LIPSUS: 2 Tahun Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi Lewat B50, Setop Impor Solar dan Hemat Devisa Triliunan Rupiah #2

Penulis: Henni Rachma Sari
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 13 Oktober 2026 | 20:08 WIB
LIPSUS: 2 Tahun Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi Lewat B50, Setop Impor Solar dan Hemat Devisa Triliunan Rupiah #2
Proses blending B50 FAME (Fatty Acid Methyl Ester), pencampuran bahan bakar nabati sawit dengan solar fosil untuk menghasilkan biosolar. [Pertamina Patra Niaga]

astakom.com, Jakarta - Presiden RI Prabowo Subianto terus ngebut mastiin kemandirian energi nasional biar Indonesia nggak gampang goyah di tengah ketidakpastian global yang sering memicu lonjakan harga energi. Komitmen besar ini dibuktiin lewat implementasi program B50 yang resmi ngegas per 1 Juli 2026, tepat tiga bulan sebelum genap dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo.

Era baru mandiri energi: B50 Sukses bikin Indonesia stop impor solar

B50 sendiri merupakan bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen bahan bakar nabati utamanya dari minyak kelapa sawit (CPO) dan 50 persen solar. Lewat kebijakan ini, Indonesia resmi terbebas dari ketergantungan impor solar.

Saat peluncuran mandatori B50 di Karawang pada Juli lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ngebeberin kalau Indonesia untuk pertama kalinya nggak perlu lagi ngimpor solar tahun ini, bahkan diproyeksikan ngantongin surplus solar hingga 4 juta kiloliter (kL). "Dengan implementasi B50 ini kita tidak impor solar lagi, kita surplus 4 juta kiloliter, ini pertama kali," ujar Bahlil. Program ini jadi upgrade dari mandatori B40 yang sebelumnya udah diterapkan pada awal 2025 lalu.

Hemat devisa Rp170 triliun dan genjot nilai tambah petani sawit

Lonjakan porsi bahan bakar nabati lewat B50 terbukti ngasih dampak ekonomi yang masif buat negara. Kementerian ESDM nyatet kalau kebijakan ini sukses menghemat devisa negara hingga Rp170 triliun pada tahun ini, naik 27,5 persen dibanding era B40 yang ngasilin penghematan Rp133,33 triliun. Angka fantastis ini jadi amunisi kuat buat ngejaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Selain itu, program B50 juga ngeboost nilai tambah CPO jadi Rp23,49 triliun, yang ngasih multiplier effect luar biasa bagi perekonomian nasional:

-Tambahan Pendapatan Negara: Bisa dialokasikan buat program prioritas kayak perlindungan sosial, pendidikan, dan kesehatan.

-Serapan Tenaga Kerja: Diproyeksikan mampu menyerap hingga 2,1 juta tenaga kerja baru.-Proteksi Petani Sawit: Mengurangi ketergantungan ekspor CPO mentah sekaligus ngelindungi harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani dari gejolak pasar global.

Transisi energi hijau menuju riset lanjutan B60 sampai B100

Nggak cuma ngejar target ekonomi, mandatori B50 juga jadi langkah strategis pemerintah dalam mendorong transisi energi bersih dan menekan emisi gas rumah kaca hingga sekitar 44,46 juta ton karbon dioksida pada 2026. Langkah hijau ini berjalan bareng program raksasa lainnya seperti PLTS 100 GWp dan PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).

Mengingat sukses besar ini, Presiden Prabowo bahkan udah ngasih instruksi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) buat kaji kemungkinan adopsi campuran yang lebih tinggi lagi di masa depan. "Saya menuntut bahwa kemandirian energi B40 tidak cukup. Bahkan, pada saat itu, saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya bahwa dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi. Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa," kata Presiden Prabowo. (RaM/aNs)

Gen Z Takeaway

Di dua tahun masa kepemimpinannya, Presiden Prabowo sukses wujudin kemandirian energi nasional lewat program B50 yang bikin Indonesia resmi setop impor solar dan ngantongin surplus. Nggak tanggung-tanggung, kebijakan ini sukses ngehemat devisa negara sampai Rp170 triliun, nyerap jutaan tenaga kerja, ngelindungi petani sawit, sekaligus ngereduksi emisi karbon secara signifikan.

2 Tahun Presiden Prabowo Presiden Prabowo Subianto Energi Baru Terbarukan B50 Mandatory Biodiesel B50 Presiden Prabowo

Infografis

Terkini