Seluruh Rumah Sakit Terdampak Bencana Sumatera Kembali Beroperasi, Pemulihan Pustu Berlanjut
astakom.com, Jakarta – Seluruh rumah sakit terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah kembali beroperasi. Meski begitu, pemulihan fasilitas kesehatan belum sepenuhnya rampung karena sejumlah puskesmas pembantu (pustu) masih membutuhkan perbaikan hingga pembangunan ulang.
Melansir laporan media nasional pada Kamis (15/10/2026), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemulihan dilakukan secara bertahap setelah banjir dan tanah longsor melanda tiga provinsi tersebut pada akhir November 2025.
“Alhamdulillah satu bulan seluruh rumah sakit di tiga provinsi ini bisa beroperasi kembali. Tidak penuh, tapi setidaknya untuk layanan-layanan yang sangat diperlukan itu bisa dilakukan,” ujar Budi bersama dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian di Jakarta, pada Kamis (15/10/2026).
Rumah sakit dan puskesmas kembali beroperasi
Bencana tersebut berdampak terhadap hampir 100 rumah sakit, sekitar 1.000 puskesmas, dan kurang lebih 2.000 pustu. Sejumlah fasilitas mengalami kerusakan akibat banjir dan timbunan lumpur hingga tidak dapat memberikan pelayanan seperti biasa.
Rumah sakit menjadi prioritas pemulihan karena menangani pasien dengan kondisi kritis. Pemerintah juga perlu memastikan layanan yang tidak bisa ditunda, seperti operasi, persalinan, dan cuci darah, tetap tersedia.
Setelah rumah sakit, pemulihan dilanjutkan pada puskesmas. Budi menyebut seluruh puskesmas terdampak telah kembali beroperasi dalam waktu sekitar dua setengah bulan setelah bencana. Fasilitas ini berperan dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar, imunisasi, serta menyaring pasien yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit.
Enam pustu masih perlu dibangun ulang
Pemulihan pustu masih menyisakan pekerjaan meski sebagian besar fasilitas telah kembali beroperasi setelah enam bulan penanganan. Enam pustu di Sumatera Utara masih memerlukan pembangunan kembali atau renovasi menyeluruh karena mengalami kerusakan berat. Sebagian bahkan hanyut terbawa banjir.
“Jadi kita harus cari tanah baru, lokasi baru untuk dibangun Pustu yang baru,” ucapnya.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah membagi tanggung jawab berdasarkan jenis pekerjaan. Kementerian Pekerjaan Umum menangani pembangunan fisik, sedangkan Kementerian Kesehatan menyediakan alat kesehatan dan sarana pendukung pelayanan.
Budi menyebut Kemenkes telah menyalurkan anggaran Rp157,88 miliar hingga September 2026 untuk mendukung pemulihan fasilitas kesehatan terdampak bencana.
Pemulihan ditargetkan berlanjut hingga 2027
Pemerintah menargetkan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab Kemenkes selesai pada Desember 2026. Sementara itu, sejumlah pekerjaan konstruksi oleh Kementerian Pekerjaan Umum diperkirakan berlanjut hingga 2027.
“Kita harapkan mudah-mudahan sejak bencana ini terjadi di akhir November 2025, di 2026 ini semuanya secara operasional sudah kembali beroperasi, dan diharapkan nanti di 2027 seluruh fasilitas kesehatannya sudah pulih kembali seperti sediakala, termasuk juga fisiknya,” ucap Budi.
Pemulihan ini tidak hanya menyangkut kembalinya pelayanan medis, tetapi juga perbaikan bangunan dan pembangunan fasilitas yang rusak berat. Pemerintah masih perlu menuntaskan pekerjaan tersebut agar layanan kesehatan di wilayah terdampak dapat kembali pulih secara menyeluruh. (deA/aNs)
Gen Z Takeaway
Seluruh rumah sakit terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah kembali beroperasi. Namun, enam pustu di Sumatera Utara masih membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pemerintah menargetkan pekerjaan Kemenkes selesai pada akhir 2026, sedangkan sebagian pembangunan fisik diperkirakan berlanjut hingga 2027.









