Gandeng JICA, Ditjen Intram Kemenhub Dorong Integrasi Transportasi Publik Jabodetabek

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: A. Cuwantoro
Rabu, 26 Agustus 2026 | 01:35 WIB
Gandeng JICA, Ditjen Intram Kemenhub Dorong Integrasi Transportasi Publik Jabodetabek
Ditjen Intram Bersama JICA Dorong Integrasi Transportasi Publik Jabodetabek (Ditjen Intram)

astakom.com, Jakarta - Kawasan Jabodetabek kembali mendapat perhatian dalam pengembangan transportasi publik. Pemerintah Indonesia melalui Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda (Ditjen Intram) Kementerian Perhubungan bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) memperkuat kerja sama untuk membangun sistem transportasi yang lebih terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan.

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan Record of Discussions (R/D) untuk Project for Improvement of Public Transportation in Jakarta Metropolitan Area di Kantor Ditjen Intram, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Kerja sama teknis yang berlangsung selama 36 bulan ini diarahkan untuk memperkuat perencanaan transportasi publik sekaligus mendorong masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.

Melansir keterangan resmi Ditjen Intram Kementerian Perhubungan yang diterima astakom.com pada Rabu, (26/8/2026), kerja sama Indonesia dan JICA akan mencakup peningkatan kapasitas perencanaan transportasi pengumpan (feeder), pengembangan simpul transportasi antarmoda, hingga penyusunan model bisnis dan skema pendanaan untuk mendukung keberlanjutan layanan transportasi publik.

Integrasi transportasi jadi fokus

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda, Risal Wasal, menyebut kerja sama dengan JICA menjadi salah satu langkah konkret untuk membangun sistem transportasi publik yang terintegrasi, aman, andal, inklusif, dan berkelanjutan.

“Kawasan Metropolitan Jakarta merupakan pusat pertumbuhan ekonomi nasional dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi. Karena itu, kita perlu memperkuat integrasi transportasi publik agar masyarakat semakin mudah dan nyaman menggunakan transportasi umum,” ujar Risal dalam keterangan resmi Ditjen Intram Kementerian Perhubungan di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Dalam proyek tersebut, terdapat tiga keluaran utama yang akan menjadi fokus kerja sama. Pertama, meningkatkan kapasitas perencanaan transportasi pengumpan atau feeder, termasuk melalui penyusunan rencana layanan serta buku panduan operasional.

Kedua, pemerintah dan JICA akan mengembangkan perencanaan simpul transportasi antarmoda (intermodal transport hub) yang responsif terhadap gender, sekaligus menyiapkan pedoman teknisnya.

Sementara keluaran ketiga berkaitan dengan penyusunan model bisnis dan skema pendanaan. Bagian ini mencakup pembagian peran antar-pemangku kepentingan, kerangka pembiayaan, serta rekomendasi kebijakan yang diperlukan untuk mendukung transportasi publik secara berkelanjutan.

Ada uji coba di Jabodetabek

Sebagai bagian dari proyek, pemerintah juga akan melakukan pilot study di sejumlah wilayah kandidat. Lokasi yang direncanakan mencakup Kota atau Kabupaten Bekasi, Kota Tangerang Selatan, dan/atau Kabupaten Tangerang.

Uji coba tersebut nantinya digunakan untuk menguji sekaligus memvalidasi metode perencanaan transportasi sebelum diterapkan dalam cakupan yang lebih luas. Dengan begitu, model yang dikembangkan diharapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat di kawasan metropolitan.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari proses pembahasan yang sebelumnya telah dilakukan melalui Detailed Planning Survey dan penandatanganan Minutes of Meeting (MoM) pada Desember 2025. Dokumen R/D kemudian melalui proses penelaahan teknis dan hukum bersama instansi terkait sebelum disepakati sebagai dasar pelaksanaan proyek.

Dalam pelaksanaannya, Ditjen Intram akan memimpin dan mengoordinasikan proyek bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, pemerintah daerah se-Jabodetabek, serta operator transportasi publik melalui Joint Coordinating Committee (JCC).

Risal menegaskan, pengembangan transportasi publik tidak sebatas menyambungkan satu moda dengan moda lainnya. Aspek kesetaraan, kebutuhan kelompok rentan, hingga dampak lingkungan juga menjadi bagian dari perencanaan.

“Kita ingin memastikan bahwa setiap desain integrasi transportasi memperhatikan kesetaraan gender, kebutuhan kelompok rentan, serta efisiensi layanan yang dapat berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca,” tutur Risal dalam keterangan resmi tersebut, Rabu (26/8/2026).

Targetnya kurangi kendaraan pribadi

Chief Representative JICA Indonesia Office, Takeda Sachiko, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Intram, atas komitmen meningkatkan kualitas transportasi publik di kawasan Metropolitan Jakarta.

Menurut Takeda, transportasi tidak hanya berhubungan dengan kebutuhan masyarakat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Infrastruktur dan layanan transportasi juga memiliki kaitan dengan pertumbuhan ekonomi serta pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

“Transportasi tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memiliki peran penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dan mengatasi kemacetan di Jakarta serta wilayah sekitarnya,” ujar Takeda dalam keterangan resmi Ditjen Intram yang diteima astakom.com, Rabu (26/8/2026).

Takeda menilai peningkatan kualitas transportasi publik dapat menjadi salah satu cara untuk mendorong masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi dan memilih transportasi umum. Perubahan pola mobilitas tersebut diharapkan ikut mengurangi kepadatan lalu lintas sekaligus emisi gas rumah kaca.

“Sistem transportasi publik yang lebih baik akan mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Pada akhirnya, hal ini dapat membantu mengurangi kemacetan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca,” tambah Takeda dalam keterangan resmi yang sama, Rabu (26/8/2026).

JICA juga menyatakan komitmennya untuk terus mendukung Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan di kawasan Jabodetabek.

Risal turut menyampaikan apresiasi atas dukungan JICA dalam pengembangan transportasi perkotaan di Indonesia. Ia berharap kolaborasi tersebut dapat memperkuat konektivitas berbagai moda transportasi di kawasan metropolitan.

“Kami percaya kolaborasi ini akan memperkuat integrasi antarmoda dan menjadi bagian penting dalam mewujudkan sistem mobilitas perkotaan Jabodetabek yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan,” pungkas Risal dalam keterangan resmi Ditjen Intram Kementerian Perhubungan, Rabu (26/8/2026).

Kegiatan penandatanganan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Perhubungan pemerintah daerah se-Jabodetabek. Keterlibatan pemerintah daerah dinilai penting karena integrasi transportasi di kawasan metropolitan membutuhkan koordinasi lintas wilayah dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Gen Z Takeaway

Jadi, proyek ini bukan cuma soal bikin transportasi publik makin nyambung. Pemerintah dan JICA juga ingin membangun sistem yang lebih nyaman, inklusif, dan ramah lingkungan, sekaligus membuat masyarakat punya alasan lebih kuat untuk meninggalkan kendaraan pribadi. Kalau rencana ini berjalan sesuai target, mobilitas Jabodetabek ke depan diharapkan bisa lebih praktis tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.

JICA Ditjen Intram Transportasi publik Transportasi Transportasi Publik Jabodetabek Japan International Cooperation Agency (JICA)

Infografis

Terkini