Wamen ESDM Spill EBT Bisa Bikin Listrik Lebih Murah, Industri Makin Kompetitif
astakom.com, Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot nge-spill kalau harga energi di negara lain yang pakai energi baru terbarukan atau EBT dengan kapasitas yang besar justru relatif lebih murah.
Yuliot membandingkan negara yang menggunakan energi fosil atau dominan pakai energi fosil justru kena tarif lebih mahal dibandingkan dengan yang menggunakan EBT.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan pemanfaatan EBT nggak cuma berkaitan dengan transisi energi, tetapi juga berdampak pada harga listrik dan daya saing industri.
Industri terdongkrak tumbuh
Dia juga menjelaskan kalau harga energi di suatu negara bisa ditekan lebih murah, maka industri bakal cepat bertumbuh.
"Negara-negara yang memanfaatkan energi baru terbarukan dengan kapasitas yang cukup besar harga energinya itu justru sangat rendah. Sementara negara-negara yang lebih dominan menggunakan bahan bakar yang tidak terbarukan, itu justru harga energinya relatif lebih besar," ujar Yuliot dalam paparannya kepada media, dikutip astakom.com pada Kamis (03/09/2026).
Keterkaitan ketersediaan energi dengan industri
Lebih lanjut, Yuliot ngasih contoh kayak di negara Pakistan. Dia menyebutkan kalau kapasitas terpasang listrik Pakistan sekitar 50 GW. Dari kapasitas tersebut, sekitar 17 GW berasal dari PLTN dan lebih dari 17 GW berasal dari PLTA.
Selanjutnya, Yuliot menyebut harga listrik yang dijual kepada masyarakat Pakistan relatif rendah, yakni sekitar USD0,06 per kWh.
"Dengan murahnya harga listrik di Pakistan, industri-industri manufaktur di Pakistan itu justru dikerjakan oleh masyarakat, skalanya adalah usaha mikro kecil," jelasnya.
Menurutnya, kondisi itu menunjukkan keterkaitan antara ketersediaan energi dengan aktivitas ekonomi dan industri. Dengan harga energi yang lebih murah, masyarakat bisa mengembangkan kegiatan manufaktur termasuk usaha berskala kecil.
Energi kuat, berdaya saing kuat
Dia juga nge-spill kondisi energi di China. Industri high-tech di China dapat harga listrik khusus yang berada di tarif sekitar USD0,04 per kWh. Kondisi inilah yang bikin manufaktur di China tumbuh lebih pesat.
Harga listrik tersebut jauh lebih murah dibandingkan dengan di Indonesia. Harga listrik di Indonesia sendiri saat ini berada di kisaran USD0,08 per kWh.
"Sehingga daya saing industri China untuk produksi-produksi yang sifatnya masif itu justru lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain," katanya. (Shnty/RaM/aNs)
Gen Z Takeaway
Wamen ESDM Yuliot bilang EBT bukan cuma soal transisi energi, tapi juga bisa bikin listrik lebih murah dan industri makin kompetitif. Ia mencontohkan Pakistan yang tarif listriknya sekitar USD0,06/kWh dan China yang memberi tarif khusus industri high-tech sekitar USD0,04/kWh, lebih rendah dibanding Indonesia sekitar USD0,08/kWh. Intinya, energi murah bisa jadi booster buat pertumbuhan manufaktur dan usaha kecil.









