Target Dagang Indonesia-Vietnam USD18 Miliar, Tahun Ini Siap Lampaui Ekspektasi!
astakom.com, Jakarta – Kerja sama dagang antara Indonesia dan Vietnam diprediksi bakal terealisasi jauh lebih cepat. Kedua negara percaya kalau target nilai perdagangan bilateral sebesar USD18 miliar setara dengan Rp324 triliun (asumsi kurs Rp18.000/USD) yang awalnya ditargetkan untuk tahun 2028, kini diyakini berpeluang besar untuk terealisasi sebelum tahun ini berakhir.
Kerjasama tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri RI Sugiono pada agenda Joint Commission on Bilateral Cooperation (JCBC) Indonesia-Vietnam di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (14/07/2026).
Target 2028 tembus awal
Menlu Sugiono awalnya menyatakan kalau kedua negara menegaskan kembali komitmen untuk mengejar target perdagangan sebesar USD18 miliar pada tahun 2028. Namun, Menlu Vietnam juga membawa kabar yang lebih menggebrak dalam forum tersebut.
"Di sektor ekonomi, kami juga menegaskan kembali komitmen kami untuk mencapai target perdagangan bilateral sebesar USD18 miliar pada tahun 2028" ucap Sugiono dalam konferensi pers Pertemuan Keenam Komisi Bersama Indonesia-Vietnam untuk Kerja Sama Bilateral (JCBC) di Jakarta.
Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Luar Negeri Vietnam Lê Hoài Trung turut menyoroti perkembangan positif kemitraan dagang bilateral yang terus menunjukkan tren peningkatan.
"Volume perdagangan kita,saya mendapat informasi bahwa angkanya bahkan mungkin mencapai target sebesar USD18 miliar tahun ini. Jadi, kita mungkin saja melampaui target yang telah kita tetapkan" tutur Menteri Luar Negeri Vietnam Lê Hoài Trung.
Babat Habis Regulasi Ribet
Menanggapi capaian tersebut, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan pentingnya langkah-langkah konkret untuk menjaga tren pertumbuhan ini, termasuk dengan memangkas regulasi yang menghambat.
"Untuk mempertahankan momentum positif ini, kami sepakat untuk lebih memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi, serta menghilangkan segala hambatan yang dihadapi oleh komunitas bisnis di kedua negara di sektor perdagangan dan investasi. Kami juga akan menindaklanjuti semua perjanjian dan Nota Kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani oleh kedua negara agar dapat menjadi sesuatu yang realistis, konkret, dan nyata" papar Menlu Sugiono.
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, bersama Menteri Luar Negeri Republik Sosialis Vietnam, Bui Thanh Son, secara resmi menandatangani Rencana Aksi (Plan of Action) 5 tahun ke depan sebagai pemandu implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif.
"Hari ini, kami menandatangani rencana aksi (plan of action) untuk implementasi tersebut, dan ini akan berfungsi sebagai kerangka kerja utama yang memandu kerja sama bilateral kita selama lima tahun ke depan" ungkap Sugiono.
Pada kesempatan yang sama, Lê Hoài Trung turut menyambut baik kesepakatan formal yang memperluas jangkauan diplomasi kedua negara ke tingkat struktural dan kelembagaan.
"Saya juga sepakat dengan Anda mengenai hasil pertemuan kita dan pertemuan komisi kali ini. Khususnya terkait pengesahan Rencana Aksi (Plan of Action) untuk implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif antara Vietnam dan Indonesia.Di antara hal-hal tersebut, kita sepakat tentang perlunya mendorong saling pemahaman dan kerja sama politik melalui berbagai jalur hubungan dan kontak antar-pemerintah, serta antar-parlemen" Tambah Menlu Vietnam Lê Hoài Trung.
Jaga laut bareng
Selain ekonomi, Isu difokuskan pada ranah politik dan keamanan, kedua negara juga makin gacor dalam urusan pengaturan implementasi kesepakatan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Kali ini, kolaborasi pengamanan laut diperkuat, penanganan IUUF (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing), dan kejahatan antarnegara termasuk kejahatan terkait narkotika dan psikotropika.
"Kita juga sepakat untuk mendorong dan memperluas kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan" ucap Lê Hoài Trung.
"Terkait kerja sama politik, kami menyambut baik kemajuan yang dicapai dalam pengaturan implementasi kesepakatan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) kita. Kami juga membahas dan menegaskan kembali komitmen kami untuk lebih memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan di sektor maritim, dalam penanganan IUUF (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing), serta kejahatan transnasional termasuk kejahatan terkait narkotika dan psikotropika" jelas Menlu Sugiono.
OtTW jadi raja EV ASEAN
Bukan cuma sektor keamanan, kolaborasi kali ini juga mengincar industri masa depan yang sedang naik daun. Sektor teknologi canggih kendaraan listrik (EV) serta ekonomi digital diproyeksikan bakal menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi kedua negara.
"Tentu saja, kami juga membahas potensi dan peluang kerja sama yang lebih erat di berbagai sektor termasuk pertanian, sains dan teknologi, rantai pasok khususnya dalam teknologi canggih kendaraan listrik serta ekonomi digital" tegas Sugiono.
Kolaborasi di sektor EV ini diharapkan mampu memperkuat rantai pasok regional, menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat produksi kendaraan listrik global. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Kolaborasi kilat RI-Vietnam ini ngasih sinyal kuat kalau ASEAN lagi level up besar-besaran, gak cuma main aman di dagang konvensional tapi langsung tancap gas ke industri masa depan. Buat kita, ekspansi ke sektor kendaraan listrik (EV) dan ekonomi digital ini adalah kabar baik karena bakal membuka banyak green jobs baru dan peluang karier digital yang luas, sekaligus bikin posisi Indonesia makin stand out sebagai main player rantai pasok global.









