Bosan Wisata yang Gitu-Gitu Aja? Saatnya Healing Spiritual di 'Camino de Flores' Garapan Kemenpar

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Kamis, 15 Oktober 2026 | 03:03 WIB
Bosan Wisata yang Gitu-Gitu Aja? Saatnya Healing Spiritual di 'Camino de Flores' Garapan Kemenpar
Kenalan dengan Camino de Flores, Rute Wisata Spiritual yang Disiapkan Kemenpar (Dok. Kemenpar)

astakom.com, Jakarta – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bakal punya pilihan wisata yang memadukan perjalanan jalan kaki, eksplorasi budaya, dan pengalaman spiritual. Konsep bernama Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores ini disiapkan untuk menghubungkan berbagai destinasi di Pulau Flores sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal.

Berbeda dari wisata yang berfokus pada satu tempat, Camino de Flores mengajak peserta menyusuri sejumlah wilayah sambil mengenal situs religi, desa wisata, lanskap alam, hingga tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Program ini juga diharapkan membantu pemerataan kunjungan wisatawan yang selama ini cenderung terkonsentrasi di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Melansir keterangan resmi Kementerian Pariwisata dikutip pada Rabu, (14/10/2026), Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana memperkenalkan Camino de Flores sebagai pola perjalanan wisata baru yang menggabungkan potensi alam, budaya, dan religi Flores. Inisiatif ini sekaligus diarahkan untuk mendukung pemulihan wilayah tersebut pascagempa bumi.

Camino de Flores mulai dari rute mana?

Camino de Flores dirancang sebagai wisata jalan kaki atau Flores Walk yang menyasar segmen khusus, seperti komunitas peziarah dan wisatawan yang mencari ketenangan melalui pengalaman perjalanan yang lebih mendalam.

Pada tahap awal, Kementerian Pariwisata bersama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) menyiapkan proyek percontohan pada 23–27 Oktober 2026. Rute yang dipilih adalah Etape Tengah, yakni Bajawa–Boawae–Ende, dengan jarak sekitar 70 kilometer.

Sekitar 70 peserta dari komunitas karitatif dijadwalkan mengikuti perjalanan tersebut. Selain berjalan kaki, kegiatan ini akan memadukan refleksi spiritual, pengenalan sejarah, serta interaksi langsung dengan masyarakat di sepanjang jalur.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan bahwa program tersebut diharapkan dapat memperluas persebaran wisatawan ke berbagai kabupaten di Flores, bukan hanya terpusat di satu destinasi.

“Camino de Flores hadir sebagai bentuk pola perjalanan (travel pattern) baru yang strategis, mengingat kunjungan wisatawan selama ini cenderung terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo. Melalui Camino de Flores, kunjungan wisatawan diharapkan terdistribusi lebih merata ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores dengan menghubungkan berbagai potensi, mulai dari situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam serta event atau ritual pariwisata religi yang selama ini berkembang di Flores seperti Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, atau prosesi budaya lainnya,” jelas Widiyanti.

Ke depan, pengembangan Camino de Flores juga direncanakan mencakup Etape Barat dari Labuan Bajo menuju Ruteng serta Etape Timur yang menghubungkan Maumere dan Larantuka. Seluruh jalur tersebut berpotensi digabungkan sesuai kebutuhan dan minat wisatawan.

Bukan cuma jalan-jalan, budaya lokal ikut dikenalkan

Camino de Flores tidak hanya menawarkan perjalanan melintasi alam Flores. Program ini juga membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat, mulai dari tradisi tenun ikat, kuliner lokal, hingga nilai spiritual yang menjadi bagian dari keseharian warga.

Konsep perjalanan yang lebih lambat memberi kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi dengan masyarakat di desa-desa yang dilalui. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, kegiatan tersebut diharapkan dapat memperluas peluang usaha bagi pengelola homestay, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perajin tenun, serta pemandu wisata lokal.

Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menyebut gagasan ini terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol, salah satu jalur ziarah yang dikenal sejak abad ke-9.

