Seskab Teddy Jelasin Kalau BBM Pertamax Nonsubsidi Memang Ikut Harga Minyak Dunia
astakom.com, Jakarta — Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya memberikan clarity terkait dinamika harga bahan bakar di Tanah Air.
Teddy menjelaskan bahwa Pertamax merupakan jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, yang berarti skema penentuan harganya bersifat flexible karena harus fully aligned mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.
"Pertamax adalah BBM nonsubsidi. Artinya, harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia. Apa saja BBM bersubsidi? Pertalite dan Solar. Harga BBM subsidi tidak naik," ungkap Teddy dilansir dari Instagram resmi Sekretariat Kabinet, Sabtu (13/06/2026).
BBM nonsubsidi RI lebih murah dibanding lainnya
Meskipun kebijakan Pertamina menaikkan harga varian nonsubsidi ini sempat memicu discourse di ruang publik, real data justru menunjukkan fakta yang berbeda.
Jika dikomparasi secara regional, harga per liter BBM nonsubsidi di Indonesia ternyata masih jauh lebih affordable alias murah jika dibandingkan dengan BBM RON 92/95 di beberapa negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura.
Langkah penyesuaian ini sendiri tidak terhindarkan setelah pasar global mengalami shock akibat meroketnya harga minyak dunia, imbas eskalasi geopolitik antara Iran versus Amerika Serikat dan Israel.
Namun, pemerintah langsung mengambil langkah safety net dengan memastikan bahwa BBM bersubsidi tidak mengalami kenaikan alias tetap stagnant di angka Rp10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp6.800 per liter untuk solar.
"Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan. Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," ujar Teddy.
Spill data BBM sekelas Pertamax di negara lain
Di sisi lain, kebijakan price adjustment untuk sektor nonsubsidi resmi diberlakukan per 10 Juni 2026, di mana harga Pertamax yang semula berada di angka Rp12.300 per liter kini mengalami shifting menjadi Rp16.250 per liter.
Angka baru ini menjadi titik tengah yang diambil manajemen untuk tetap menjaga stabilitas korporasi di tengah ketidakpastian global yang sedang high tension.
Untuk memitigasi misinformasi, Sekretariat Kabinet melalui rilis resminya langsung melakukan spill data komparasi harga RON 92/95 di ASEAN guna memberikan perspektif yang lebih fair.
Berdasarkan data tersebut, harga BBM sekelas Pertamax di Filipina sudah menyentuh Rp22.158 per liter, Myanmar Rp25.085 per liter, Thailand Rp28.910 per liter, Laos Rp31.945 per liter, dan Singapura memimpin di angka tertinggi sebesar Rp42.971 per liter. (aLf/aNs)
Gen Z Takeaway
Kenaikan Pertamax perlu dilihat dalam konteks bahwa BBM nonsubsidi memang mengikuti harga minyak dunia yang sedang naik. Sementara itu, pemerintah tetap menahan harga Pertalite dan Solar, sehingga perlindungan bagi masyarakat tetap berjalan. Bahkan setelah penyesuaian, harga Pertamax masih relatif lebih murah dibandingkan BBM setara di sejumlah negara Asia Tenggara.









