Harga Pangan Aman, Ekspor Gaspol! Neraca Dagang Agustus Surplus USD3,55 Miliar

Penulis: Shintya
Editor: Henni Rachma Sari
Selasa, 6 Oktober 2026 | 18:08 WIB
Harga Pangan Aman, Ekspor Gaspol! Neraca Dagang Agustus Surplus USD3,55 Miliar
Harga Pangan Aman, Ekspor Gaspol! Neraca Dagang Agustus Surplus USD3,55 Miliar (astakom/shintya)

astakom.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso atau yang akrab disapa Busan menyebutkan kalau pergerakan harga sejumlah kebutuhan pokok pangan belakangan ini masih berada dalam batas wajar. 

Sehingga dia menekankan kalau harga komoditas pangan terbilang masih terkendali di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) maupun Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah.

Budi meminta publik melihat dinamika harga pangan secara objektif, bukan cuma yang terjadi harian. Dia bilang kalau dengan menyandingkannya terhadap tolok ukur acuan resmi yang udah ditetapkan regulator.

Penyesuaian pasar wajar

Mendag juga menjelaskan kalau fluktuasi yang terjadi saat ini merupakan penyesuaian pasar wajar yang diimbangi sama intervensi stabilisasi pasokan dari instansi terkait (instansi dan pengawasan harga pangan).

"Kenaikan itu harus dilihat, kita mau melihat dari harga kemarin atau dari HET dan harga acuan. Kalau beras memang ada sedikit kenaikan, tetapi sudah diintervensi oleh Bulog melalui beras SPHP, sedangkan telur saat ini Rp26.200 per kilogram, artinya masih di bawah harga acuan Rp30.000," kata Budi kepada awak media di kantor Kemendag, Jakarta, pada Selasa (06/10/2026).

Ngasih margin yang adil buat peternak dan produsen lokal

Dia juga bilang kalau penyesuaian harga di pasar tetap selaras dengan daya beli masyarakat sekaligus ngasih margin yang adil buat kelangsungan usaha peternak dan produsen lokal.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan mencatat kalau neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatatkan pertumbuhan yang positif. Bahkan sukses surplus senilai USD 3,55 miliar. Angka itu meroket dari surplus Juli 2026 yang tercatat sebesar USD 0,12 miliar.

Dalam surplus yang dicapai, perdagangan ini dipengaruhi oleh surplus di sektor nonmigas sebesar USD 6,09 miliar di tengah defisit sektor migas sebanyak USD 2,54 miliar.

Komoditas utama penyumbang surplus

Menteri Perdagangan Budi Santoso bilang kalau tiga komoditas utama penyumbang surplus nonmigas pada Agustus 2026, yakni lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) sebesar USD 3,95 miliar, bahan bakar mineral (HS 27) USD 2,45 miliar, serta besi dan baja (HS 72) USD 1,78 miliar.

Di samping itu, Amerika Serikat (AS) menjadi negara penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan USD 2,41 miliar, diikuti India sebesar USD 1,19 miliar dan Malaysia sebesar USD 0,83 miliar.

“Melonjaknya surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 membuktikan ketahanan sektor eksternal Indonesia yang terus terjaga. Surplus perdagangan ditopang oleh kinerja komoditas andalan seperti lemak dan minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Selain itu, kinerja perdagangan ke sejumlah mitra dagang utama seperti AS, India, dan Filipina turut mendorong neraca perdagangan kita ke arah surplus,” kata Mendag Busan, dalam keterangan resminya, dikutip astakom.com pada Selasa (06/10/2026). (Shnty/RaM)

Gen Z Takeaway

Harga pangan belakangan ini masih terbilang aman dan terkendali karena sejumlah komoditas masih berada di bawah HAP atau HET pemerintah. Beras memang sempat naik, tapi sudah diintervensi lewat beras SPHP, sementara harga telur Rp26.200/kg masih di bawah acuan Rp30.000. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia Agustus 2026 juga tampil makin solid dengan surplus USD3,55 miliar, ditopang sektor nonmigas dan ekspor komoditas unggulan seperti minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Harga Pangan Kemendag Neraca Perdagangan surplus perdagangan Mendag Budi Santoso

Infografis

Terkini