Ekspor Naik, Neraca Dagang RI Juli 2026 Balik Surplus USD120 Juta

Penulis: Shintya
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 2 September 2026 | 21:29 WIB
Ekspor Naik, Neraca Dagang RI Juli 2026 Balik Surplus USD120 Juta
Ekspor Naik, Neraca Dagang RI Juli 2026 Balik Surplus USD120 Juta [astakom/str-Ahmad Khusaini]

astakom.com, Jakarta - Neraca perdagangan pada Juli 2026 mencatatkan surplus USD0,12 miliar atau setara dengan USD120 juta setelah sebelumnya mengalami defisit pada Mei dan Juni 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan di bulan itu surplus USD0,12 miliar atau USD120 juta. Laporan ini diikuti dengan ekspor pada Juli 2026 sebesar USD26,22 miliar atau naik 6,05 persen kalau dibandingin sama Juli 2025 atau dalam rentang tahunan (year-on-year).

Nilai ekspor migas dilaporkan mencapai USD0,79 miliar atau turun 14,58 persen, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 6,84 persen sebesar USD25,24 miliar.

Selanjutnya nilai impor Juli 2026 mencapai USD26,09 miliar atau naik 27,02 persen dibandingkan Juli 2025 (yoy). Nilai impor migas Juli 2026 mencapai USD3,77 miliar atau naik 23,83 persen (yoy). Peningkatan impor Juli 2026 dipush impor nonmigas dengan adil sebesar 20,91 persen.

Dipush komoditas nonmigas

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono bilang kalau surplus neraca perdagangan di bulan Juli 2026 didorong surplus pada komoditas nonmigas.

"Tercatat surplus komoditas nonmigas sebesar USD3,10 miliar. Komoditas penyumbang surplus nonmigas, terutama dari lemak dan minyak hewani nabati atau HS15, dari bahan bakal mineral HS27, dan juga dari besi dan baja HS72," kata Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, dikutip astakom.com pada Rabu (02/09/2026).

Migas defisit 

Sedangkan neraca perdagangan migas pada Juli 2026 mengalami defisit sebesar USD2,98 miliar dengan komoditas penyumbang defisit terutama dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah.

Sementara itu, neraca perdagangan secara kumulatif pada Januari sampai Juli 2026 mencatatkan surplus sebesar USD3,70 miliar. Surplus sepanjang Januari sampai dengan Juli 2026 terutama ditopang surplus nonmigasnya.

"Surplus nonmigas ini mencapai USD22,45 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit, yaitu defisitnya sebesar USD18,75 miliar," kata Ateng.

Penyumbang surplus

Dari komoditas migas dan non-migas, necara perdagangan total tiga negara ini menjadi penyumbang surplus terbesar, yaitu Amerika Serikat surplus sebesar USD10,48 miliar, India surplus sebesar USD7,80 miliar, dan yang ketiga Filipina surplus sebesar USD4,95 miliar.

Sedangkan tiga negara penyumbang defisit terdalam, yaitu China defisit sebesar USD16,95 miliar, Singapura defisit sebesar USD5,14 miliar, dan Australia defisit sebesar USD4,77 miliar.

Kelompok nonmigas tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu  Amerika Serikat surplus sebesar USD12,81 miliar, India surplus sebesar USD7,96 miliar, dan juga Filipina surplus sebesar USD4,72 miliar.

Selanjutnya, 3 negara penyumbang defisit terdalam pada kelompok non-migas, yaitu China defisit sebesar USD17,67 miliar. Australia defisit untuk kelompok nonmigas sebesar USD4,41 miliar dan Prancis defisit sebesar USD1,72 miliar. (Shnty/aNs)

Gen Z Takeaway

Neraca perdagangan Indonesia akhirnya balik surplus pada Juli 2026 sebesar USD120 juta, setelah sempat defisit dua bulan beruntun. Surplus ini terutama ditopang kinerja nonmigas, meski impor ikut naik cukup tinggi hingga 27,02% secara tahunan. Secara kumulatif Januari–Juli 2026, neraca perdagangan masih surplus USD3,70 miliar, dengan AS, India, dan Filipina jadi penyumbang surplus terbesar, sementara China jadi sumber defisit terdalam.

Neraca Perdagangan Surplus surplus perdagangan Ekspor Ekspor nonmigas

Infografis

Terkini