Buka Muktamar Ke-35 NU, Presiden Prabowo Kenalkan Istilah "Jas Hijau"

Penulis: Alfian Tegar
Editor: A. Cuwantoro
Jumat, 28 Agustus 2026 | 08:04 WIB
Buka Muktamar Ke-35 NU, Presiden Prabowo Kenalkan Istilah "Jas Hijau"
Presiden Prabowo Subianto menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/08/2026). [Timpres]

astakom.com, JakartaPresiden Prabowo Subianto, memperkenalkan istilah "Jas Hijau" sebagai bentuk penghormatan dan ajakan kepada masyarakat untuk tidak melupakan jasa para ulama dalam sejarah kemerdekaan serta pembangunan bangsa.

Pesan kebangsaan tersebut disampaikan saat beliau memberikan pidato sambutan pada pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis (27/8/2026).

"Kalau tidak salah Bung Karno ya, mengatakan 'Jas Merah', jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Saya ingin menyampaikan 'Jas Hijau', jangan sekali-kali melupakan jasa ulama,” ujar Presiden Prabowo.

Peran ulama mempertahankan kemerdekaan

Lebih lanjut, Presiden menyoroti signifikansi peran para ulama, kiai, dan pondok pesantren dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Kontribusi tersebut dinilai sangat krusial, terutama pada masa Pertempuran Surabaya yang berlangsung pada periode Oktober hingga November 1945.

Beliau menegaskan bahwa meskipun proklamasi kemerdekaan diikrarkan di Jakarta, ujian nyata atas kedaulatan negara tersebut terjadi dalam pertempuran di Surabaya.

"Dalam Pertempuran Surabaya, Oktober-November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar," ujarnya.

Apresiasi bagi pengabdian kiai kampung

Selain tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam sejarah, Kepala Negara juga memberikan apresiasi dan penghormatan yang mendalam kepada para ulama dan kiai di tingkat desa atau kampung.

Presiden Prabowo menilai mereka memegang peranan esensial dalam membina moral generasi muda, menjaga kerukunan masyarakat antarkelompok, dan menciptakan kedamaian di akar rumput secara tulus tanpa menuntut imbalan dari negara.

"Terima kasih kepada semua ulama, yang terkenal maupun Kiai-Kiai kampung, yang mungkin namanya tidak pernah masuk televisi. Tapi setiap hari menjaga akhlak anak-anak kita," kata Presiden Prabowo.

Sinergi pemerintah dengan organisasi keagamaan

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan bahwa stabilitas negara berbanding lurus dengan keutuhan dan sinergi organisasi keagamaan bersama pemerintah. Kesatuan bangsa akan senantiasa terjaga apabila organisasi seperti NU terus berdiri kokoh.

"NU kuat, artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berkhidmat, Indonesia bermartabat," ujarnya.

Setelah menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama termasuk para kiai, ibu dan nyai, serta para santri dan santriwati yang hadir, Presiden Prabowo mengakhiri pidatonya.

"Dirgahayu Nahdlatul Ulama," ungkap Presiden.

Pembukaan Muktamar ke-35 NU

Sebagai konteks, pembukaan Muktamar ke-35 NU tersebut diresmikan secara simbolis oleh Presiden Prabowo melalui pemukulan bedug.

Dalam prosesi pembukaan, Presiden didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi negara dan tokoh agama, di antaranya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua Panitia Muktamar Ke-35 NU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua Umum PBNU H. Yahya Cholil Staquf, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, serta Pengasuh PP Bahrul Ulum K.H. M. Hasib Wahab Hasbullah.

Muktamar ke-35 NU ini diselenggarakan pada 27 hingga 31 Agustus 2026. Forum permusyawaratan tertinggi bagi organisasi tersebut menjadi momentum konsolidasi strategis untuk merumuskan berbagai agenda internal organisasi sekaligus merespons isu-isu strategis kebangsaan secara komprehensif.

Gen Z Takeaway

Lewat istilah “Jas Hijau”, Presiden Prabowo mengajak publik mengingat kontribusi ulama, kiai, dan pesantren dalam menjaga kemerdekaan hingga kehidupan sosial hari ini. Pesannya relevan: sejarah bukan cuma soal tokoh besar, tetapi juga mereka yang konsisten merawat moral, kerukunan, dan persatuan dari akar rumput. Sinergi NU dan pemerintah pun dinilai penting untuk menjaga Indonesia tetap rukun dan bermartabat.

Muktamar NU Muktamar Ke-35 NU Presiden Prabowo Prabowo Subianto Ulama Nahdlatul Ulama

Infografis

Terkini