Ekonomi Global Makin Kompleks, Wamenkeu Juda Agung: APBN Wajib Adaptif
Pemerintah perkuat APBN dan sektor keuangan agar ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi risiko geopolitik, teknologi, dan rantai pasok global.
Pemerintah perkuat APBN dan sektor keuangan agar ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi risiko geopolitik, teknologi, dan rantai pasok global.
Kemenkeu memastikan cicilan perdana KDKMP Rp37,7 triliun sudah dianggarkan APBN dan siap dibayar sesuai jatuh tempo.
PPN dipastikan belum naik. Penerimaan pajak hingga Agustus 2026 tembus Rp1.409,9 T, tapi masih berpotensi shortfall Rp46,9 T.
APBN bayar subsidi dan kompensasi Rp331,4 triliun hingga Agustus 2026 untuk menopang ekonomi, sambil tetap menjaga efisiensi dan kredibilitas fiskal.
Belanja pemerintah pusat tembus Rp1.791,5 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 29%. Belanja K/L jadi yang paling ngebut, naik 33%.
Penerimaan pajak hingga Agustus 2026 tumbuh 24,1% jadi Rp1.409,9 triliun, didorong aktivitas ekonomi dan perbaikan administrasi pajak.
Pendapatan negara hingga Agustus 2026 naik 25,4% menjadi Rp2.055,6 triliun, sementara defisit APBN masih terjaga di 0,93% PDB.
Suahasil Nazara ungkap arahan Presiden Prabowo: jaga APBN tetap sehat, kredibel, dan mendukung program prioritas pemerintah serta ekonomi tetap stabil.
Suahasil ungkap pesan Prabowo: APBN harus sehat, kredibel, efisien, dan jadi stabilisator ekonomi demi kesejahteraan masyarakat.
Kemenkeu belum siapkan stimulus khusus akibat erupsi Anak Krakatau, tapi siap guyur anggaran darurat BNPB jika dampaknya makin signifikan.