First! 28 Peserta Sukses Curi Perhatian Tartil Qur’an Isyarat di MTQ Nasional 2026

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Henni Rachma Sari
Rabu, 16 September 2026 | 18:30 WIB
First! 28 Peserta Sukses Curi Perhatian Tartil Qur’an Isyarat di MTQ Nasional 2026
First! 28 Peserta Sukses Curi Perhatian Tartil Qur’an Isyarat di MTQ Nasional 2026 (Kemenag)

astakom.com, Jakarta – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 di Semarang, Jawa Tengah, bikin gebrakan baru lewat ajang ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat buat Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW) atau Tuli. Langkah keren ini diikuti 28 peserta dari 9 provinsi demi menciptakan panggung keagamaan yang makin inklusif dan merata.

Panggung Inklusif Bagi Komunitas Tuli

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menyebut ekshibisi ini sebagai momen krusial buat merobohkan batasan layanan keagamaan bagi teman-teman disabilitas.

“Kami merasa sangat berbahagia dan tentu sangat bangga. Penyelenggaraan MTQ Nasional ke-31 di Semarang telah melahirkan tradisi baru, sebuah sunnah hasanah, yaitu ekshibisi Tartil Al-Qur’an Isyarat bagi penyandang disabilitas sensorik rungu wicara,” tutur Abu Rokhmad saat membuka ekshibisi di Semarang, dikutip oleh astakom pada Rabu(16/9/2026).

Abu menegaskan kalau akses buat belajar Al-Qur'an itu hak segala bangsa tanpa memandang hambatan fisik atau latar belakang.

“Karena itu, tidak boleh ada seorang pun yang kehilangan kesempatan mempelajari Al-Qur’an karena kondisi fisik, sosial ekonomi, ataupun geografis,” ungkapnya.

Mushaf Al-Qur’an Isyarat

Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis M. Hanafi, menceritakan kalau ekshibisi ini berawal dari aspirasi komunitas Tuli Muslim pada 2020 lalu yang pengin punya acuan baku. Pemerintah lantas memfasilitasi riset hingga lokakarya bareng tim ahli.

“Posisi kami sebagai pemerintah adalah fasilitator. Komunitas Tuli, akademisi, dan para praktisi terlibat langsung dalam penyusunannya. Proses kolaboratif ini menghasilkan pedoman membaca, panduan pembelajaran, serta Mushaf Al-Qur’an Isyarat Indonesia dalam bentuk cetak dan digital,” papar Muchlis.

Legalitasnya makin solid setelah keluar Keputusan Menteri Agama Nomor 889 Tahun 2022.

“Penetapan ini memberikan landasan resmi bagi pentashihan, penerbitan, digitalisasi, dan pembelajaran Al-Qur’an Isyarat di Indonesia. Hal ini sekaligus menegaskan kehadiran negara dalam memenuhi hak Muslim Tuli untuk memperoleh kitab suci dan layanan keagamaan yang sesuai dengan kebutuhannya,” ucapnya.

Nggak cuma bikin mushaf, Kemenag bareng BAZNAS juga udah menggelar Training of Trainers sepanjang 2024–2025 di 71 titik buat mencetak pengajar Al-Qur’an Isyarat.

“Salah satu rekomendasi program tersebut adalah perlunya penyelenggaraan MTQ Al-Qur’an Isyarat sebagai ruang aktualisasi, evaluasi, dan prestasi bagi Muslim Tuli. Rekomendasi itu kini mulai diwujudkan melalui ekshibisi pada MTQ Nasional,” jelasnya.

Bukan Sekadar Kompetisi Biasa

Diikuti 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim asal DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Selatan, dan Jambi, kompetisi ini menandingkan metode kitabah dan tilawah. Muchlis menekankan kalau agenda ini bukan cuma formalitas atau sekadar meramaikan suasana.

"Kita tidak hanya ingin mencari juara. Kita juga ingin menguji kesiapan peserta, pola pembinaan di daerah, materi musabaqah, instrumen penilaian, kapasitas Dewan Hakim, fasilitas aksesibilitas, dan keseluruhan sistem penyelenggaraannya,” ujarnya.

Apresiasi Komnas Disabilitas

Langkah ini diacungi jempol oleh Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Deka Kurniawan, yang menilai Kemenag udah mewujudkan amanat UU Nomor 8 Tahun 2016 secara konkret

"Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI ini merupakan agenda bersejarah. Bukan semata-mata karena dilaksanakan di Semarang atau melibatkan ribuan peserta, tetapi karena untuk pertama kalinya MTQ Nasional memberikan ruang kepada penyandang disabilitas sensorik rungu wicara,” paparnya.

Deka juga mengapresiasi kebebasan yang diberikan panitia kepada komunitas disabilitas untuk mengeksplorasi kemampuan mereka secara mandiri.

"Kita melihat Kementerian Agama memberikan ruang yang leluasa. Arahan diberikan secara umum, sementara pelaksanaan dan kreativitas dipercayakan kepada teman-teman penyandang disabilitas. Menurut kami, inilah bentuk partisipasi yang sesungguhnya,” ungkapnya.

Ke depannya, Deka berharap ajang ini bisa diresmikan jadi cabang utama dan mencakup pemahaman Al-Qur'an secara lebih mendalam.

"Teman-teman penyandang disabilitas tidak hanya membutuhkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki hak untuk memahami pesan-pesan Al-Qur’an,” tutupnya. (nAD/RaM)

Gen Z Takeaway

Inisiatif keren dari Kemenag dan komunitas Tuli Muslim ini membuktikan kalau akses ruang ibadah dan belajar Al-Qur'an itu hak segala bangsa tanpa batasan fisik. Kehadiran cabang ekshibisi di MTQ Nasional 2026 bukan sekadar ajang cari juara, tapi langkah nyata memanusiakan manusia dan menciptakan panggung keagamaan yang super inklusif!

Mtq MTQ Nasional 2026 MTQ XXXI Semarang Musabaqah Tilawatil Quran

Infografis

Terkini