Gubernur DKI Sebut Polusi Jakarta Turun saat JRF, Ini Data Pemantauan Udara
astakom.com, Jakarta – Kualitas udara Jakarta menjadi sorotan saat Jakarta Running Festival (JRF) dan konser Kanye West atau Ye berlangsung pada 24–25 Oktober 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) membantu menekan polusi udara di Ibu Kota selama dua hari pelaksanaan kegiatan tersebut.
Melansir dari media nasional yang dikutip pada Minggu, (25/10/2026), Pramono menyampaikan bahwa indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 61 ketika ia membuka flag-off kategori full marathon JRF sekitar pukul 04.00 WIB. Angka itu kemudian naik menjadi 68 dan mencapai 80 pada siang hari.
"Selama ini yang selalu menjadi beban adalah mengenai cuaca. Tapi alhamdulillah selama dua hari, dan tadi pagi saya mengalami sendiri ketika jam 4 membuka flag-off untuk full marathon, kita di angka 61 kemudian naik menjadi 68 dan ketika siang 80," jelanya kepada awak media di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, pada Minggu, (25/10/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan penilaian Pramono terhadap kondisi udara selama kegiatan berlangsung. Namun, angka indeks yang disampaikannya perlu dibedakan dari hasil pengukuran konsentrasi polutan agar dampak OMC tidak langsung disimpulkan hanya berdasarkan perubahan angka tersebut.
OMC digelar untuk mendukung kegiatan luar ruang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaksanakan OMC pada 21–25 Oktober 2026. Berdasarkan keterangan resmi BMKG, operasi ini menjadi salah satu upaya untuk membantu menekan polusi udara di Jakarta.
Pelaksanaan OMC mempertimbangkan kondisi atmosfer dan kajian meteorologi untuk menentukan waktu serta lokasi penyemaian awan. Hujan yang dihasilkan berpotensi membantu mengurangi sebagian partikel pencemar di udara, tetapi efektivitasnya bergantung pada kondisi cuaca dan karakteristik polutan.
Karena itu, OMC menjadi salah satu langkah pendukung penanganan polusi, bukan pengganti pengendalian emisi dari kendaraan, industri, maupun sumber pencemar lainnya.
Data pemantauan menunjukkan polutan cenderung turun
Laporan resmi BPBD DKI Jakarta pada Sabtu, (24/10/2026) menyebut pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) menunjukkan kecenderungan penurunan konsentrasi sejumlah polutan di lima wilayah Jakarta pada pagi hari.
Pemantauan tersebut mencakup polutan seperti PM2.5, PM10, dan sulfur dioksida. Perubahan konsentrasi polutan dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk kondisi meteorologi, aktivitas sumber emisi lokal, serta kemungkinan kontribusi OMC.
Meski ada kecenderungan penurunan pada periode pemantauan tersebut, pengaruh masing-masing faktor tetap perlu dikaji lebih lanjut. Data pada Sabtu pagi juga tidak otomatis menggambarkan kondisi udara sepanjang dua hari pelaksanaan JRF.
Klaim penurunan polusi perlu dibaca bersama data teknis
Pernyataan Pramono mengenai angka 61, 68, dan 80 merujuk pada indeks kualitas udara yang ia sampaikan kepada wartawan pada Minggu, (25/10/2026). Sementara itu, laporan BPBD membahas konsentrasi polutan tertentu yang terpantau di sejumlah wilayah pada Sabtu, (24/10/2026).
Kedua jenis data tersebut tidak bisa langsung disamakan karena indikator, waktu pengukuran, dan cakupan lokasinya berbeda. Untuk memastikan seberapa besar pengaruh OMC terhadap kualitas udara, diperlukan analisis lebih lanjut yang turut mempertimbangkan faktor cuaca dan sumber emisi.
Dengan demikian, penurunan konsentrasi sejumlah polutan yang dilaporkan pada pagi hari pertama JRF menjadi bagian dari gambaran kualitas udara Jakarta selama periode tersebut. Namun, besarnya kontribusi OMC terhadap perubahan itu belum dapat dipastikan hanya dari data yang tersedia. ( deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Kualitas udara Jakarta saat JRF menjadi perhatian, tetapi klaim polusi menurun tetap perlu dibaca berdasarkan data dan indikator yang tepat. OMC berpotensi membantu mengurangi sebagian partikel pencemar melalui hujan, sedangkan perbaikan kualitas udara dalam jangka panjang tetap membutuhkan pengendalian emisi dan pemantauan yang konsisten.








