KLH Libatkan Masyarakat Adat dalam Penanganan Lahan Rusak

Pewarta: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Rabu, 17 Juni 2026 | 16:29 WIB
KLH Libatkan Masyarakat Adat dalam Penanganan Lahan Rusak
KLH Libatkan Masyarakat Adat dalam Penanganan Lahan Rusak. [Ilustrasi Lahan/Pexels]

astakom.com, Jakarta - Setiap 17 Juni, dunia memperingati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia sebagai pengingat bahwa kerusakan lahan masih menjadi tantangan serius yang berdampak pada lingkungan, sumber daya alam, hingga kehidupan masyarakat.

Di Indonesia, momentum tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat berbagai upaya pemulihan lingkungan. Salah satu langkah yang kini didorong Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) adalah melibatkan masyarakat adat dalam penanganan degradasi lahan melalui penguatan dan pemanfaatan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pelibatan masyarakat adat dilakukan melalui penyusunan peta jalan perlindungan dan pemajuan kearifan lokal dalam konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan lingkungan hidup. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah merespons krisis lingkungan yang dinilai membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat.

KLH gaungkan pertobatan ekologis nasional

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH Rasio Ridho Sani mengatakan pihaknya saat ini tengah menyiapkan langkah-langkah yang disebut sebagai pertobatan ekologis nasional.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk kesadaran bersama sekaligus respons terhadap berbagai persoalan kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini. Karena itu, seluruh pihak dinilai perlu mengambil bagian dalam gerakan tersebut.

"Selamat Hari Penanggulangan Degrasi Lahan. Bahwa kami sekarang ini sedang melakukan upaya langkah-langkah ini, seperti yang disampaikan oleh Pak Menteri (Mohammad Jumhur Hidayat). Pak Menteri mengingatkan ke kita semua, atas terjadinya kerusakan lingkungan saat ini terjadi," kata Rasio Ridho Sani dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip astakom.com pada Rabu (17/06/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang diperingati setiap 17 Juni. Berdasarkan informasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), peringatan tahun ini kembali menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kualitas lahan dan mencegah kerusakan lingkungan yang semakin meluas.

Masyarakat adat dinilai punya pengalaman menjaga alam

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, KLH menggelar Kick Off Meeting Penyusunan Peta Jalan Perlindungan dan Pemajuan Kearifan Lokal dalam Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kegiatan itu menjadi ruang bagi pemerintah untuk mempelajari berbagai praktik dan pengetahuan lokal yang selama ini diterapkan masyarakat adat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Rasio mengatakan masyarakat adat memiliki pengalaman panjang dalam mempertahankan keseimbangan alam. Karena itu, kearifan lokal yang mereka miliki dinilai dapat menjadi referensi penting dalam mendukung upaya perlindungan lingkungan hidup di Indonesia.

KLH juga memberikan apresiasi terhadap peran masyarakat adat yang dinilai telah menjaga kelestarian alam jauh sebelum Indonesia merdeka. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat berbagai program pemulihan lingkungan yang tengah dijalankan pemerintah.

Penanaman pohon jadi bagian pemulihan lingkungan

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menegaskan bahwa krisis lingkungan saat ini membutuhkan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam melalui konsep tobat ekologis.

"Tobat ekologis adalah perubahan cara pandang dan perilaku kita terhadap alam. Kita tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata," ujar Jumhur berdasarkan keterangannya dikutip astakom.com pada Rabu (17/06/2026).

Menurutnya, konsep tersebut menjadi salah satu fondasi pemulihan lingkungan yang saat ini diwujudkan melalui agenda penanaman dua miliar pohon di Indonesia. Program itu ditujukan untuk mendukung rehabilitasi lahan kritis, pemulihan ekosistem, dan penguatan ketahanan lingkungan.

Dalam konteks tersebut, bambu menjadi salah satu vegetasi yang dinilai memiliki manfaat ekologis karena berperan menjaga tata air, mengendalikan erosi, menyerap karbon, sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Jumhur menegaskan bahwa keberhasilan gerakan lingkungan tidak hanya diukur dari banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat lingkungan secara berkelanjutan. (deA/aNs)

Gen Z Takeaway

Isu lahan rusak ternyata bukan cuma urusan pemerintah atau aktivis lingkungan. KLH kini mulai melibatkan masyarakat adat karena kearifan lokal yang mereka miliki dinilai menyimpan banyak pelajaran tentang cara menjaga alam secara berkelanjutan. Di tengah krisis lingkungan yang terus menjadi tantangan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi salah satu langkah yang diharapkan dapat memperkuat upaya pemulihan lingkungan di Indonesia.

KLH Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Penanganan Lahan Rusak Masyarakat Masyarakat Adat

Infografis

Terkini

Presiden Prabowo Pimpin Ratas Haji

Presiden Prabowo Subianto mengadakan rapat terbatas (Ratas) bersama jajaran Menteri Kabinet Merah Putih dan Tim Pengawas (Timwas) Haji, di Hambalang, Bogor.

Footage 18:52 WIB