hasil pertandingan.
Asian Games bukan cuma soal medali
Seiring berjalannya waktu, Asian Games berkembang semakin besar. Jumlah negara peserta bertambah, jumlah cabang olahraga meningkat, dan persaingan antarnegara menjadi semakin ketat.
Negara-negara seperti Jepang, China, Korea Selatan dan kemudian India berkembang menjadi kekuatan besar dalam olahraga Asia.
China mulai menunjukkan dominasinya pada Asian Games 1982 di New Delhi. Pada edisi tersebut, China untuk pertama kalinya menempati posisi teratas klasemen medali.
Sejak saat itu, China berkembang menjadi salah satu kekuatan paling dominan dalam sejarah Asian Games. Persaingan tersebut membuat negara-negara lain harus terus melakukan pembenahan.
Bukan hanya mencari atlet berbakat, tetapi juga memperkuat sistem pembinaan sejak usia muda, meningkatkan kualitas pelatih, memanfaatkan sport science, memperbaiki fasilitas, serta menyiapkan atlet agar mampu tampil konsisten dalam kompetisi internasional.
Indonesia juga menghadapi tantangan yang sama. Kalau hanya melihat tabel klasemen, Asian Games memang terlihat seperti perlombaan siapa yang paling banyak mengumpulkan emas.
Tapi ternyata maknanya luas banget. Asian Games menjadi ruang pertemuan negara-negara Asia melalui olahraga. Mereka berkompetisi, tetapi pada saat yang sama juga berinteraksi dengan atlet dari negara lain.
Ada juga unsur budaya. Setiap negara membawa identitas dan budaya masing-masing ke dalam penyelenggaraan Asian Games. Karena itu, ajang ini juga menjadi kesempatan bagi negara tuan rumah untuk memperkenalkan budaya, pariwisata, kuliner, teknologi, hingga berbagai potensi lainnya.
Cabor yang jadi andalan Indonesia
Kalau berbicara mengenai peluang Indonesia di Asian Games, ada sejumlah cabang olahraga yang selama ini menjadi perhatian.
Bulu tangkis jelas menjadi salah satu yang paling dikenal. Indonesia memiliki tradisi panjang di olahraga tepok bulu tersebut, baik di level Asian Games maupun Olimpiade dan kejuaraan dunia.
Selain bulu tangkis, ada angkat besi yang juga memiliki tradisi prestasi kuat. Panjat tebing juga semakin mendapat perhatian setelah prestasi atlet-atlet Indonesia di berbagai kompetisi internasional. Pencak silat pun menjadi salah satu cabang yang sangat identik dengan Indonesia.
Namun, mengandalkan beberapa cabang olahraga saja tentu tidak cukup. Jika ingin memperbaiki posisi di klasemen, Indonesia membutuhkan kontribusi dari banyak cabang. Setiap tambahan medali emas bisa sangat berharga karena persaingan di papan klasemen biasanya sangat ketat.
Asian Games juga memiliki fungsi penting sebagai salah satu bagian dari ekosistem pembinaan atlet. Atlet yang tampil di Asian Games tidak semuanya langsung menjadi bintang dunia.
Sebagian justru menggunakan pengalaman tersebut sebagai proses belajar sebelum naik ke kompetisi yang lebih tinggi. Bertanding melawan atlet dari China, Jepang, Korea Selatan, India atau negara kuat lainnya memberikan pengalaman yang tidak bisa didapat hanya melalui latihan.
Atlet bisa belajar menghadapi tekanan, membaca pertandingan, menjaga fokus dan beradaptasi dengan lawan yang memiliki gaya bermain berbeda.
Karena itu, hasil Asian Games seharusnya tidak hanya dilihat dari berapa emas yang diperoleh. Ada pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana performa tersebut menjadi bahan evaluasi untuk pembinaan atlet di masa depan?
Pertanyaan itu menjadi bagian penting dari evaluasi olahraga nasional agar lebih bisa maju lagi. (hPs/aNs)
Gen Z Takeaway
Asian Games itu bukan sekadar ajang adu medali, tapi pesta olahraga terbesar di Asia yang mempertemukan atlet dari berbagai negara. FYI, ajang ini pertama kali digelar di New Delhi, India, pada 1951 dan Indonesia sudah ikut sejak edisi perdana. Indonesia juga punya sejarah epic sebagai tuan rumah, dari finis kedua pada 1962 sampai mencetak 31 emas dan peringkat ke-4 pada Asian Games 2018. Setelah Hangzhou 2023, next tantangannya adalah Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang. Kali ini Indonesia menyiapkan 432 atlet dari 35 cabang olahraga dengan target minimal empat medali emas. Jadi, bukan cuma soal siapa yang paling banyak bawa pulang emas, Asian Games juga jadi ajang pembuktian seberapa kuat olahraga Indonesia bisa bersaing di level Asia.









