Hari Pengabdian: Menteri Haji Bilang Melayani Jemaah Bukan Cuma Kerja, Ini Amanah!

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 15 September 2026 | 17:02 WIB
Hari Pengabdian: Menteri Haji Bilang Melayani Jemaah Bukan Cuma Kerja, Ini Amanah!
Hari Pengabdian: Menteri Haji Bilang Melayani Jemaah Bukan Cuma Kerja, Ini Amanah! [Kemenhaj]

astakom.com, Jakarta Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) baru aja menggelar agenda Doa dan Zikir dalam rangka Hari Pelayanan Haji dan Umrah di Jakarta, Senin (14/09/2026). Di momen ini, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf ngasih reminder menohok buat seluruh personelnya. Beliau ngetegasin kalau melayani jemaah itu bukan sekadar rutinitas kerjaan biasa, tapi sebuah amanah besar yang wajib dijalani penuh integritas.

Amanah besar bagi ASN

Menteri ngajak seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementeriannya buat pause sejenak, merenungkan makna pelayanan, dan mikir lagi sebenarnya buat siapa sih mereka bekerja selama ini.

“Untuk siapa kita bekerja? Jawabannya sederhana: untuk para peziarah,” tegas Menteri tersebut dikutip oleh astakom pada Selasa, (15/09/2026).

Bukan kerja biasa

Bukan tanpa alasan, Menhaj ngerasa di balik setiap urusan pelayanan, ada sosok peziarah yang udah rela nunggu berpuluh-puluh tahun demi bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci. Banyak di antara mereka adalah para orang tua yang udah sabar nabung rupiah demi rupiah, serta keluarga yang nyiapin perjalanan ibadah ini dengan tumpukan harapan besar.

Maka dari itu, tiap detail tugas mengurus ibadah Haji sebenarnya bawa beban tanggung jawab yang amat krusial. Kata Menteri, bentuk khidmat atau pelayanan itu nggak selalu soal hal-hal yang kelihatan megah. Hal-hal simpel kayak ngecek dokumen secara teliti, jawab pertanyaan jemaah tanpa emosi, sampai rela kerja lembur demi ngebantu kelancaran urusan orang lain juga termasuk bagian dari pengabdian nyata.

“Terkadang, melayani berarti memilih untuk tetap jujur ​​ketika tidak ada yang melihat. Di situlah integritas diuji,” ucapnya.

Menteri Irfan Yusuf mewanti-wanti supaya integritas nggak cuma berakhir jadi slogan pajangan. Integritas itu soal keselarasan antara omongan dan tindakan nyata, yang harus udah dibangun jadi budaya kerja sehari-hari di lingkungan Kemenhaj.

Budaya kerja tulus

Ia punya harapan besar supaya Kementerian Haji dan Umrah bisa jadi tempat buat orang-orang yang mau effort dan bekerja pakai hati. Fokusnya bukan sekadar kejar hasil sempurna atau berburu penghargaan semata, tapi terus upgrade diri supaya bisa kasih manfaat nyata, khususnya buat para jemaah.

“Kami tidak mencari siapa yang paling banyak bekerja. Kami membangun siapa yang melayani dengan ketulusan yang paling tinggi,” ungkap Menteri tersebut.

Ujian pertanggungjawaban jabatan

Di akhir arahannya, Menteri ngingetin kalau jabatan, posisi, maupun masa kerja itu sifatnya sementara dan bakal selesai pada waktunya. Tapi ingat, setiap amanah yang pernah dipegang bakal tetap dimintai pertanggungjawaban di kemudian hari.

Ia minta seluruh jajaran Kemenhaj nggak menjadikan Hari Pelayanan cuma sebagai ceremonial tahunan yang lewat gitu aja, tapi benar-benar dipakai buat check-in ke diri sendiri tentang alasan utama mereka ada di kementerian tersebut.

“Mari kita terus melayani. Bukan untuk mencari pujian, bukan untuk mengejar penghargaan, tetapi karena kita ingin pekerjaan kita menjadi bagian dari kebaikan,” tutupnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Pesan dari Menhaj ini beneran eye-opening buat kita yang sering kejebak rutinitas work-life balance sampai lupa makna dari kerjaan itu sendiri. Melayani atau kerja itu bukan sekadar ngejar KPI, flexing prestasi, atau ngincar validasi atasan, tapi soal ketulusan dan integritas yang konsisten meski nggak ada orang yang ngeliat. Main character energy yang sebenarnya itu hadir pas kita bisa ngasih impact positif dan ngelakuin tugas pakai hati tanpa butuh panggung ceremonial semata.

Kemenhaj Kementerian Haji dan Umrah Pelayanan Haji Haji

Infografis

Terkini