Bicara di Forum Internasional, Menag Ungkap Kemiripan Pancasila & Piagam Madinah

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 15 September 2026 | 22:34 WIB
Bicara di Forum Internasional, Menag Ungkap Kemiripan Pancasila & Piagam Madinah
Bicara di Forum Dunia Internasional, Menag Ungkap Kemiripan Pancasila & Piagam Madinah (Kemenag)

astakom.com, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar baru saja memamerkan potret Indonesia di panggung internasional. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus masyarakat yang sangat beragam, Indonesia dinilai layak menjadi role model dalam mengelola yang beragam.

Pesan tersebut disampaikan Menag dalam sambutannya pada The 39th Edition of the Annual International Conference on Biography and Support of the Prophet SAW. Di forum ilmiah tersebut, ia membeberkan bagaimana nilai-nilai Pancasila sejalan dan sefrekuensi dengan prinsip Piagam Madinah dalam menjaga toleransi di tengah keberagaman bangsa.

Role model dunia

Mengacu pada Sirah Nabawiyah dan kepemimpinan Rasulullah SAW di Madinah sebagai teladan utama pengelolaan masyarakat majemuk, Menag menyatakan Piagam Madinah sebagai tonggak sejarah yang amat krusial.

"Piagam Madinah adalah bukti otentik pertama dalam sejarah peradaban manusia modern bagaimana keberagaman suku, ras, dan agama dapat dikelola dalam satu payung kewargaan bersama, di mana hak-hak minoritas dilindungi, kebebasan beragama dihormati, dan komitmen kolektif untuk membela tanah air ditegakkan bersama-sama," tutur Menag di Jakarta, dikutip oleh astakom pada Selasa (15/09/2026).

Menag menegaskan kalau keberagaman etnis, bahasa, hingga agama yang tersebar di lebih dari 1.700 pulau di Indonesia bukanlah sebuah ancaman yang memicu perpecahan, melainkan fondasi kekuatan bangsa.

"Keberagaman bukanlah sebuah ancaman disintegrasi, melainkan sebuah anugerah yang berhasil dipersatukan dalam 'Bhinneka Tunggal Ika,' berbeda-beda namun tetap satu," paparnya.

Fondasi bangsa

Di tengah gempuran modernisasi dan dinamika krisis global, Menag menilai kunci utama keutuhan multikulturalisme Indonesia berada pada keselarasan antara ajaran kenabian dan ideologi negara.

"Jawabannya terletak pada keselarasan nilai-nilai dasar kenabian dengan konsensus bernegara kami, yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945," sambungnya.

Titik temu

Dalam pemaparannya, Menag menguraikan 3 poin utama yang menjadi titik temu antara nilai kenabian dan Pancasila. Pertama, tauhid sosial dan kemanusiaan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dinilai berjalan selaras dengan prinsip toleransi dalam Al-Qur'an, yaitu "La ikraha fiddin" (tidak ada paksaan dalam agama).

Kedua, budaya musyawarah dan mufakat yang selalu diutamakan untuk menyelesaikan berbagai dinamika kebangsaan. Ketiga, keadilan sosial yang menjiwai semangat Piagam Madinah.

"Prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mencerminkan semangat Piagam Madinah, di mana tidak ada diskriminasi berdasarkan mayoritas atau minoritas," ucap Menag, sembari menambahkan kalau semua elemen bangsa memegang hak dan kewajiban yang sama di hadapan hukum.

Konferensi internasional yang berlokasi di Nouakchott, Mauritania ini mengusung tema "The Prophetic Guidance on Managing Diversity and Difference and Strengthening Common Grounds".

Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh dunia, seperti Presiden Mauritania Mohamed Ould Cheikh Ahmed Ould Ghazouani, Grand Mufti of Mauritania and Imam of the Great Mosque Sheikh Ahmed Al-Murabit Al-Shanqeeti, Menteri Agama dan Pendidikan Dasar Republik Islam Mauritania El-Vadil Sidati Louly, serta para ulama dan delegasi antarnegara. Menag menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa hadir secara fisik akibat kendala teknis dan agenda kenegaraan yang padat di dalam negeri.

Seruan kolaborasi

Meski begitu, Menag tetap menyerukan agar para peserta konferensi memperkuat kolaborasi kemanusiaan untuk menjawab berbagai tantangan global mulai dari krisis iklim, kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, hingga ketidakadilan sosial, termasuk tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina.

Menutup penyampaiannya, Menag mengajak semua pihak untuk mencontoh sifat dan akhlak mulia Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ia berharap konferensi ini bisa menghasilkan langkah konkret demi mempererat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah insaniyah di kancah dunia.

"Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi setiap langkah ikhtiar kita dalam menegakkan nilai-nilai perdamaian, keadilan, dan kasih sayang di muka bumi ini," tutup Menag. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway 

Pancasila dan Piagam Madinah itu literally punya vibe yang sama: toleransi, keadilan, dan nggak ada diskriminasi buat siapa pun. Indonesia membuktikan kalau perbedaan etnis, agama, sampai budaya itu bukan alasan buat clash, melainkan kekayaan bangsa yang bikin kita makin solid di mata dunia. Respect!

Kemenag kemenag update Kementerian Agama Forum International

Infografis

Terkini