Jalani Fit and Proper Test, M. Sarjito Soroti Potensi Komoditas Indonesia yang Menyusut

Penulis: Shintya
Editor: ⁠Henni Rachma Sari
Selasa, 25 Agustus 2026 | 23:03 WIB
Jalani Fit and Proper Test, M. Sarjito Soroti Potensi Komoditas Indonesia yang Menyusut
Jalani Fit and Proper Test, M. Sarjito Soroti Potensi Komoditas Indonesia yang Menyusut (astakom/ilustrasi pexels)

astakom.com, Jakarta - Calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), M. Sarjito, telah menjalankan uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama DPR RI, pada Senin (24/08/2026).

Dalam pemaparan fit and proper test itu dia menilai  bahwa Indonesia memegang peran yang sangat vital dalam rantai pasok mineral dan komoditas strategis dunia. Namun, besarnya angka produksi nasional tersebut dinilai belum sepenuhnya terefleksikan secara optimal dalam kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Ia mengungkapkan bahwa kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap PDB Indonesia sempat menembus 12,22 persen pada tahun 2022. Akan tetapi, capaian tersebut justru terus mengalami penurunan secara konsisten dalam tiga tahun setelahnya.

Kontribusi ke PDB menurun

Angka kontribusi tercatat menyusut menjadi 10,52 persen pada 2023, kembali meluncur ke 9,15 persen pada 2024, hingga terkikis ke level 8,75 persen pada 2025. Fenomena ini terasa agak janggal mengingat potensi sumber daya alam yang melimpah ruah di tanah air.

"Potensi kontribusi sektor mineral terhadap PDB sangat besar. Bisa kita lihat bersama bahwa mineral yang ada di Indonesia, terutama nikel, kita nomor 1 di dunia. Timah kita nomor dua, kobalt kita cukup besar, dan batu bara terbesar setelah China," Kata Sarjito dalam Paparan Fit and Proper Test bersama Komisi XI DPR RI, dikutip astakom.com pada Selasa (25/08/2026).

Peran penting Indonesia

Lebih lanjut lagi, Indonesia mencatatkan porsi pasokan yang sangat kuat pada beberapa komoditas unggulan dunia:

Nikel: Produksi Indonesia menyumbang sekitar 67 persen dari total produksi global. Porsi ini jauh membalap Filipina yang mencatatkan 7 persen dan Rusia sebesar 5 persen.

Timah: Posisi Indonesia sangat strategis dengan kontribusi mencapai sekitar 21 persen terhadap produksi global.

Kobalt: Pasokan Indonesia menyumbang sekitar 14 persen, meskipun dominasi utama masih dipegang Republik Demokratik Kongo sebesar 73 persen.

Batu Bara: Indonesia menyumbang sekitar 12 persen pasokan dunia, berada di bawah China yang menjadi produsen terbesar dengan porsi 52 persen.

Minyak Sawit (CPO): Indonesia tampil sebagai produsen terbesar dunia dengan porsi mencapai 57 persen, diikuti Malaysia 25 persen dan Thailand 5 persen.

Penentuan harga dan kebocoran nilai ekonomi

Meskipun tampil sebagai produsen utama dunia, Indonesia belum menjadi penentu harga komoditasnya sendiri. Hal inilah yang menjadi perhatian serius Sarjito dalam fit and proper test tersebut.

"Bagaimana mungkin kita sebagai produsen atau penghasil nikel, tetapi harganya tidak ditentukan oleh negara kita sendiri, ada yang di London Metal Exchange, Shanghai, atau Singapura," katanya.

Selain persoalan penetapan harga (price setting), industri komoditas strategis juga dibayangi persoalan integritas perdagangan. Risiko-risiko seperti under-invoicing, transfer pricing, hingga pelarian devisa dinilai mengancam dan mengurangi nilai ekonomi yang seharusnya masuk ke perekonomian nasional.

Penguatan ekosistem bursa

Tantangan mendasar lainnya adalah fragmentasi data perdagangan komoditas yang saat ini masih tersebar di berbagai instansi dan belum terintegrasi dengan optimal. Implikasinya, pengawasan dan pemantauan aktivitas perdagangan komoditas strategis menjadi tidak mudah.

Di sisi lain, ekosistem pasar mineral dan komoditas strategis dinilai belum memiliki kedalaman yang optimal. Keterlibatan para pelaku pasar masih perlu diperluas, sementara diversifikasi produk, peningkatan kapasitas pelaku pasar, serta penanganan tegas terhadap perdagangan dan perantaraan tanpa izin menjadi fokus pembenahan ke depan. (Shnty/RaM).

Gen Z Takeaway

Indonesia ternyata punya amunisi besar di komoditas strategis dunia, dari nikel, timah, kobalt, batu bara sampai CPO. Tapi ironisnya, kontribusi sektor tambang ke PDB justru turun dari 12,22% pada 2022 jadi 8,75% pada 2025. M. Sarjito menilai Indonesia juga belum punya kendali kuat dalam penentuan harga komoditas dan masih menghadapi risiko seperti under-invoicing, transfer pricing, hingga kebocoran devisa. Karena itu, penguatan bursa komoditas, integrasi data, dan pengawasan perdagangan jadi PR penting supaya kekayaan SDA nggak cuma besar di angka, tapi juga maksimal jadi nilai ekonomi buat Indonesia.

OJK Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Sarjito Mineral dan Batu Bara Bursa Mineral

Infografis

Terkini