Indonesia Adopsi AI Capai 92 Persen, Wamen Nilai Jadi Sinyal Positif Kesiapan Teknologi
astakom.com, Jakarta - Penggunaan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) di Indonesia saat ini semakin meluas dan telah menjadi bagian dari berbagai aktivitas digital masyarakat, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga penerapan di sektor industri dan pekerjaan berbasis teknologi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi berada pada tahap awal adopsi, tetapi sudah masuk ke fase penggunaan yang lebih umum dan terintegrasi dalam ekosistem digital.
Di tengah tingginya pemanfaatan tersebut, pemerintah menilai masih terdapat tantangan penting pada aspek kesiapan sumber daya manusia, terutama dalam hal kemampuan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan teknologi AI secara mandiri.
Melansir dari siaran pers yang diunggah di laman resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai sekitar 92 persen pada Februari 2026. Ia menilai capaian tersebut menjadi sinyal positif terhadap kesiapan masyarakat dalam merangkul teknologi baru.
Jadi sinyal positif transformasi digital
"Data menunjukkan bahwa adopsi AI telah mencapai 92 persen di tahun 2026 pada Februari yang lalu, dan itu merupakan sinyal positif bahwa masyarakat kita sebenarnya cukup siap untuk merangkul teknologi baru," ujar Wamen Nezar Patria dikutip pada Jumat, (12/06/2026).
Capaian ini menunjukkan bahwa teknologi AI telah digunakan secara luas di berbagai sektor, baik oleh individu maupun dunia industri. AI kini tidak lagi terbatas pada tahap uji coba, melainkan sudah menjadi bagian dari aktivitas digital sehari-hari.
Kesiapan teknologi masih dihadapkan pada tantangan skill
"Meskipun Indonesia punya kapasitas dari segi koneksi seperti yang saya sebutkan tadi, namun Indonesia masih masuk dalam kategori laggards dari segi kesiapan keterampilan AI," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa meskipun tingkat adopsi tinggi, kesiapan keterampilan nasional masih perlu ditingkatkan.
Berdasarkan Technology and Innovation Report 2025, Indonesia masih berada dalam kategori laggards dalam hal kesiapan skill AI, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara penggunaan teknologi dan kemampuan pengembangan.
Pemerintah dorong penguatan talenta AI
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital menjalankan program AI Talent Factory yang berfokus pada pengembangan talenta muda di bidang AI.
Program ini diarahkan untuk mendorong lahirnya solusi berbasis kecerdasan artifisial yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan dan permasalahan di masyarakat. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
AI di Indonesia sudah jadi bagian dari keseharian digital dan makin luas dipakai, tapi tantangan berikutnya bukan lagi soal adopsi—melainkan kesiapan skill supaya bisa ikut membangun, bukan hanya menggunakan.









