Kemenkes Ungkap 68.919 Kasus ISPA Terkait Paparan Abu Gunung Anak Krakatau
astakom.com, Jakarta – Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan cuma bikin wilayah sekitar berhadapan dengan sebaran abu vulkanik. Dampaknya juga ikut terlihat dari sisi kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 68.919 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah yang terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Pembaruan tersebut disampaikan Juru Bicara Kemenkes Widyawati dalam konferensi pers di Gedung BNPB, Jakarta Timur, Kamis (10/9/2026). Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota yang terdampak sebaran abu vulkanik. Data 68.919 kasus ini merupakan angka kumulatif, bukan jumlah kasus yang seluruhnya muncul dalam satu hari.
Puluhan ribu kasus ISPA
Dari total tersebut, Kemenkes mencatat 54.480 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Sementara itu, sebanyak 14.439 kasus tercatat pada anak usia 0–5 tahun.
Dalam pembaruan yang disampaikan pada Kamis (10/9/2026), Widyawati juga menyebut terdapat 17.780 kasus ISPA yang tercatat pada 8 September 2026. Angka tersebut menjadi bagian dari akumulasi kasus yang dipantau pemerintah di wilayah terdampak abu vulkanik.
“Situasi ISPA pada wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, laporan kasusnya terkini adalah ada 68.919 kumulatif kasus ISPA-nya,” ujar Widyawati dalam konferensi pers di Gedung BNPB pada Kamis (10/09/2026).
Artinya, angka 68.919 perlu dibaca sebagai total kumulatif kasus yang tercatat, bukan klaim bahwa seluruh kasus tersebut muncul dalam waktu bersamaan akibat satu kejadian paparan.
Abu vulkanik picu risiko
Paparan abu vulkanik menjadi perhatian karena partikel yang terbawa udara dapat memengaruhi saluran pernapasan. Dalam rilis resminya pada 7 September 2026, Kemenkes menjelaskan bahwa partikel halus seperti PM2,5 dapat masuk jauh ke paru-paru dan berpotensi memicu inflamasi serta gangguan kardiopulmonal.
Kemenkes juga mencatat adanya kecenderungan peningkatan kasus ISPA, khususnya di Banten, Lampung, dan Jawa Barat. Namun, pemerintah belum menemukan pola peningkatan pneumonia yang seragam di seluruh wilayah yang terdampak abu vulkanik.
Kelompok yang dinilai perlu mendapat perhatian lebih mencakup anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta masyarakat yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.
Pemantauan kualitas udara juga masih dilakukan. Dalam pembaruan Kemenkes pada 9 September, hasil pengukuran di sejumlah titik menunjukkan konsentrasi PM2,5 masih berada di atas batas aman. Salah satunya tercatat di area luar ruangan Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta dengan angka 63 µg/m³, sementara batas aman PM2,5 disebut sebesar 25 µg/m³.
Fasilitas kesehatan disiagakan
Kemenkes tidak hanya memantau perkembangan kasus, tetapi juga memperkuat kesiapan layanan kesehatan di wilayah terdampak. Dalam keterangan resmi 7 September, Kemenkes menyebut telah menyiagakan 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota.
Pemerintah juga menyiapkan pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, ambulans, hingga layanan Public Safety Center (PSC) 119. Dukungan logistik berupa lebih dari 100.000 masker N95 dan masker medis, kacamata pelindung, obat-obatan, serta alat kesehatan turut dimobilisasi ke wilayah terdampak.
Kesiapsiagaan tersebut berjalan bersamaan dengan pemantauan kualitas udara. Kemenkes menyebut pengukuran partikulat dilakukan secara berkala untuk melihat kondisi PM2,5 dan PM10 di sejumlah lokasi terdampak.
Kurangi paparan abu
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat di wilayah yang masih terdampak abu vulkanik diminta tidak menganggap paparan abu sebagai hal sepele. Kemenkes menganjurkan masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara belum baik dan tetap mengikuti informasi resmi terkait perkembangan erupsi maupun kualitas udara.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan masker N95, KN95, KF94, FFP2, atau jenis yang setara. Kemenkes juga menyarankan penggunaan pelindung mata, pakaian tertutup, serta membersihkan tubuh dan mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar ruangan.
Masyarakat yang mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan kesehatan setelah terpapar abu juga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Kemenkes sendiri terus memperbarui pemantauan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat. Pemerintah juga mengimbau warga mengikuti informasi dari lembaga resmi seperti PVMBG, BMKG, BNPB, dan BPBD agar langkah perlindungan dapat disesuaikan dengan kondisi terbaru di lapangan. (deA/aNs)
Gen Z takeaway
Angka 68.919 kasus ISPA ini merupakan data kumulatif di wilayah terdampak abu vulkanik, jadi bukan berarti sebanyak itu kasus baru muncul dalam satu hari. Meski begitu, paparan abu tetap perlu diwaspadai. Kalau kualitas udara belum aman, kurangi aktivitas outdoor, pakai masker yang sesuai, dan jangan skip update resmi pemerintah.









