Keren! Indonesia Resmi Terpilih Jadi Rumah Fasilitas High Performance Computing ASEAN–Korea
astakom.com, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan Pemerintah Republik Korea yang resmi meluncurkan fasilitas ASEAN–Korea High Performance Computing (HPC) di Indonesia.
Peresmian yang dikemas dalam acara Opening Ceremony & Workshop ASEAN–Korea HPC Facility in Indonesia ini digelar di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada Kamis (18/06/2026). Proyek yang menjadi bagian dari Korea–ASEAN Digital Innovation Flagship Project (KADIF) ini diharapkan menjadi lompatan besar dalam meningkatkan kapasitas riset berbasis data serta kecerdasan artifisial (AI) di Asia Tenggara.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan kalau keberadaan fasilitas HPC di Indonesia akan memperkokoh kapasitas komputasi di tingkat regional. Menurutnya, kemampuan komputasi yang kuat sangat krusial dalam menyokong riset berbasis data, pengembangan kecerdasan artifisial (AI), serta kemajuan teknologi strategis di ASEAN.
"Untuk menjawab tantangan yang semakin kompleks, mulai dari pemodelan iklim hingga teknologi maju, diperlukan daya komputasi yang besar. Fasilitas HPC di Indonesia hadir sebagai infrastruktur yang menyediakan kemampuan tersebut,” ucap Arif.
Infrastruktur AI masa depan
Dari sisi teknis, infrastruktur HPC ini memiliki performa komputasi puncak teoritis mencapai 4,28 petaflops (PFlops), dengan performa komputasi maksimum sebesar 3,10 PFlops berdasarkan hasil uji standar.
Untuk menjamin akses berkecepatan tinggi, fasilitas ini disokong oleh konektivitas 10 GbE melalui Indonesia Research and Education Network (ID-REN), yang terhubung langsung dengan jaringan riset dan pendidikan (Research and Education Network/REN) di seluruh negara anggota ASEAN.
Sistem tersebut saat ini telah diajukan untuk masuk ke dalam daftar 500 superkomputer paling andal di dunia yang dikelola oleh platform TOP500.org.
Fokus cetak SDM digital
Arif menekankan kalau pengembangan fasilitas HPC ini tidak sekadar berfokus pada penyediaan infrastruktur komputasi fisik. Lebih dari itu, proyek ini diarahkan untuk mempererat kolaborasi riset sekaligus meningkatkan kapasitas serta kualitas sumber daya manusia (SDM) di kawasan Asia Tenggara.
“Kami berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara luas untuk mendorong berbagai inisiatif dan kolaborasi antarnegara anggota ASEAN. Fasilitas ini terbuka bagi peneliti, ilmuwan, pelaku industri, analis kebijakan, dan perencana pembangunan di kawasan untuk berinovasi bersama,” jelasnya.
Di samping pembangunan infrastruktur, proyek kolaborasi ini juga mengintegrasikan program pelatihan di bidang data dan AI yang mencakup para peserta dari negara-negara anggota ASEAN. Program ini dihadirkan secara khusus untuk memperkokoh kompetensi regional dalam penguasaan komputasi berkinerja tinggi serta kecerdasan artifisial.
Aset strategi ekonomi ASEAN
Deputi Secretary General of ASEAN Economic Community Satvinder Singh memandang fasilitas HPC ini sebagai aset strategis yang mampu mendongkrak daya saing digital di ASEAN. Menurutnya, penguatan ini sangat krusial bagi kawasan dalam menghadapi pesatnya dinamika dan perkembangan teknologi di kancah global.
"Lebih dari sekadar superkomputer, fasilitas ini merupakan aset strategis bagi ASEAN. Akses terhadap komputasi tingkat lanjut akan menjadi penting dalam mendukung inovasi, transformasi digital, dan daya saing ekonomi kawasan di masa depan,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan kalau teknologi HPC ini memiliki cakupan pemanfaatan yang sangat luas untuk berbagai sektor strategis. Di antaranya meliputi upaya mitigasi bencana, penguatan ketahanan pangan dan energi, akselerasi layanan kesehatan, pemodelan perubahan iklim, hingga penyusunan inovasi aplikasi kecerdasan artifisial (generative AI) generasi masa depan.
"Nilai HPC tidak terletak pada teknologinya semata, tetapi pada manfaat yang dihasilkannya. Fasilitas ini dapat membantu ASEAN mengubah data menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi inovasi, dan inovasi menjadi kemajuan ekonomi serta sosial,” ucap Satvinder.
3 pilar kolaborasi
Pada kesempatan yang sama, Presiden Korea Institute of Science and Technology Information (KISTI), Sik Lee, mengungkapkan kalau proyek kolaborasi ini dirancang untuk memperlebar akses negara-negara anggota ASEAN terhadap sumber daya komputasi. Di samping itu, inisiatif ini juga berfokus pada pendongkrakan kapasitas serta keahlian sumber daya manusia (SDM) di sektor data dan teknologi AI.
“Melalui inisiatif ini, kami ingin menyediakan akses terhadap sumber daya komputasi canggih bagi para peneliti di ASEAN sekaligus memperkuat kapabilitas digital melalui pemanfaatan data dan kecerdasan artifisial secara efektif,” tuturnya.
Sik Lee berpendapat kalau ada tiga komponen krusial dalam proyek HPC ini. Pertama adalah pembangunan infrastruktur, kedua berupa pengembangan platform integrasi data ASEAN, dan yang ketiga adalah penyusunan program penguatan kapasitas HPC serta AI untuk seluruh negara anggota ASEAN.
BRIN sendiri telah menerima perangkat keras fasilitas HPC ini di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, pada 21 April 2026. Kehadiran superkomputer ini diproyeksikan mampu mendongkrak kapasitas infrastruktur riset regional yang dapat diakses oleh seluruh negara anggota ASEAN untuk mendukung inovasi iptek sekaligus menyokong transformasi digital berbasis data. (nAD/aNs)
Gen Z Takeaway
Indonesia baru aja kejatuhan durian runtuh di dunia teknologi! Dengan jadi rumah buat superkomputer ASEAN-Korea berkapasitas gila-gilaan (4,28 petaflops!), BRIN bareng Korea Selatan resmi ngebuka gerbang buat riset AI dan big data tingkat dewa. Buat kita, ini bukan cuma soal komputer spek monster, tapi kesempatan emas lewat program pelatihan gratisan buat up-skill kemampuan data dan AI kita biar makin kompetitif di kancah global. Fix, teknologi kita otw naik kelas!