“Saya berpikir Indonesia bisa punya Camino-nya sendiri, dan Flores adalah tempat yang sempurna untuk itu. Camino de Flores mengadaptasi semangat Camino de Santiago untuk Flores sebagai wisata spiritual yang juga berkelanjutan, yang memadukan spiritualitas, alam, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Sebuah perjalanan wisata berjalan kaki menelusuri jalur situs-situs religi yang menggabungkan unsur spiritual, ekonomi kreatif, juga aspek budaya,” ujar Mari Elka.

Ia berharap konsep tersebut dapat menghadirkan pengalaman wisata yang lebih mendalam sekaligus mendorong perputaran ekonomi di wilayah yang dilalui.

“Melalui konsep yang kita kembangkan, yaitu wisata berjalan kaki melewati berbagai keindahan alam, budaya, dan situs-situs religi, diharapkan memberikan pengalaman (experience) yang berbeda dan lebih mendalam. Diharapkan wisatawan tinggal lebih lama dan tentu perputaran ekonomi terjadi langsung di desa-desa yang dilalui. Inilah pariwisata yang inklusif, yang berbasis masyarakat, dan yang berkelanjutan,” jelas Mari Elka.

Ada persiapan keselamatan dan misi sosial

Di balik konsep perjalanan yang mengedepankan pengalaman, penyelenggaraan Camino de Flores juga membutuhkan persiapan teknis. Kementerian Pariwisata bersama BPOLBF telah menyusun dokumen penilaian risiko (Risk Assessment) dan rencana tanggap darurat (Emergency Response Plan) untuk mendukung pelaksanaan proyek percontohan.

Persiapan yang direncanakan meliputi penyiagaan petugas pengarah perjalanan atau road marshal, pos kesehatan, stasiun air minum bergerak atau water station mobile, serta mitigasi terhadap cuaca dan kondisi elevasi rute.

Proyek percontohan ini juga akan digunakan untuk mengevaluasi kesiapan teknis, operasional, kelembagaan, dan keterlibatan masyarakat. Hasilnya diharapkan menjadi dasar untuk menetapkan rute final, standar kelayakan, dan profil risiko sebelum Camino de Flores dikembangkan menjadi paket wisata berkelanjutan.

Selain membawa misi pariwisata, kegiatan ini juga direncanakan mengintegrasikan penggalangan dana untuk mendukung masyarakat Flores. Dana yang terkumpul direncanakan membantu renovasi rumah sakit, gereja, sarana budaya dan pariwisata, serta penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.

Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai konsep Camino dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan jalur wisata serupa di wilayah lain dengan mengangkat karakter dan keunikan masing-masing daerah.

“Kita bisa buat Camino de NTT. Jadi di Flores buat sendiri, Timor buat sendiri, Sumba buat sendiri sesuai dengan daya tarik, cerita dan keunikan masing-masing,” jelas Emanuel.

Ia juga berharap semangat kebersamaan yang diusung Camino de Flores dapat mendukung upaya masyarakat untuk bangkit dari dampak gempa bumi.

“Camino de Flores akan memberikan dampak yang nyata bagi kami di provinsi. Tema spiritualitas dan pemulihan di Flores ini sangat tepat dan menjadi momentum yang kuat buat kami di Flores ini untuk bisa bangkit kembali,” kata Emanuel.

Untuk menjaga keberlanjutan program, Kementerian Pariwisata mendorong pembentukan tata kelola lintas wilayah yang melibatkan BPOLBF, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah kabupaten di Ngada, Nagekeo, dan Ende, keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal. Kerja sama tersebut direncanakan diformalkan melalui mekanisme kolaborasi atau nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). (deA/RaM)

Gen Z Takeaway

Camino de Flores menawarkan cara berbeda untuk mengenal Flores: berjalan kaki, menyusuri alam, memahami budaya, dan berinteraksi langsung dengan warga. Namun, program ini bukan sekadar menghadirkan pengalaman wisata baru. Kemenpar juga berharap jalur tersebut dapat memperluas manfaat pariwisata ke berbagai daerah di Flores dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Dampak nyatanya masih perlu dilihat melalui pelaksanaan dan evaluasi proyek percontohan yang dijadwalkan berlangsung pada 23–27 Oktober 2026.

Kemenpar Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Camino de Flores Flores Wisata NTT

Infografis

Terkini