Jumlah Hotspot Menurun 84 Titik , Kemenhut Tetap Perkuat Operasi Karhutla
astakom.com, Jakarta – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turun 84 titik. Namun, penanganan di lapangan belum bisa dikendurkan karena beberapa wilayah masih menghadapi kebakaran, bahkan Kalimantan Tengah mencatat kenaikan hotspot. Melansir dari keterangan resmi Kementerian Kehutanan pada Minggu (18/10/2026), pemerintah tetap memperkuat pemadaman darat dan udara, penyediaan sumber air, serta Operasi Modifikasi Cuaca untuk menangani kebakaran dan mengurangi dampak asap.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) hingga Sabtu (17/10/2026) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 270 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence). Angka tersebut turun dari 354 titik pada hari sebelumnya.
Di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, jumlah hotspot juga berkurang dari 177 menjadi 125 titik. Meski begitu, perkembangan di setiap daerah berbeda sehingga penurunan nasional tidak serta-merta berarti seluruh wilayah sudah terbebas dari ancaman kebakaran.
Sebaran hotspot di enam provinsi berbeda
Data SiPongi menunjukkan Kalimantan Tengah mengalami kenaikan hotspot, sedangkan sejumlah provinsi lainnya mencatat penurunan. Berikut rincian titik panas di enam provinsi prioritas berdasarkan pemantauan tersebut:
- Kalimantan Tengah: 92 titik, naik dari 19 titik.
- Kalimantan Barat: 22 titik, turun dari 24 titik.
- Sumatera Selatan: 9 titik, turun dari 132 titik.
- Kalimantan Selatan: 2 titik, sebelumnya nihil.
- Jambi: 0 titik, turun dari 2 titik.
- Riau: 0 titik, tetap nihil hotspot high confidence.
Kenaikan di Kalimantan Tengah menjadi salah satu alasan operasi pengendalian tetap diperkuat. Di sisi lain, penurunan di Sumatera Selatan dan beberapa provinsi lainnya tetap perlu diikuti pemantauan untuk memastikan kondisi lapangan.
Perlu diketahui, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Jumlah titik panas tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar karena satu kejadian dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot.
Karena itu, hasil pemantauan satelit masih perlu diverifikasi melalui pemeriksaan langsung atau groundcheck. Langkah ini membantu petugas memastikan kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan yang sesuai dengan situasi di lapangan.
Pemadaman diperkuat di Tanjung Puting dan Sumatera Selatan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terus memantau penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, termasuk kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Pada Sabtu (17/10/2026), pemadaman melalui udara menggunakan metode water bombing dilakukan sebanyak 16 kali di kawasan tersebut.
Untuk mendukung operasi udara, pemerintah juga menyiapkan tambahan armada berupa:
- Dua helikopter TNI.
- Satu helikopter Kementerian Kehutanan.
Dukungan udara tersebut melengkapi penanganan dari darat yang mencakup pembukaan akses menuju lokasi kebakaran, pembangunan dan pemanfaatan sumur bor, serta penyediaan pompa dan jaringan distribusi air.
Upaya perlindungan kawasan turut melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, relawan, Masyarakat Peduli Api, dan warga desa sekitar. Personel gabungan ini mendukung pengendalian api agar tidak meluas ke kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, termasuk zona inti dan habitat orangutan.
Setelah memantau operasi di Tanjung Puting, Menteri Kehutanan melanjutkan peninjauan ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, pada Sabtu malam. Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi lapangan sekaligus memastikan personel tetap menjalankan pengendalian api.
Penanganan di lahan gambut juga membutuhkan perhatian khusus. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah meskipun nyala di atasnya sudah tidak terlihat. Untuk mencegah kebakaran kembali muncul, petugas terus melakukan penyisiran, pembasahan, pendinginan, dan mopping up atau pemadaman lanjutan terhadap sisa bara.
Sementara itu, di Sumatera Selatan, Kementerian Kehutanan bersama BMKG dan TNI melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 16–25 Oktober 2026. Operasi ini ditujukan untuk mendukung penanganan karhutla dan mengurangi konsentrasi asap.
Pada Sabtu (17/10/2026), kegiatan OMC meliputi:
- Satu penerbangan (sortie) penyemaian dry ice dengan bahan sekitar 800 kilogram.
- Satu penerbangan penyemaian natrium klorida (NaCl) yang diarahkan pada potensi awan hujan apabila kondisi atmosfer mendukung.
Dry ice digunakan untuk membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang dapat menahan asap di dekat permukaan. Sementara itu, penyemaian NaCl dilakukan untuk mendukung pembentukan hujan ketika kondisi awan memungkinkan.
Pemantauan selama operasi menunjukkan jarak pandang di Palembang mengalami perbaikan. Meski demikian, penanganan tidak dihentikan karena OMC tetap menjadi bagian dari upaya terpadu bersama pemadaman darat, operasi udara, pemantauan kualitas udara, dan penegakan hukum.
Sebanyak 61 armada udara disiagakan, kualitas udara tetap dipantau
Secara nasional, pemerintah masih menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Pembagiannya meliputi:
- 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca.
- 44 unit untuk operasi water bombing.
Selain dukungan udara, penanganan di darat dilakukan melalui patroli, pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, pemutusan bagian depan dan sisi api, penyekatan penjalaran kebakaran, pembasahan, penyisiran bara, hingga pendinginan.
Di tengah penurunan hotspot, kualitas udara di sejumlah wilayah juga masih menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan berbasis PM2,5 dalam keterangan Kementerian Kehutanan, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah lokasi di Kalimantan dan Sumatera masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan berbahaya secara lokal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa berkurangnya titik panas tidak selalu langsung diikuti perbaikan kualitas udara. Asap dari kebakaran gambut dapat bertahan dan berpindah mengikuti kondisi atmosfer. Karena itu, pemadaman sumber api tetap perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan masyarakat.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan kualitas udara memburuk, beberapa langkah yang dianjurkan meliputi:
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan.
- Menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
- Memberikan perhatian khusus kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Penurunan 84 hotspot secara nasional menjadi perkembangan positif, tetapi bukan berarti ancaman karhutla sudah berakhir. Kenaikan titik panas di Kalimantan Tengah dan masih adanya wilayah dengan kualitas udara buruk menunjukkan bahwa pemadaman serta pemantauan perlu terus berjalan. Masyarakat juga bisa ikut membantu dengan tidak membakar lahan dan segera melaporkan indikasi kebakaran kepada petugas.









