Wamendiktisaintek Ungkap Tantangan AI, Guru Tetap Jadi Kunci Pembelajaran

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 6 Oktober 2026 | 20:34 WIB
Wamendiktisaintek Ungkap Tantangan AI, Guru Tetap Jadi Kunci Pembelajaran
Wamendiktisaintek Ungkap Tantangan AI, Guru Tetap Jadi Kunci Pembelajaran (Dok. Kemendiktisaintek)

astakom.com, Jakarta — Penggunaan kecerdasan artifisial atau AI di dunia pendidikan makin meluas. Namun, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan bahwa kemudahan teknologi jangan sampai membuat siswa kehilangan kesempatan untuk benar-benar belajar dan melatih kemampuan berpikirnya.

Hal tersebut disampaikan Stella dalam Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) Indonesia sebagaimana dikutip dari keterangan resmi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada Selasa, (06/10/2026).

Menurut Stella, perkembangan penggunaan AI di bidang pendidikan perlu dilihat bukan sekadar dari seberapa cepat teknologi membantu menyelesaikan tugas. Yang lebih penting, kata dia, adalah apakah kemampuan yang seharusnya terbentuk lewat proses belajar tetap berkembang.

61 persen responden gunakan AI untuk pendidikan

Dalam pemaparannya, Stella membawa data Consumer Insights 2026 yang menunjukkan penggunaan AI dalam pendidikan di Indonesia mencapai 61 persen responden.

Angka tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan India dan Amerika Serikat yang sama-sama berada di 22 persen. Sementara itu, penggunaan AI untuk pendidikan di Belanda tercatat 14 persen.

Melihat tren tersebut, Stella mengajak pendidik tidak hanya fokus pada hasil akhir tugas. Menurutnya, proses di balik pembelajaran tetap punya peran besar karena kemampuan seperti membaca, menulis, matematika, hingga kemampuan berpikir berkembang melalui latihan.

“Pertanyaannya adalah, apakah ini baik atau buruk?,” jelas Stella.

Ia kemudian memperkenalkan konsep cognitive offloading, yakni kondisi ketika sebagian proses berpikir dialihkan kepada alat atau teknologi. Dalam konteks pendidikan, konsep ini menjadi penting karena siswa bisa saja menyelesaikan tugas lebih cepat dengan bantuan AI, tetapi belum tentu mendapatkan proses belajar yang sama.

AI boleh dipakai, tapi jangan gantikan proses berpikir

Stella juga memaparkan sejumlah penelitian untuk menggambarkan tantangan penggunaan AI dalam proses belajar.

Salah satu studi yang disampaikan menunjukkan penggunaan AI sebagai tutor dapat meningkatkan hasil selama sesi latihan sebesar 127 persen. Namun, ketika peserta kembali diuji tanpa bantuan AI, kelompok yang sebelumnya menggunakan AI sebagai tutor tidak menunjukkan perbedaan dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan GPT.

Ia juga menyampaikan penelitian lain yang mencatat kemampuan diagnosis dokter turun dari 28,4 persen menjadi 22,4 persen setelah tiga bulan menggunakan AI secara rutin.

Bagi Stella, temuan tersebut menunjukkan pentingnya menjaga manusia tetap terlibat dalam proses berpikir. Sebab, ketika AI mengambil alih pekerjaan seperti memecahkan persoalan, merangkum informasi, atau menyusun materi, kesempatan manusia untuk melatih kemampuan tersebut bisa ikut berkurang.

“Kalau hanya AI yang memecahkan masalah, meringkas, dan menyusun informasi sendiri, bukti yang saya sampaikan, masih banyak lagi, cuma saya waktunya sedikit, sampai saat ini memperlihatkan bahwa manusianya jadi tidak belajar,” jelas Stella.

Meski begitu, Stella tidak memandang AI sebagai sesuatu yang harus dijauhkan dari pendidikan. Justru, teknologi tersebut tetap dapat dimanfaatkan selama siswa tidak sekadar menerima hasil jadi.

Misalnya, siswa dapat memakai AI untuk membuat gambar. Setelah itu, mereka tetap perlu membandingkan hasil, menentukan pilihan, menjelaskan alasan, hingga memikirkan dan menyusun prompt yang digunakan. Dengan pola tersebut, AI berfungsi sebagai alat bantu, sementara proses berpikir tetap dilakukan peserta didik.

Guru tetap punya peran penting di era AI

Stella juga menyoroti perubahan dunia kerja seiring AI yang mulai mampu mengerjakan sejumlah pekerjaan tingkat awal dengan biaya lebih rendah.

Karena itu, pendidikan dinilai perlu memperkuat kemampuan yang membuat manusia tetap mampu mengambil peran dalam perubahan tersebut, terutama kemampuan analisis dan berpikir kritis.

Di saat yang sama, Stella menyebut pendidikan juga perlu menyiapkan manusia yang mampu mengembangkan AI secara berkelanjutan dengan dukungan teknologi dan pemanfaatan energi yang lebih efisien, termasuk potensi energi hijau Indonesia.

Dalam situasi tersebut, guru tidak sekadar menjadi pengawas ketika siswa menggunakan AI. Perannya justru dibutuhkan untuk membantu peserta didik memahami kapan AI sebaiknya digunakan, bagaimana penggunaannya memengaruhi proses belajar, dan apa konsekuensinya terhadap kemampuan mereka sendiri.

Stella pun mendorong guru untuk merancang tugas yang tetap membuat siswa membaca, menulis, berpikir, menganalisis, membandingkan informasi, mengajukan pertanyaan, hingga mengevaluasi hasil.

Dengan begitu, kehadiran AI di ruang pendidikan tidak berhenti pada urusan menyelesaikan tugas lebih cepat. Teknologi tetap bisa dimanfaatkan, tetapi siswa juga tetap mendapatkan ruang untuk membangun kemampuan berpikirnya sendiri. (deA/RaM)

Gen Z Takeaway

AI memang bisa bikin proses belajar terasa lebih sat-set, tetapi menurut Stella, yang tidak boleh ikut hilang adalah proses berpikirnya. Teknologi boleh membantu, sementara guru dan siswa tetap punya peran penting agar pembelajaran tidak berubah menjadi sekadar menerima hasil jadi.

AI Guru Wamendiktisaintek Kemendiktisaintek Pengaruh AI Tangangan AI

Infografis

Terkini