Palestina Desak Aksi Internasional Hentikan Pengepungan Tepi Barat oleh Israel
astakom.com, Jakarta – Eskalasi di Tepi Barat makin gak masuk akal. Palestina baru saja melayangkan desakan keras agar masyarakat internasional enggak cuma sekadar nonton, tapi benar benar ambil aksi nyata untuk menghentikan gelombang kekerasan.
Serangan dari tentara Israel dan kelompok pemukim ilegal di Al-Mughayyir, Tepi Barat, dilaporkan makin intensif dengan tujuan mengisolasi wilayah tersebut sekaligus memaksa warga lokal angkat kaki dari tanah kelahiran mereka.
Pengepungan mencekik
Dalam pernyataan resminya pada Sabtu (29/08/2026), Kementerian Luar Negeri Palestina membeberkan kalau Israel telah memberlakukan "pengepungan yang mencekik" terhadap kota yang terletak di timur laut Ramallah itu selama 20 hari terakhir.
Akses keluar-masuk kota dilaporkan ditutup rapat. Pihak Israel hanya memberikan jatah waktu yang sangat sempit bagi warga lokal untuk sekadar bergerak atau mengurus keperluan hidup. Menurut keterangan kementerian, warga hanya diizinkan keluar atau bergerak selama 2 jam setiap harinya.
Ambulans di-block
Tak berhenti di situ, tindakan berlebihan juga menyasar sektor kemanusiaan. Ambulans dilarang keras memasuki kawasan kota di tengah kondisi "sasaran secara membabi buta" atas warga sipil Palestina.
"Tindakan Israel ini merupakan upaya untuk mengisolasi dan mengepung kota secara militer dan ekonomi serta menggusur penduduknya," tutur kementerian tersebut dilansir dari Anadolu Ajansi pada Minggu (30/08/2026).
Kementerian Luar Negeri Palestina menilai kalau serangkaian aksi anarkis dan gempuran yang dilancarkan tentara Israel bersama kelompok pemukim di Tepi Barat bukanlah kejadian acak. Hal ini merupakan bagian dari skenario dan kebijakan sistematis untuk menciptakan realitas pembunuhan, teror, pengungsian paksa, serta merombak kondisi mendasar di lapangan.
Bukan sekadar kecaman
Melihat situasi yang makin darurat, Palestina menyerukan agar masyarakat internasional serta negara-negara di dunia tidak lagi terjebak dalam retorika atau sebatas kecaman verbal. Dunia diminta segera mengambil langkah konkret baik secara politik, hukum, maupun ekonomi yang bersifat mencegah, sekaligus memberikan perlindungan internasional yang nyata bagi rakyat Palestina.
Selain itu, kementerian mendesak pengaktifan yurisdiksi internasional buat mengadili para pelaku pelanggaran HAM, memblokir seluruh produk dari permukiman ilegal agar tidak bisa beredar di pasar internasional, hingga mengusut serta meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang memasok senjata, pendanaan, maupun bentuk dukungan apa pun kepada para pemukim ilegal.
Serangan kian masif
Wilayah Tepi Barat yang diduduki memang terus mengalami lonjakan serangan militer dan teror pemukim sejak konflik di Gaza meletus pada Oktober 2023 lalu.
Kondisi real di lapangan kian memprihatinkan. Pada Jumat (28/08/2026), tiga warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan brutal kelompok pemukim di Al-Mughayyir. Tragisnya, saat tim medis hendak menolong, pasukan Israel dan kelompok pemukim justru menahan ambulans yang berupaya membawa para korban luka ke rumah sakit. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Situasi di Tepi Barat makin enggak masuk akal dan udah masuk tahap emergency. Desa Al-Mughayyir dikepung rapat sampai warga cuma diizinkan gerak 2 jam sehari, bahkan ambulans pun di-block pas mau tolong korban luka. Palestina minta dunia stop cuma kirim thoughts and prayers atau sekadar ngecam, tapi harus langsung gas sanksi ekonomi, blokir produk permukiman ilegal, dan adili pihak yang terlibat biar ada efek jera.









