Garebeg Mulud 2026 Beda! Gunungan Absen, Ini Penggantinya
astakom.com, Jakarta - Ada yang beda dari perayaan Garebeg Mulud di Keraton Yogyakarta tahun ini. Biasanya, momen peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini identik dengan gunungan yang diarak keluar keraton dan barisan prajurit yang berjalan memenuhi jalanan Jogja. Tapi tahun ini, pemandangan itu nggak akan ada.
Garebeg Mulud Be 1960 atau 2026 Masehi digelar dengan konsep yang lebih sederhana. Keraton Yogyakarta tidak mengeluarkan gunungan dan tidak menggelar iring-iringan prajurit. Beberapa rangkaian yang biasanya dilakukan sebelum Garebeg, seperti Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik, juga ditiadakan.
Kenapa gunungannya nggak ada?
Keputusan ini merupakan dhawuh atau perintah dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. Konsep perayaan sederhana ini juga sebelumnya diterapkan pada Garebeg Besar.
Tapi tenang, bukan berarti tradisinya benar-benar hilang. Sedekah raja kepada masyarakat tetap dilakukan, hanya saja bentuknya dibuat berbeda.
Biasanya, gunungan menjadi salah satu simbol sedekah raja kepada kawula atau masyarakat. Tahun ini, simbol tersebut diwujudkan lewat pembagian ubarampe pareden berupa rengginang kepada para abdi dalem.
Pembagiannya dipusatkan di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti Keraton Yogyakarta. Jadi, meskipun nggak ada gunungan yang diarak dan nggak ada rebutan gunungan seperti biasanya, pesan soal berbagi dan sedekah tetap jalan.
Intinya, yang berubah adalah bentuk acaranya, bukan maknanya.
Ternyata bukan pertama kali
Kalau dikira ini perubahan yang benar-benar baru, ternyata nggak juga. Menurut KRT Sindurejo, Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Keraton Yogyakarta, tradisi Garebeg memang sudah beberapa kali menyesuaikan diri dengan kondisi zaman.
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, pelaksanaan Garebeg pernah dibuat lebih sederhana. Begitu juga saat pandemi Covid-19, ketika kegiatan yang melibatkan banyak orang harus dibatasi.
Jadi, tradisi memang bisa berubah mengikuti situasi. Selama nilai utama di dalamnya tetap dipertahankan, tradisinya tetap punya makna.
Sekaten dan tabuh gamelan tetap ada
Walaupun Garebeg Mulud tahun ini lebih sederhana, rangkaian Hajad Dalem Sekaten tetap berjalan. Salah satunya adalah prosesi Miyos Gangsa pada 19 Agustus 2026 lalu.
Dalam prosesi ini, dua gamelan pusaka Keraton Yogyakarta, yaitu Kangjeng Kiai Guntur Madu dan Kangjeng Kiai Nagawilaga, dikeluarkan dari keraton menuju Masjid Gedhe untuk ditabuh selama rangkaian Sekaten.
Yang menarik, tahun ini masyarakat juga bisa menyaksikan prosesi Miyos Gangsa dari Kagungan Dalem Pagelaran. Sebelum gamelan berangkat, Utusan Dalem menyebarkan udhik-udhik berupa beras, uang logam, biji-bijian, dan bunga sebagai simbol sedekah serta doa keberkahan.
Sekaten juga nggak cuma soal gamelan. Di sekitar Masjid Gedhe, masyarakat masih bisa menemukan berbagai makanan dan barang khas Sekaten.
Ada sega gurih, endhog abang, sate gajih, sampai roti kembang waru. Permainan dan kerajinan tradisional seperti kapal thot-thot, pecut Sekaten, gerabah kreweng, sempritan burung, dan celengan gerabah juga tetap hadir.
Jadi, meskipun tahun ini nggak ada gunungan dan arak-arakan prajurit, suasana Sekaten tetap terasa.
Rangkaian Sekaten kemudian ditutup dengan Kondur Gangsa pada 25 Agustus 2026. Setelah pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe yang dihadiri Sri Sultan Hamengku Buwono X, kedua gamelan pusaka akan dibawa kembali ke keraton.
Garebeg Mulud 2026 bukti kalau tradisi nggak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama. Gunungan boleh nggak keluar, arak-arakan prajurit boleh ditiadakan, tapi nilai sedekah, keberkahan, dan hubungan antara keraton dengan masyarakat tetap dijaga. (hPs/RaM)
Gen Z Takeaway
Garebeg Mulud 2026 di Keraton Yogyakarta kali ini beda banget, karena nggak ada gunungan dan arak-arakan prajurit seperti biasanya. Tenang, bukan berarti tradisinya hilang, karena sedekah raja tetap jalan lewat pembagian ubarampe pareden berupa rengginang kepada para abdi dalem. Sekaten juga tetap gas dengan prosesi Miyos Gangsa, tabuhan gamelan pusaka, sampai berbagai jajanan dan permainan tradisional di sekitar Masjid Gedhe. Ternyata, perubahan seperti ini bukan hal baru karena Garebeg memang beberapa kali menyesuaikan diri dengan kondisi zaman, termasuk saat pandemi. Jadi, bentuknya boleh berubah, tapi makna sedekah, keberkahan, dan tradisinya tetap dipertahankan.









