Coach Hong Myung-bo: Banyak Pemain Pentas di Eropa, Korsel Pede Bersaing Piala Dunia 2026
astakom.com, Jakarta – Pelatih Kepala Tim Nasional Korea Selatan, Hong Myung-bo, menegaskan bahwa generasi baru sepak bola negaranya kini telah mengikis habis rasa minder di level internasional.
Kehadiran para pemain yang merumput di liga-liga top Eropa dinilai menjadi faktor utama yang mengubah peta mentalitas skuad Taegeuk Warriors.
"Saat ini banyak pemain kami yang berkompetisi di Eropa, dan saya melihat hal itu telah menghilangkan rasa takut yang dulu pernah ada saat tampil di panggung dunia," ujar Hong dalam wawancara eksklusif bersama FIFA, Jumat (5/6/2026).
Kondisi ini, menurut Hong, sangat kontras dengan eranya saat masih aktif bermain. Ia optimistis, dengan kepercayaan diri yang terus tumbuh, Korea Selatan kini bukan lagi tim yang sekadar mengincar status giant killer atau pembuat kejutan sesaat, melainkan tim yang siap bersaing konstan di jajaran elite dunia.
Penampilan ketujuh Hong Myung-bo
Bagi Hong Myung-bo pribadi, turnamen mendatang akan membawa namanya masuk dalam buku sejarah sepak bola global. Saking ikoniknya, mantan bek tangguh ini bersiap mencatatkan penampilan ketujuhnya di ajang Piala Dunia, baik sebagai pemain, asisten pelatih, maupun pelatih kepala. Catatan ini bahkan melampaui rekor legenda Brasil, Mario Zagallo, yang mengoleksi enam edisi Piala Dunia dalam berbagai peran.
Hong memulai debutnya sebagai pemain berusia 21 tahun pada Piala Dunia 1990, disusul edisi 1994, 1998, dan puncaknya pada 2002 saat ia menyabet penghargaan Bronze Ball—pemain Asia pertama yang meraihnya, usai membawa Korsel menembus semifinal. Ia kemudian beralih peran menjadi asisten pelatih pada 2006, pelatih kepala pada 2014, dan kini kembali memegang tongkat komando.
Kendati memiliki warisan sejarah yang masif pada edisi 2002, Hong mengaku enggan menjadikannya sebagai beban bagi Son Heung-min dan kawan-kawan.
"Saya ingin mereka melihat Piala Dunia sebagai panggung untuk dinikmati, bukan untuk ditakuti. Secara pribadi, saya bahkan tidak pernah berbicara tentang tahun 2002 kepada para pemain. Bagi sebagian dari mereka, itu terasa seperti sejarah kuno karena mereka bahkan belum lahir saat itu," canda Hong.
Son Heung-min sebagai kapten tim
Terkait peran kapten tim, Son Heung-min, Hong memahami betul besarnya ekspektasi publik yang dipikul bintang Tottenham Hotspur tersebut. Pengalaman pribadinya sebagai kapten Korsel di masa lalu membuatnya mafhum akan tekanan ekstrem yang dirasakan Son.
"Son adalah pemain berpengalaman yang tahu persis apa yang dibutuhkan di setiap tahapan Piala Dunia. Tugas saya adalah membantu meringankan beban di pundaknya agar ia bisa tampil maksimal tanpa tekanan berlebih," pungkasnya.
Dengan perpaduan kedisiplinan taktik modern dan sisa-sisa filosofi Tuhon (semangat juang) khas Korea, Hong Myung-bo kini bersiap memimpin armada barunya untuk menuliskan babak baru yang lebih mapan di pentas dunia. (ACwan/aRsp)
Gen Z Takeaway
Coach Hong Myung-bo otw cetak sejarah ngerasain vibes Piala Dunia sampai 7 kali—literally a living legend! Tapi alih-alih hobi pamer masa lalu pas Korsel masuk semifinal 2002, dia milih gak nge-fomo-in skuadnya biar Son Heung-min dkk gak kena mental pressure. Apalagi sekarang pilar Korsel udah banyak yang abroad di klub-klub top Eropa, jadi mentalitas mereka udah naik level, anti-minder, dan gak ada lagi tuh ketakutan pas ketemu tim raksasa. Fix, Korsel bukan lagi tim yang cuma modal beruntung bikin kejutan instan, tapi emang udah siap slay di jajaran elite dunia!









