Spill Kronologi Pilu Kematian dr Icha Gegara Dugaan Intimidasi Oknum DPRD

Editor: Anri Syaiful
Senin, 29 Juni 2026 | 10:09 WIB
Spill Kronologi Pilu Kematian dr Icha Gegara Dugaan Intimidasi Oknum DPRD
Kementerian Kesehatan menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya dokter Eliza Priscilla Utami Pakaenoni (dr. Icha) yang bertugas di RS Leona Kefamenanu, NTT. [Tangkapan layar postingan X @KemenkesRI]

astakom.com, Jakarta – Kematian dokter muda Eliza Princila Utami Pakaenoni, atau yang akrab disapa dokter Icha, benar-benar bikin publik syok berat dalam dua pekan terakhir. Kasus tragis ini bermula dari dugaan intimidasi yang dialaminya saat sedang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu, Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pihak keluarga meyakini banget kalau tekanan psikologis setelah insiden itu yang bikin kondisi kesehatan mental dan fisiknya drop parah. Namun sampai saat ini, polisi masih menyelidiki penyebab pasti kematiannya dan belum ketok palu soal hubungan hukum antara intimidasi tersebut dengan wafatnya sang dokter berusia 27 tahun itu.

Saat ini, polisi juga masih mengamankan beberapa barang bukti penting, termasuk dua unit HP dan secarik surat tulisan tangan yang ditemukan setelah dr. Icha tiada. Isi surat tersebut masih secret alias belum diungkap ke publik karena masih menjadi konsumsi tim penyidik.

Kronologi awal: spill kejadian di ruang IGD

Menyadur informasi yang dihimpun astakom.com, drama pilu ini dimulai pada Sabtu, 13 Juni 2026, saat seorang pasien anak korban gigitan ular dilarikan ke IGD RS Leona Kefamenanu. Kebetulan, dr Icha yang lagi dapat jadwal jaga sebagai dokter on-duty malam itu.

Keluarga menjelaskan bahwa almarhumah sudah bekerja by the book sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit dan sudah berkonsultasi dengan dokter spesialis anak. Secara medis, pasien memang belum direkomendasikan menerima vaksin tertentu, lagipula stok vaksin yang diminta juga sedang kosong di RS.

Situasi mulai chaos dan red flag terdeteksi

Suasana IGD mendadak berubah tegang karena keluarga pasien tidak bisa menerima penjelasan medis tersebut dengan kepala dingin. Paman dr. Icha, Victor Manbait, menceritakan bahwa salah satu keluarga pasien mulai berbicara dengan nada tinggi dan membawa-bawa jabatannya sebagai anggota DPRD TTU.

Gak lama setelah itu, muncul lagi seorang pria lain yang mengaku-ngaku sebagai anggota Komisi III DPRD TTU yang ikut masuk ke IGD dan langsung protes dengan nada membentak. Kondisi ini jelas bikin ruangan makin chaos.

Meskipun dr. Icha sudah berusaha sekuat tenaga menjelaskan kondisi pasien secara profesional, penjelasan tersebut tetap dimentahkan. Situasi pun makin memanas dan bikin sang dokter overthinking serta merasa terpojok.

Trauma berat sampai harus rawat inap

Akibat bentakan tersebut, dr. Icha langsung nangis sesenggukan karena merasa sangat tertekan dengan toxic behavior oknum tersebut. Beliau langsung gerak cepat menghubungi pimpinan RS Leona untuk melaporkan intimidasi yang barusan dialaminya.

Direktur rumah sakit pun langsung turun tangan ke IGD untuk menenangkan situasi dan menegaskan kepada keluarga pasien bahwa tindakan dr. Icha sudah sesuai SOP. Sayangnya, trauma itu sudah kepalang membekas di benak sang dokter muda.

Keesokan harinya, Minggu, 14 Juni 2026, dr. Icha sebenarnya sempat masuk kerja lagi. Tapi begitu melihat dua oknum yang mengamuk kemarin masih berkeliaran di area rumah sakit, ia langsung balik kanan karena merasa sangat ketakutan.

