Utang Jadi PR Besar, Danantara Target Restrukturisasi BUMN Karya Kelar 2026
astakom.com, Jakarta - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara menargetkan proses restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara atau BUMN sektor konstruksi atau BUMN Karya selesai di akhir tahun ini, 2026.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, Dony Oskaria bilang kalau dia menargetkan langkah penataan korporasi itu bisa ngasih efek yang baik buat memulihkan aspek keuangan dan memperbaiki fundametal bisnis perusahaan BUMN terkait di masa depan.
“Saya tetap mengupayakan akhir tahun ini sudah selesai, tetapi dinamika di dalam menyelesaikan ini kan cukup rumit,” kata Dony kepada awak media di Jakarta, dikutip astakom.com pada Selasa (18/08/2026).
Tingginya utang
Dony juga menjelaskan kalau program penyehatan korporasi di sejumlah perusahaan pelat merah atau BUMN Karya tergolong cukup pelik. Dia ngespill hal itu dipicu karena tingginya utang dan kompleksitas persoalan bisnis yang membelit masing-masing perseroan.
Kondisi ini makin rumit karena beban utang dan benang kusut bisnis itu merembet ke lini anak sampai cucu perusahaan.
“Utangnya besar-besar, masalahnya ini tidak hanya di level holding, tetapi dia punya anak-anak perusahaan juga bermasalah,” kata Dony.
Fokus bisnis BUMN Karya
Dengan restrukturisasi ini, fokus bisnis BUMN Karya nantinya dikerucutkan ke dalam tiga pilar utama, meliputi lini infrastruktur, jasa konstruksi gedung, dan sektor rekayasa, pengadaan dan konstruksi atau EPC (engineering, procurement, and construction).
Overall, perombakan struktural ini adalah bagian dari peta jalan pemerintah dalam merampingkan atau merger postur perusahaan milik negara.
Sedangkan opsi skema yang ditempuh dalam penataan BUMN karya ini yaitu likuiditas bagi entitas yang udah nggak aktif beroperasi, aksi divestasi untuk melepas lini bisnis tertentu, konsolidasi atau merger antarperusahaan sejenis dan langkah restrukturisasi mendalam untuk menyehatkan neraca keuangan dan efisiensi operasional.
Skema konsolidasi hasil rancangan Danantara
Danantara merancang skema konsolidasi dengan menggabungkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) ke dalam naungan PT Hutama Karya (Persero).
PT PP (Persero) Tbk atau PTPP diarahkan untuk berfokus menggarap dua pilar usaha utama, yaitu rekayasa sipil serta EPC, yang memosisikan perseroan memegang kendali penuh dari hulu ke hilir atas keseluruhan tahapan proyek konstruksi.
Nggak cuma itu, PT Nindya Karya (Persero) dan PT Brantas Abipraya (Persero) akan dilebur ke dalam struktur PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), sementara itu PTPP tetap dipertahankan beroperasi sebagai entitas mandiri yang berdiri sendiri.
Entitas hasil penggabungan di bawah Hutama Karya dan Adhi Karya bakal memusatkan keahlian mereka pada jasa teknik sipil, mulai dari perencanaan, pembangunan fisik, hingga perawatan berbagai proyek infrastruktur serta sarana publik seperti gedung, jalan raya, jembatan, bendungan, hingga sistem jaringan utilitas lainnya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Danantara lagi gaspol beresin BUMN Karya yang selama ini dibebani utang dan masalah bisnis sampai ke anak-cucunya. Targetnya, restrukturisasi kelar akhir 2026 dengan bisnis yang lebih ramping dan fokus. Skemanya mulai dari likuidasi, divestasi, merger, sampai restrukturisasi neraca. WIKA dan Waskita bakal dikonsolidasikan ke Hutama Karya, sementara Nindya Karya dan Brantas Abipraya dilebur ke Adhi Karya. Intinya, BUMN Karya mau dibikin lebih fokus, efisien, dan nggak lagi “gemuk” dengan banyak lini bisnis yang tumpang tindih.









