Kemarau is Coming! Kementan Gaspol Perkuat Penerapan Teknologi Pertanian Adaptif
astakom.com, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) lewat Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) lagi gaspol memperkuat penerapan teknologi pertanian adaptif.
Langkah taktis ini diambil buat menghadapi musim kemarau 2026, sekaligus memastikan produktivitas pangan nasional tetap survive dan gak kena mental.
Maksimalkan varietas unggul dan budi daya spesifik lahan
Lewat jaringan BRMP di berbagai provinsi, Kementan gencar mendorong para petani buat memanfaatkan varietas unggul yang adaptif, teknologi hemat air, serta pola budi daya khusus lahan kering.
Skema ini jadi jurus andalan Kementan biar produksi pangan di Tanah Air tetap berjalan optimal dan gak boncos.
Mitigasi cepat masuknya musim kemarau
Aksi nyata ini dilakukan sebagai langkah mitigasi yang satset seiring masuknya musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.
Berbagai inovasi keren dan teknologi pertanian yang sudah di-prepare diharapkan bisa menjadi support system terbaik bagi para petani dalam menjaga produktivitas mereka di lapangan.
Warning dan instruksi gaspol dari Mentan
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, beberapa saat lalu menegaskan kalau antisipasi harus dilakukan sejak dini lewat percepatan tanam, manajemen air yang oke, dan penggunaan varietas adaptif di daerah yang rawan krisis air.
“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Menteri Amran, dilansir laman resmi Kementan yang disitat astakom.com pada Kamis (28/05/2026).
BRMP spill benih unggul ke berbagai daerah
Sejak awal 2026, BRMP di berbagai daerah sudah memperkuat implementasi teknologi adaptif. Ini lewat diseminasi benih unggul tahan kering, pendampingan hemat air, sampai penguatan pola tanam lokal.
Di Kepulauan Riau, petani dapat varietas Cakrabuana Agritan dan Inpari 38 Tadah Hujan Agritan. Sedangkan di Bali, BRMP mendukung pemanfaatan benih jagung Jakarin yang tetap bisa tumbuh subur walau minim air.
Inovasi pengairan AWD dan sistem Largo Super
Bukan cuma fokus di benih, Kementan juga memperkenalkan teknologi pengairan berselang alias Alternate Wetting and Drying (AWD) yang super efisien tapi tetap bikin tanaman produktif.
Plus, ada juga teknologi Largo Super (Larikan Gogo Super) untuk lahan kering yang menggabungkan padi gogo, sistem tanam larikan, pupuk berimbang, hingga bahan organik secara berkelanjutan.
Pentingnya inovasi yang sesuai karakteristik wilayah
Kepala BRMP Kementan, Fadjry Djufry, menyatakan kalau penguatan inovasi teknologi yang spesifik lokasi adalah kunci utama buat menjaga keberlanjutan pangan nasional saat ini.
“BRMP terus mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian sesuai karakteristik wilayah, mulai dari varietas adaptif, pengelolaan air hemat, hingga pola budidaya spesifik lahan kering agar produktivitas pertanian tetap terjaga,” ujar Fadjry.
Pendampingan non-stop demi pertanian tangguh
Fadjry juga menambahkan kalau BRMP Provinsi di seluruh Indonesia bakal terus melakukan pendampingan bareng Pemda, penyuluh, dan petani biar inovasi ini bisa langsung diterapkan secara massal.
“Penguatan teknologi di lapangan menjadi langkah penting agar petani semakin siap menghadapi dinamika iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional,” pungkasnya. (aNs)
Gen Z Takeaway
Menghadapi musim kemarau 2026, Kementan lewat BRMP lagi gaspol ngasih support system terbaik biar petani gak kena mental dan produksi pangan gak boncos. Lewat mitigasi yang satset, mereka nge-spill jurus andalan mulai dari benih unggul tahan kering kayak Cakrabuana dan Jakarin, sampai teknologi pengairan AWD dan Largo Super yang efisien abis. Intinya, inovasi yang spesifik lokasi ini se-fleksibel itu buat bikin pertanian kita tetap tangguh dan survive walau iklim lagi gak bersahabat!










