Iran Kirim 'Pesan Rahasia' ke AS Lewat Pakistan: Mau Damai di Selat Hormuz tapi Ada Syaratnya!
astakom.com, Jakarta – Ketegangan di kawasan Timur Tengah makin intens, tapi pintu diplomasi ternyata belum sepenuhnya tertutup. Iran baru saja menyampaikan beberapa syarat krusial terkait pengelolaan Selat Hormuz kepada Amerika Serikat (AS). Uniknya, pesan penting ini disampaikan melalui perantara Panglima Militer Pakistan, Asim Munir.
Misi Rahasia Pakistan
Laporan dari kantor berita Iran, Tasnim, pada Selasa (25/08/2026) yang mengutip sumber dekat tim negosiasi Iran, menyebutkan kalau kedatangan Munir ke Teheran bukan buat pamer atau melontarkan ancaman. Misi utamanya justru untuk membuka jalan bagi kemungkinan perundingan kedua negara agar bisa menemukan titik terang.
"Posisi Teheran telah disampaikan secara jelas kepada pihak Pakistan dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri oleh (Panglima) Munir," ungkap sumber tersebut yang berbicara dengan syarat anonim, seperti dilansir dari Anadolu, Rabu (26/08/2026).
Syarat Kunci Teheran
Berdasarkan laporan Tasnim, syarat utama yang diajukan Teheran mencakup desakan agar Washington kembali taat dan benar-benar melaksanakan seluruh ketentuan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Islamabad.
Iran secara khusus mendesak pelaksanaan Pasal 5 dalam kesepakatan tersebut yang memuat pengaturan tentang Selat Hormuz.
Di dalam Pasal 5 itu, Iran mengharuskan untuk menjamin keamanan pelayaran komersial yang melintasi jalur air strategis tersebut. Selain itu, Teheran juga diwajibkan berkonsultasi dengan Oman terkait pengelolaan selat di masa depan, termasuk urusan layanan maritim.
Diplomasi Tingkat Tinggi
Sebelumnya, Munir menggelar kunjungan diplomasi di Teheran pada hari Senin. Dalam kunjungan tersebut, ia melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Sekretaris Keamanan Nasional Mohsen Rezaei.
Jejak Konflik Panas
Dinamika panas antara kedua pihak ini sebenarnya punya rekam jejak yang lumayan panjang. Pada akhir Februari lalu, AS dan Israel melancarkan serangan mendadak ke Iran, yang membuat Teheran untuk membalas dengan menyerang Israel dan target-target militer AS di seluruh wilayah tersebut.
Sempat ada kabar baru pada pertengahan Juni ketika Washington dan Teheran dengan mediasi dari Pakistan dan Qatar menandatangani MoU tersebut. Sayangnya, pelaksanaan kesepakatan itu kemudian terhenti (stuck) akibat perbedaan pendapat terkait Selat Hormuz.
Eskalasi kembali terjadi bulan lalu setelah AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, dan Teheran memberi respon dengan menggempur aset-aset militer AS di beberapa negara Arab yang bersekutu dengan Washington. (nAD/RaM).









