Menag Spill Kunci Cinta Al-Qur'an: Jangan Cuma Dibaca, Tapi Dihidupkan
astakom.com, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar ngajak seluruh peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Tingkat Nasional 2026 buat nggak cuma berhenti di estetika atau keindahan membaca Al-Qur’an aja. Bagi beliau, MTQ itu jauh lebih deep dari sekadar ajang kompetisi ini adalah ruang buat menghayati setiap ayat Al-Qur’an dan menjadikannya guidebook atau pedoman nyata dalam menjalani hidup.
“Kita datang di sini bukan hanya untuk memperlombakan suara-suara yang sangat merdu, melainkan seberapa besar ayat demi ayat itu merasuk di dalam benak kita untuk kita jadikan suluh di dalam menjalani kehidupan kita di dunia ini,” tutur Menag pada saat membuka MTQ VIII Korpri Tingkat Nasional 2026 di Makassar, dikutip oleh astakom pada Selasa, (25/08/2026).
Bukan Cuma Soal Suara
Karena alasan itu, Menag menilai ukuran keberhasilan MTQ nggak cuma dilihat dari siapa yang berhasil bawa pulang piala juara. Menurutnya, setiap peserta maupun masyarakat yang ikut meramaikan rangkaian MTQ sebenarnya sudah mengantongi nilai berharga dari setiap interaksi mereka bersama Al-Qur’an.
“Di sini nanti tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Semuanya menjadi pemenang,” jelasnya.
AI Bedah Ayat Sains
Di sisi lain, Menag juga menyoroti bagaimana ruang kajian Al-Qur’an makin terbuka lebar seiring melesatnya perkembangan sains dan teknologi. Kehadiran teknologi kekinian termasuk Artificial Intelligence (AI) justru jadi momentum emas buat memperluas kacamata bedah terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, terutama ayat-ayat kauniyah yang berhubungan erat dengan fenomena alam.
Ia mengungkapkan, selama ini diskusi Al-Qur’an cenderung terlalu berfokus pada ayat-ayat hukum. Padahal, banyak banget sudut Al-Qur’an yang masih sangat terbuka buat dikaji dari berbagai lintas disiplin ilmu.
“Kita bangga dengan hadirnya AI, tapi AI ini justru semakin mengungkapkan rahasia-rahasia besar yang tersimpan di dalam Al-Qur’an,” ungkap Menag.
Menurut Menag, lompatan teknologi justru bisa membuka cara pandang baru yang lebih luas dalam mendalami isi Al-Qur’an. Oleh karena itu, ia berharap formulasi MTQ ke depan bisa kasih porsi yang lebih lega buat penghayatan dan pendalaman makna Al-Qur’an secara lebih deep.
“Semakin tinggi dan semakin detail, semakin canggih teknologi itu, semakin tersingkap rahasia-rahasia yang terkandung di dalam Al-Qur’an,” jelasnya.
Usul Cabang Lomba Baru
Gara-gara hal ini juga, Menag melempar usul agar dinamika kompetisi MTQ nggak melulu berputar di cabang-cabang yang menampilkan kebolehan melagukan vokal bacaan Al-Qur’an saja. Ruang eksplorasi buat mengkaji kandungan Al-Qur’an khususnya kaitannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dinilai perlu makin diperkuat.
“Kalau perlu nanti ada tambahan perlombaan baru, penghayatan, pendalaman, bagaimana mengkaji ayat-ayat sains dalam Al-Qur’an,” ucapnya.
Guidebook Segala Zaman
Menag kembali menekankan kalau gempuran teknologi canggih sama sekali nggak bikin Al-Qur’an kehilangan relevansi. Malahan, ia optimistis Al-Qur’an bakal terus jadi sumber inspirasi paling solid buat masyarakat dalam menjawab setiap perubahan zaman.
“Mari Bapak-Ibu, jangan hanya kita mengandalkan keindahan melagukan Al-Qur’an, tapi hayati, jiwai, dan lihat manfaatnya. Betapa Al-Qur’an itu benar-benar sebagai kitab modern, kitab penuntun zaman,” ungkap Menag. (nAD/RaM).
Gen Z Takeaway
Buat Gen Z, pesan Menag ini relate banget: Al-Qur'an itu bukan cuma buat dibaca pas vibes-nya lagi syahdu, tapi beneran ultimate guidebook yang tetep up-to-date bahkan di era AI. Menag ngingetin kalau kitab suci ini enggak pernah ketinggalan zaman—justru makin canggih teknologi, makin banyak rahasia sains di dalamnya yang bisa dibedah. So, jangan cuma vibe check merdunya tajwid, tapi resapi maknanya buat navigating life dan pembuktian ilmu pengetahuan di dunia nyata!









