Bongkahan Es Cair Diduga Jadi Pemicu Banjir Bandang di Nepal

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: A. Cuwantoro
Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:39 WIB
Bongkahan Es Cair Diduga Jadi Pemicu Banjir Bandang di Nepal
Bongkahan Es Cair Diduga Jadi Pemicu Banjir Bandang di Nepal (Ilustrasi banjir gemini)

astakom.com, Jakarta – Hasil analisis awal citra satelit mendeteksi adanya longsoran es dahsyat dari gletser di ketinggian pegunungan. Longsoran ini memicu aliran air super deras yang menyapu bersih lembah di bawahnya.

Deteksi Satelit

Bencana banjir mematikan yang melanda Nepal pada Rabu, (26/8/2026), dipicu kuat terjadi akibat bongkahan es raksasa yang mendadak terlepas dari gletser. Bongkahan tersebut meluncur bebas jatuh ribuan kaki ke dasar lembah. Temuan ini diungkapkan oleh tim ahli geologi dan glasiologi.

Fenomena alam ekstrem ini dikenal dengan istilah longsoran es.

"Tampaknya sebuah gletser di wilayah tersebut patah secara bersih, sehingga jatuh sejauh lebih dari satu kilometer secara vertikal hingga ke dasar lembah," ungkap Daniel Shugar, seorang ahli geologi dari University of Calgary di Kanada yang meriset citra satelit buat memperdalam kejadian tersebut.

"Bagian bawahnya tampak seperti bekas ledakan bom, itu hanyalah tumpukan material dari gletser yang hancur," tutur Shugar, dilansir dari The New York Times, Kamis (27/8/2026).

Meski begitu, Shugar menegaskan masih terlalu dini untuk menutup kemungkinan adanya pemicu lain di balik musibah air bah ini.

Sedikitnya 157 orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan warga lainnya dinyatakan hilang di Nepal serta wilayah Tibet (Tiongkok) usai air bah menerjang lembah sungai pada Rabu pagi waktu setempat. Para ilmuwan menggarisbawahi bahwa lonjakan suhu akibat perubahan iklim bisa jadi mempercepat proses tumbangnya gletser tersebut. Namun, kepastian penyebab utamanya masih terus diteliti lebih lanjut.

Patah Bebas

Di kawasan Himalaya yang suhunya terus naik drastis, mencairnya gletser memang menciptakan ancaman baru yang bikin panik. Longsoran es hingga getaran seismik bisa memicu kehancuran hebat dengan melepaskan volume air bertekanan sangat tinggi.

“Pada Rabu, bongkahan es selebar sekitar 600 meter lepas secara bersih dari gletser,” ucap Dr. Shugar, mengirimkan campuran es dan air ke dasar lembah.

Berdasarkan kalkulasi tim ahli, bongkahan es super jumbo itu mendadak jatuh dari ketinggian sekitar 5.180 meter dan terjun bebas menyusuri lereng sejauh hampir 1.220 meter.

"Ini adalah bongkahan es besar yang tersimpan di ketinggian pegunungan, yang memiliki energi potensial sangat besar," ucap Simon Cook, seorang ahli glasiologi dari University of Dundee di Skotlandia yang turut serta dalam analisis data satelit tersebut.

Saat bongkahan tersebut lepas, lanjutnya, daya hantam raksasa dari jatuhan itu menghancurkan material es menjadi campuran cair yang bergerak sangat cepat.

"Es itu hancur lebur menjadi air," jelasnya.

Dari hasil pemetaan kelompok peneliti, titik keruntuhan gletser berada sekitar 40 mil di sebelah utara Kathmandu. Aliran es lalu menerjang ke arah barat laut melintasi lembah menuju Sungai Bhote Koshi, tepat di perbatasan antara Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok.

Dr. Cook menambahkan kalau fenomena longsoran es ini punya vibes kemiripan dengan musibah serupa di India pada 2021 silam. Kala itu, gletser di Himalaya mendadak runtuh dan memicu banjir bandang hebat di negara bagian Uttarakhand, India utara, hingga menelan lebih dari 100 korban jiwa.

Jejak Seismik

Kristen Cook, seorang ahli geomorfologi dari Université Grenoble Alpes di Prancis, menyebutkan kalau instrumen deteksi seismik di lokasi merekam adanya pergerakan massa raksasa yang meluncur mendadak menuruni lereng sekitar pukul 08.40 pagi waktu setempat. Pergerakan dahsyat itu langsung disulut oleh sinyal aliran deras yang menandai terjadinya banjir.

"Saya melihat sinyal yang cukup besar pada awal peristiwa, namun bentuknya tidak menyerupai gempa bumi," tegas Cook.

"Ketika kami menggabungkan data ini dengan pengetahuan kami mengenai wilayah tersebut serta citra satelit, kami sampai pada kesimpulan awal bahwa peristiwa ini kemungkinan besar merupakan longsoran batuan dan es yang berubah menjadi aliran saat bergerak ke hilir,” sambung Cook.

Pihak United States Geological Survey (USGS) awalnya sempat mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4 di area tersebut pada waktu yang berdekatan. Akan tetapi, USGS kemudian mengonfirmasi kalau hempasan longsoran itu sendiri yang memicu getaran seismik. Di laman resminya, USGS mencatat kekuatan dampak longsor tersebut setara dengan magnitudo 5,2.

Suhu Panas

Walaupun data meteorologi lengkap belum terkumpul seluruhnya, Dr. Shugar mengutarakan kalau citra satelit memperlihatkan adanya penyusutan lapisan salju sehari sebelum kejadian. Hal ini mengindikasikan lonjakan suhu yang lebih hangat yang berpotensi mencairkan gletser hingga memicu longsoran es.

Dr. Shugar menyatakan kalau tutupan awan yang mendung membuat citra satelit terkini belum sepenuhnya bersih, sehingga analisis ilmuwan terkait penyebab pasti banjir bandang ini akan semakin terang benderang dalam beberapa hari ke depan.

Ia kembali mengingatkan kalau berbagai kemungkinan pemicu lainnya belum bisa dieliminasi begitu saja.

"Volume air yang terlihat dalam video sangat mencengangkan, jumlahnya jauh lebih besar bahkan berkali-kali lipat dibandingkan bencana gletser serupa yang terjadi baru-baru ini. Sangat mungkin ada faktor penyebab lain dalam peristiwa ini,” tutup Dr. Shugar.

Gen Z Takeaway 

Fix, isu climate change makin nyata dan dampaknya nggak main-main! Bencana banjir bandang di Nepal ini jadi bukti kalau lonjakan suhu ekstrem di pegunungan bisa bikin bongkahan es seukuran raksasa lepas gitu aja dan hancur lebur jadi air bah bertekanan super tinggi. Kejadian meledaknya gletser dari ketinggian ribuan meter ini harus banget jadi penanda kalau bumi kita emang lagi nggak baik-baik aja dan butuh aksi iklim nyata secepatnya.

Nepal Banjir Banjir bandang Bongkahan Es

Infografis

Terkini