Ekonomi Global Makin Kompleks, Wamenkeu Juda Agung: APBN Wajib Adaptif

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 29 September 2026 | 22:03 WIB
Ekonomi Global Makin Kompleks, Wamenkeu Juda Agung: APBN Wajib Adaptif
Ekonomi Global Makin Kompleks, Juda Agung: APBN Wajib Adaptif! [Dok. Kementerian Keuangan]

astakom.com, Jakarta - Pemerintah terus mencermati risiko geopolitik global di tengah disrupsi teknologi, fragmentasi keuangan, sampai berbagai kemungkinan hambatan rantai pasok global membuat situasi ekonomi semakin kompleks. 

Upaya pemerintah buat memperkuat ketahanan fiskal dan sektor keuangan terus digaspol supaya ekonomi nasional tidak hanya tahan banting, tetapi juga tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung ngespill kalau berbagai risiko global sekarang makin saling terhubung. Contoh nyatanya, ketegangan geopolitik bisa mengganggu pasokan minyak dan memicu kenaikan harga energi. 

Kondisi ini kemudian menimbulkan efek domino terhadap inflasi, suku bunga global, arus modal, nilai tukar, biaya pembiayaan, hingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Isu global makin out of control

Menghadapi situasi yang dinamis ini, kebijakan fiskal perlu diposisikan memiliki fungsi ganda yang krusial. APBN harus berfungsi sebagai shock absorber (peredam guncangan) sekaligus penjaga momentum pertumbuhan.

Artinya, anggaran negara mesti bisa melindungi masyarakat, men-support aktivitas produktif, serta gesit merespons risiko yang muncul dengan tetap menjaga disiplin, kredibilitas, dan keberlanjutan fiskal.

“Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan, melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan,” kata Juda dalam keterangan resminya, dikutip astakom.com pada Selasa (29/09/2026).

Sektor keuangan wajib level up

Di sisi lain, ketahanan sektor keuangan menjadi fondasi utama buat pertumbuhan ekonomi. Sistem keuangan perlu dijaga supaya tetep stabil dan efisien, serta semakin dalam dan inklusif demi menyediakan sumber pembiayaan yang beragam dan mengarahkan modal ke kegiatan produktif.

Peran perbankan pun harus berkembang. Bank nggak boleh cuma sekadar menyalurkan kredit konvensional, tetapi harus menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, mensupport UMKM, mendorong inovasi, menciptakan lapangan kerja, serta mengatrol daya saing bangsa.

Transformasi digital dan adopsi kecerdasan artifisial (AI) juga wajib diiringi dengan tata kelola serta manajemen risiko yang kuat. Juda mengingatkan kalau efisiensi semata nggak selalu berarti ketahanan. Karenanya, sistem keuangan tetap membutuhkan buffers (penyangga), jalur alternatif, dan pengaturan kontingensi untuk memastikan keberlangsungan layanan serta menjaga kepercayaan publik.

Kolaborasi solid lewat KSSK

Agar penguatan ketahanan ini berjalan maksimal, koordinasi antara kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, dan regulasi sektor keuangan menjadi harga mati.

Peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sangat diandalkan sebagai kerangka kelembagaan yang bertugas memantau, menjaga stabilitas sekaligus mengoordinasikan respons cepat terhadap berbagai risiko yang muncul.

Menutup penjelasannya, Juda menyampaikan pesan mendalam mengenai arti ketahanan yang sesungguhnya di tengah ketidakpastian global.

Kemampuan beradaptasi

“Ketahanan bukan berarti tidak adanya guncangan. Ketahanan adalah kemampuan kita untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik,” ungkap Juda.

Dengan fondasi fiskal yang solid, strategi yang adaptif, serta sinergi lintas lembaga yang kuat, perekonomian Indonesia optimis bisa terus melaju stabil menghadapi berbagai tantangan zaman. (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Ekonomi global lagi masuk fase penuh plot twist, mulai dari geopolitik, harga energi, sampai gangguan rantai pasok yang bisa merembet ke inflasi dan nilai tukar. Karena itu, pemerintah menegaskan APBN harus tetap jadi shock absorber sekaligus menjaga pertumbuhan, sementara sektor keuangan dituntut makin kuat, inklusif, dan siap menghadapi era digital serta AI. Kuncinya, fiskal, moneter, dan sektor keuangan harus makin solid lewat koordinasi KSSK agar ekonomi Indonesia tetap adaptif tanpa kehilangan kredibilitas.

APBN 2026 Wamenkeu Juda Agung Kementerian Keuangan Strategi fiskal

Infografis

Terkini