Bawa Pendidikan Berkualitas ke Kampung Halaman via Sekolah Nasional Terintegrasi

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Selasa, 15 September 2026 | 02:08 WIB
Bawa Pendidikan Berkualitas ke Kampung Halaman via Sekolah Nasional Terintegrasi
Bawa Pendidikan Berkualitas ke Kampung Halaman lewat Sekolah Nasional Terintegrasi (Kemendikdasmen)

astakom.com, Jakarta – Bagi anak-anak daerah, punya mimpi besar sering kali diidentikkan dengan satu hal harus merantau ke kota besar. Tapi cerita lama itu perlahan mulai tergeser. Pemerintah kini resmi memperlebar akses pendidikan bermutu agar anak-anak di seluruh pelosok Indonesia bisa meraih potensi terbaik mereka tanpa perlu cabut dari daerah asalnya.

Akses merata di daerah

Langkah nyata ini diciptakan lewat kehadiran Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT). Mulai dari 10 Agustus 2026, sebanyak 17 SNT sudah resmi beroperasi dan memfasilitasi 1.360 murid angkatan pertama. Total ada 680 murid tingkat SMP dan 680 murid tingkat SMA yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Bukan sekadar wacana atau proyek belaka, beroperasinya 17 SNT ini membuktikan kalau pembelajaran sudah berjalan secara real. Para murid sudah masuk kelas, bertemu guru, dan menjalani rutinitas sekolah di daerah masing-masing, sementara pemerintah terus mematangkan pembangunan fasilitas tetapnya secara paralel.

Juru Bicara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan kalau keberadaan SNT adalah komitmen negara buat menghadirkan pendidikan berkualitas lebih dekat sekaligus mengikis kesenjangan antarwilayah.

“Anak-anak dengan potensi luar biasa lahir di seluruh penjuru Indonesia. Mereka tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena jauh dari pusat-pusat pendidikan. Melalui SNT, negara ingin menghadirkan layanan pendidikan bermutu lebih dekat dengan tempat mereka tumbuh, sehingga anak-anak dapat berkembang secara optimal dan tetap dekat dengan keluarga serta lingkungan sosialnya,” tutur Gogot pada rilis resmi yang diterima oleh astakom pada Senin (14/09/2026).

Bukti nyata KBM berjalan

Tanda pembelajaran ini sudah terasa langsung di daerah. Contohnya di SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo. Saat ini, sekolah tersebut menampung 80 murid yang terbagi rata menjadi 40 murid SMP dan 40 murid SMA. Aktivitas belajar-mengajar berlangsung kondusif dengan dukungan penuh dari guru, tenaga pendamping, hingga armada transportasi. Dua unit bus sekolah disiagakan untuk antar-jemput siswa dari titik kumpul yang telah disesuaikan.

Fasilitas ini bikin para murid bisa menikmati pendidikan berkelas tanpa harus merasa khawatir jauh dari rumah.

“Ukuran keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan pada akhirnya adalah ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak. Hari ini, murid-murid SNT sudah belajar di kelas, didampingi guru, berinteraksi dengan teman-temannya, dan mulai membangun cita-cita mereka. Inilah yang terus kami perkuat,” papar Gogot.

17 wilayah & seleksi ketat

Pada tahun pertamanya, SNT menyapa anak-anak di 17 wilayah, yakni:

  • Kabupaten Bogor
  • Kabupaten Cianjur
  • Kabupaten Gowa
  • Kabupaten Bone Bolango
  • Kota Tidore Kepulauan
  • Ibu Kota Nusantara (IKN)
  • Kabupaten Banyumas
  • Kabupaten Jepara
  • Kota Subulussalam
  • Kota Tarakan
  • Kabupaten Donggala
  • Kabupaten Bolaang Mongondow
  • Kabupaten Minahasa Utara
  • Kabupaten Kupang
  • Kabupaten Buton Tengah
  • Kabupaten Tebo
  • Kabupaten Tanjung Jabung Timur

Masing-masing SNT membuka kelas untuk jenjang SMP (kelas VII) dan SMA (kelas X). Respons masyarakat pun sangat tinggi. Pada proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) melalui tahapan administrasi dan Tes Skolastik, tercatat ada 2.068 pendaftar. Dari jumlah tersebut, 1.360 murid berhasil lolos seleksi (680 SMP dan 680 SMA).

Proses seleksi ini memang memprioritaskan calon murid yang berdomisili lokal, namun tetap memberi ruang bagi siswa berprestasi dari area sekitar sesuai daya tampung dan regulasi yang berlaku.

Ekosistem belajar tanpa asrama

SNT tidak didesain sekadar sebagai bangunan sekolah baru, melainkan diproyeksikan menjadi hub atau ekosistem pendorong kualitas pendidikan di daerah. Selain fokus ke murid, SNT disiapkan menjadi pusat pengembangan kompetensi guru, penciptaan inovasi pembelajaran, wadah bakat murid, optimalisasi teknologi, hingga sarana kolaborasi dengan sekolah-sekolah di sekitarnya.

Yang tidak kalah penting, SNT menerapkan konsep nonasrama. Sistem ini membuat murid tetap bisa merasakan support system dari keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya sehari-hari.

“Semangatnya sederhana: pendidikan bermutu harus semakin dekat dengan anak-anak Indonesia. Kita ingin anak dari Bogor, Bone Bolango, Kupang, Tidore, Tarakan, hingga daerah lainnya memiliki ruang yang sama untuk bermimpi besar dan mengembangkan potensinya,” ungkap Gogot.

Gogot juga menambahkan kalau upaya mencetak SDM unggul tidak boleh terpusat di kota-kota besar saja.

“Talenta Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tugas negara adalah menemukan, membuka kesempatan, dan menyiapkan ekosistem agar potensi mereka tumbuh. Anak-anak tidak harus meninggalkan kampung halamannya hanya untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik. Pendidikan bermutu itulah yang harus kita dekatkan kepada mereka,” jelasnya.

Perjalanan 17 SNT ini baru langkah awal. Pemerintah berkomitmen memperkuat sarana, prasarana, serta jaringan layanan SNT secara bertahap demi mewujudkan pemerataan pendidikan berkualitas. Sebab, meski sekolah berada di daerah, cita-cita anak Indonesia tidak boleh terbatasi. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Kini anak daerah nggak perlu lagi FOMO atau cabut jauh dari kampung halaman demi dapet fasilitas sekolah yang top-tier. Kehadiran 17 SNT bikin pembelajaran berkualitas makin accessible dekat rumah, jadi dream big tetep jalan terus tanpa harus ninggalin support system keluarga.

Kemendikdasmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pendidikan berkualitas Sekolah Nasional Terintegrasi

Infografis

Terkini