BPS Rilis Kabar Positif! Tingkat Kemiskinan RI Turun Jadi 8,07 Persen
astakom.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) spill kalau tingkat kemiskinan pada Maret 2026 mengalami penurunan dibandingkan dengan kondisi September 2025.
Tingkat kemiskinan tercatat sebesar 8,07 pesen pada Maret 2026, sedangkan kondisi pada September 2025 ada di angka 8,25 persen.
Hal itu dikatakan oleh Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Jakarta, pada Rabu (05/08/2026).
"Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 tercatat sebesar 8,07 persen, turun dibanding kondisi September 2025 yang sebesar 8,25 persen," kata Edy dalam keterangan resminya dikutip oleh astakom.com pada Kamis (06/08/2026).
Garis kemiskinan
BPS juga ngespill kalau garis kemiskinan nasional yang tercatat adalah Rp669.235 per kapita per bulan pada Maret 2026 naik 4,33 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp641.443 per kapita per bulan.
"Namun demikian, BPS menegaskan bahwa garis kemiskinan perlu diterjemahkan dalam konteks rumah tangga. Sebab, pada umumnya pengeluaran dilakukan secara bersama dalam satu rumah tangga seperti sewa rumah, listrik, hingga konsumsi beras," kata Edy.
Dilaporkan pada Maret 2026, rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,62 anggota rumah tangga, sehingga garis kemiskinan rumah tangga secara nasional ada di angka Rp3.091.866.
Disesuaikan dengan tiap provinsi
Angka ini berbeda tiap provinsi, tergantung tingkat harga, pola konsumsi masyarakat, juga rata-rata jumlah anggota rumah tangga miskin di setiap provinsi.
Berdasarkan wilayah, pada Maret 2026, tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 10,67 persen angka ini lebih tinggi dibandingkan perkotaan dengan persentase sebesar 6,34 persen. Meski begitu, overall terjadi penurunan tingkat kemiskinan baik di perdesaan maupun perkotaan dibandingkan September 2025.
Meskipun tingkat kemiskinan membaik di hampir semua kawasan Indonesia pada Maret 2026 dengan penurunan terbesar tercatat di Pulau Jawa sebesar 0,21 persen poin, tapi ketimpangan antara kota dan desa masih terlihat jelas dari nilai Indeks P1 dan P2.
Indeks kemiskinan kota dan desa
Kawasan perkotaan menunjukkan tren positif. Rata-rata pengeluaran masyarakat miskin kian mendekati garis kemiskinan (Indeks Kedalam Kemiskinan atau P1 turun), sekaligus diimbangi oleh pemerataan distribusi pengeluaran yang membaik di antara warga miskin (Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 turun).
Kawasan perdesaan justru mengalami penurunan kualitas. Pengeluaran penduduk miskin makin jauh berada di bawah garis kemiskinan (P1 naik), dan ketimpangan antarseluruh warga miskin di sana makin melebar (P2 naik).
Dari sudut pandang demografi kawasan, Pulau Jawa masih menampung porsi penduduk miskin terbesar di Tanah Air, yakni 12,02 juta orang (52,42%). Sebaliknya, angka penduduk miskin terendah berada di Pulau Kalimantan dengan jumlah 870 ribu jiwa (3,79%). (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
BPS spill tingkat kemiskinan RI turun jadi 8,07% per Maret 2026 dari 8,25% pada September 2025. Overall makin banyak warga yang keluar dari garis kemiskinan, tapi challenge di desa masih lebih berat karena gap kesejahteraan belum sepenuhnya beres. Jadi, progress-nya real, tapi masih ada PR buat bikin pertumbuhan lebih merata.