Divonis depresi berat tanpa gejala psikotik

Malam harinya, dr. Icha sempat menghilang dari radar dan tidak merespons telepon dari rekan kerjanya. Saat disusul ke tempat tinggalnya, ia ditemukan dalam kondisi lemas tak berdaya hingga harus dievakuasi ke RS Leona untuk menjalani rawat inap selama enam hari.

Setelah diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026, kondisi mentalnya ternyata belum sepenuhnya healing. Karena khawatir, keluarga akhirnya membawa dr. Icha ke Klinik Utama Jiwa Dewantara Mental Healthcare pada 24 Juni 2026, dan ia didiagnosis mengalami depresi berat tanpa gejala psikotik.

Melihat kondisi putrinya yang kena mental, sang ayah langsung bergerak melaporkan dugaan intimidasi ini ke Badan Kehormatan DPRD TTU. Keluarga berharap ada keadilan dan sanksi tegas untuk oknum yang terlibat.

Ditemukan tiada sebelum sesi healing lanjutan

Rencana untuk melakukan kontrol medis lanjutan di RS Bhayangkara Kupang pada Jumat, 26 Juni 2026, terpaksa kandas. Dokter Icha ditemukan sudah meninggal dunia di lantai dua rumah orang tuanya di Perumahan RSS Baumata sekitar pukul 17.55 WITA.

Pihak keluarga memutuskan untuk tidak melakukan autopsi karena hasil pemeriksaan luar menunjukkan tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh almarhumah. Di dekat lokasi, keluarga menemukan dua HP dan surat wasiat yang diduga ditulis langsung oleh dr. Icha sebelum berpulang.

Pembelaan oknum DPRD: ngaku panik, bukan intimidasi

Di sisi lain, dua anggota DPRD TTU yang berinisial TL dan NT langsung memberikan klarifikasi dan membantah kalau mereka melakukan intimidasi. TL berdalih nada tingginya itu refleks karena panik melihat kondisi pasien yang merupakan keluarganya.

NT juga menambahkan bahwa mereka hanya meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya dari pihak medis. Mereka mengklaim sudah meminta maaf kepada pihak manajemen rumah sakit dan nakes yang bertugas setelah mendapat penjelasan lengkap.

Kemenkes turun tangan, polisi kumpulkan bukti, dan parpol mulai bertindak

Kasus ini pun langsung memicu perhatian nasional, membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turun tangan untuk melakukan investigasi menyeluruh. Sementara itu, kepolisian tetap fokus mengumpulkan bukti dan menegaskan belum ada kesimpulan hukum yang mengaitkan intimidasi tersebut sebagai penyebab kematian.

Gak tinggal diam, PKB dan Golkar selaku partai politik (parpol) yang menaungi NT dan TL langsung pasang badan untuk memeriksa kadernya.

Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa PKB, Nihayatul Wafiroh, menegaskan. "Kami akan segera memanggil yang bersangkutan untuk tabayun," katanya saat dikonfirmasi media nasional di Jakarta, kemarin (28/06/2026).

Petinggi Partai Golkar, Sarmuji, juga memberikan teguran keras dan meminta DPD Provinsi segera bertindak. Beliau mengingatkan dengan tegas kepada seluruh pejabat publik, "Pesan kami ke semua pejabat publik khususnya yang dari Golkar 'ojo dumeh'. Jangan mentang-mentang punya jabatan berperilaku yang tidak pantas termasuk mengintimidasi orang yang posisinya di bawah," ucapnya dikutip media nasional, kemarin (28/06/2026). (aNs)

Gen Z Takeaway

Duh, bener-bener sad vibes parah, kasus dr. Icha (27) di NTT ini bikin publik overthinking sekaligus geram setelah beliau diduga kena mental akibat di-intimidasi dan dibentak-bentak sama oknum DPRD TTU pas lagi tugas by the book di IGD. Korban yang langsung trauma berat sampai divonis depresi berat akhirnya ditemukan meninggal dunia di rumahnya, meninggalkan surat wasiat secret yang sekarang lagi diselidiki polisi, sementara para netizen nungguin kelanjutan tabayun dari parpol pelaku yang sempat berdalih cuma panik refleks.

dr Icha Dugaan Intimidasi Dokter Oknum DPRD TTU Timor Tengah Utara Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni

Infografis

Terkini