Gerak Cepat! Kemenkes Siagakan 9 HEOC untuk Pulihkan Layanan Kesehatan Pascagempa NTT

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:08 WIB
Gerak Cepat! Kemenkes Siagakan 9 HEOC untuk Pulihkan Layanan Kesehatan Pascagempa NTT
Gerak Cepat! Kemenkes Siagakan 9 HEOC untuk Pulihkan Layanan Kesehatan Pascagempa NTT [Kemenkes]

astakom.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat menangani dampak gempa yang mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Melansir laman resmi Kemenkes pada Selasa (18/08/2026), sebanyak sembilan Health Emergency Operation Center (HEOC) diaktifkan untuk memantau kondisi dan mempercepat respons kesehatan di daerah terdampak.

Tak berhenti di pusat koordinasi, Kemenkes juga mengirim tim medis, menyiapkan rumah sakit lapangan dan rumah sakit mobil, serta mengirim berbagai kebutuhan kesehatan. Langkah ini dilakukan supaya warga tetap mendapat pelayanan medis meski sejumlah fasilitas kesehatan terdampak gempa.

Gempa tersebut berdampak pada delapan kabupaten/kota, yakni Sikka, Ende, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Flores Timur. Kemenkes menargetkan rumah sakit terdampak bisa kembali memberikan layanan dasar paling lambat dalam satu minggu, sementara puskesmas ditargetkan pulih dalam dua minggu.

9 HEOC mulai bergerak

Sembilan HEOC yang diaktifkan terdiri dari satu HEOC tingkat pusat/provinsi dan delapan HEOC di kabupaten/kota terdampak. Fungsinya sebagai pusat koordinasi untuk memantau situasi kesehatan sekaligus memastikan kebutuhan di lapangan cepat ditindaklanjuti.

Untuk memperkuat layanan, Kemenkes mengirim dua Tim Manajemen Krisis Kesehatan ke Kabupaten Sikka dan Ende serta dua Emergency Medical Team (EMT).

“Selain itu Kemenkes telah mengirimkan 2 Tim Manajemen Krisis Kesehatan ke Kabupaten Sikka dan Ende serta 2 tim EMT untuk memperkuat pelayanan medis di lokasi terdampak,” kata Budi Gunadi Sadikin mengutip dari keterangan tertulis Kemenkes.

Bantuan logistik juga ikut digerakkan. Pada Minggu (16/08/2026), Kemenkes menyalurkan delapan paket obat-obatan dasar, lima Emergency Kit, 1.000 sarung tangan steril, 20.000 sarung tangan nonsteril, 20.000 masker bedah, 10 oksigen konsentrator, dan dua tenda pos kesehatan. Delapan tenda tambahan turut disiapkan untuk mendukung pelayanan di lapangan.

RSUD jadi prioritas

Pemulihan rumah sakit menjadi fokus utama karena layanan kesehatan harus tetap siap menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien. Layanan yang diprioritaskan meliputi operasi trauma, pelayanan ibu dan anak, serta hemodialisa.

Dua fasilitas yang mendapat perhatian lebih adalah RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng. Rumah sakit lapangan yang dilengkapi fasilitas operasi bersama EMT telah bergerak untuk memperkuat layanan di kedua lokasi tersebut.

“Info sementara lokasi terparah di RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng. RS Lapangan lengkap dengan fasilitas operasi, serta Emergency Medical Team yang terdiri dari dokter spesialis bedah, anestesi, dan emergensi sudah bergerak ke dua lokasi tersebut hari ini,” kata Budi.

RSUD Nagekeo yang mengalami kerusakan berat juga mendapat dukungan satu set Rumah Sakit Mobil. Fasilitas tersebut disiapkan agar pelayanan medis dasar dan penanganan kondisi darurat tetap berjalan selama rumah sakit utama dipulihkan.

Untuk pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan, RSUD Borong dan RSUD Komodo disiapkan sebagai rumah sakit rujukan dari Nagekeo.

Puskesmas ikut dipulihkan

Pemulihan layanan juga menyasar puskesmas. Kemenkes menargetkan puskesmas yang terdampak bisa kembali beroperasi untuk memberikan layanan dasar paling lambat dalam dua minggu.

Layanan ibu hamil, persalinan, dan imunisasi menjadi prioritas agar kebutuhan kesehatan warga tetap terpenuhi selama proses pemulihan berlangsung.

Berdasarkan laporan situasi per 15 Agustus 2026, dari 190 puskesmas terdampak, sebanyak 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum dapat beroperasi.

Untuk membantu pelayanan sementara, delapan tenda tambahan juga disiagakan di lapangan.

“Selain itu, sebanyak 8 tenda tambahan juga disiagakan untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di lapangan,” sambung Budi.

Kemenkes juga terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dinas Kesehatan kabupaten/kota, BNPB, dan Basarnas. Koordinasi ini difokuskan pada ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, alat kesehatan, serta kebutuhan pendukung lainnya di wilayah terdampak. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Jadi, respons pascagempa NTT bukan cuma soal memperbaiki fasilitas yang rusak. Kemenkes juga memastikan layanan tetap jalan lewat 9 HEOC, tim medis, rumah sakit lapangan, bantuan logistik, hingga jalur rujukan. Intinya, warga tetap bisa mendapat pertolongan medis sambil fasilitas kesehatan dipulihkan bertahap.

Kemenkes Budi Gunadi Sadikin Gempa NTT Korban Gempa NTT NTT Pascagempa NTT Pascagempa

Infografis

Terkini