2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, Petani Makin Sejahtera: 33 Provinsi Catat Kenaikan NTP
astakom.com, Jakarta - Hasil dari perbaikan ekosistem pertanian di era Presiden Prabowo Subianto mulai membuahkan hasil nyata. Kesejahteraan masyarakat desa terbukti mengalami penguatan, tercermin dari meningkatnya indikator daya beli dan daya tukar petani secara nasional.
Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 sukses menyentuh angka 129,19 atau melesat 1,05 persen dibanding Juli 2026, yakni di angka 127,84. Kenaikan ini memperlihatkan bahwa harga jual hasil panen petani tumbuh lebih kencang dibandingkan dengan biaya yang harus mereka keluarkan untuk operasional maupun konsumsi harian.
Secara rincian, indeks harga yang diterima petani naik 1,14 persen, sedangkan indeks harga yang mereka bayar cuma naik tipis 0,09 persen. Selisih positif ini jadi bukti kalau posisi tawar petani kita makin solid dan thriving.
Pergerakan subsektor dan kenaikan wilayah
Kenaikan NTP terasa di hampir seluruh subsektor utama yakni subsektor tanaman pangan mencatat peningkatan tertinggi sebesar 1,62 persen, disusul tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,53 persen, peternakan sebesar 0,96 persen, dan perikanan sebesar 0,69 persen.
Meski begitu dinamika antar-komoditas tetap ada. Subsektor hortikultura mencatat penurunan NTP sebesar 2,84 persen, yang menandakan pentingnya evaluasi berkelanjutan sesuai karakter produk.
Secara geografis, dari 38 provinsi yang dipantau, sebanyak 33 provinsi mencatatkan tren positif. Provinsi Sulawesi Barat menjadi yang paling bisa flexing dengan lonjakan NTP tertinggi mencapai 6,87 persen, berkat dorongan melambungnya harga kelapa sawit. Secara kumulatif (Januari-Agustus 2026), NTP nasional tercatat 3,18 persen lebih tinggi ketimbang periode yang sama di tahun sebelumnya.
Sinergi kebijakan demi masa depan pertanian
Geliat ekonomi warga desa ini merupakan muara dari combo kebijakan terintegrasi dari pemangkasan harga pupuk hingga 20 persen (Urea Rp1.800/kg, NPK Rp1.840/kg, Kakao Rp2.640/kg, ZA Tebu Rp1.360/kg, Organik Rp640/kg), pemangkasan 145 aturan birokrasi, pembenahan sistem e-RDKK, hingga penindakan tegas 2.231 distributor nakal dan peredaran pupuk palsu penyebab rugi triliunan rupiah.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa kemudahan memperoleh pupuk dan kebersihan distribusi merupakan fondasi penting bagi peningkatan produksi dan keuntungan petani.
“Kalau pupuk mudah diperoleh dan distribusinya bersih, produksi meningkat, petani untung, dan pangan nasional semakin kuat. Itu tujuan utama yang terus kami perjuangkan,” kata Amran dalam keterangannya dikutip astakom.com pada Sabtu (17/10/2026).
Melalui integrasi ini, sasaran kepada 155 juta penerima manfaat bukan lagi sekadar angka di atas kertas. Dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo membuktikan bahwa menjaga daya beli petani serta menyediakan sarana produksi yang efisien adalah investasi paling worth it buat menopang pilar ketahanan pangan Indonesia di masa depan. (Shnty/RaM)
Gen Z Takeaway
Kesejahteraan petani Indonesia menunjukkan tren positif. Berdasarkan data BPS, NTP nasional pada Agustus 2026 naik 1,05% menjadi 129,19, didukung kenaikan harga yang diterima petani lebih tinggi dibanding biaya yang dibayarkan. Tren ini diperkuat kebijakan pemerintah, mulai dari pemangkasan harga pupuk hingga pembenahan distribusi dan penindakan distributor nakal. Meski belum merata di semua subsektor, penguatan daya beli petani menjadi modal penting untuk menjaga produktivitas dan ketahanan pangan nasional.









