Presiden Prabowo Ajak BRICS Gaspol Industrialisasi Bersama, Kerentanan Disulap Jadi Kekuatan!

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 13 September 2026 | 22:32 WIB
Presiden Prabowo Ajak BRICS Gaspol Industrialisasi Bersama, Kerentanan Disulap Jadi Kekuatan!
Presiden Prabowo Ajak BRICS Gaspol Industrialisasi Bersama, Kerentanan Disulap Jadi Kekuatan! [Timpres]

astakom.com, Jakarta – Momen KTT BRICS di India pada Minggu (13/09/2026), mendadak jadi panggung pembuktian kalau negara berkembang nggak bisa lagi dipandang sebelah mata. Presiden RI Prabowo Subianto blak-blakan mengajak para pemimpin BRICS buat gak cuma jalan sendiri sendiri, tapi kolaborasi penuh demi industrialisasi bersama. Targetnya buat memanfaatkan seluruh resources, teknologi, dan pasar kolektif biar ekonomi makin tangguh.

4 pilar utama

Dalam sesi terbuka KTT tersebut, Presiden Prabowo menekankan empat pilar penting yang harus jadi fondasi kerja sama ke depan, yaitu ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Tapi, buat Prabowo, empat poin ini bukan cuma teori aja. Tapi harus kerasa langsung ke dalam kehidupan masyarakat.

“Empat gagasan ini harus melayani satu tujuan, yaitu membangun perekonomian yang lebih kuat, lebih adil, dan mampu menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat kita. Ketahanan kita harus memberikan hasil bagi rakyat,” jelas Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia, dikutip astakom.com.

Di balik risiko cuaca ekstrem atau gunung meletus, tanah dan lautan Indonesia menyimpan harta karun bernilai tinggi yang diincar dunia untuk teknologi masa depan, mulai dari mineral kritis hingga logam tanah jarang.

"Tanah dan lautan kita juga menyimpan banyak hal yang akan menjadi fondasi masa depan, mineral kritis, logam tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang menjadi paru-paru dunia,” ungkapnya.

Melihat potensi serupa yang melimpah di negara anggota BRICS, Presiden Prabowo optimistis era baru yang ramah lingkungan sudah di depan mata.

"Kita memiliki semua yang dibutuhkan untuk membangun abad hijau,” jelas Kepala Negara.

Dari bencana jadi opportunity

Presiden Prabowo juga mengingatkan kalau bencana akibat perubahan iklim gak boleh cuma dianggap kejadian lewat. Ketahanan iklim harus masuk ke dalam jantung pembangunan nasional.

"Ketika bencana terjadi, kita harus melihatnya lebih dari sekadar bencana. Kita harus melihat hubungan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional,” tutur Presiden RI.

Karena hampir semua anggota Global South merasakan keresahan yang sama, Presiden Prabowo menawarkan langkah real. Mengingat BRICS sudah punya ekosistem pasar dan produksi yang raksasa, tinggal bagaimana para anggotanya mengoneksikan titik-titik kekuatan tersebut.

"Jika semua itu kita satukan, BRICS dapat membuat perbedaan yang nyata dan sangat penting bagi dunia,” ungkapnya.

"Bersama-sama kita dapat mengubah tantangan yang saling berkaitan ini menjadi peluang untuk investasi yang lebih besar, industri yang lebih kuat, lebih banyak lapangan pekerjaan, dan peluang yang lebih baik bagi rakyat kita,” sambungnya.

Ia meyakini kalau pertumbuhan ekonomi bisa merangkul jutaan orang secara inklusif, negara bakal makin unbreakable.

"BRICS sudah merupakan sebuah rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya sehingga kekuatan yang sudah ada ini dapat menjadi sumber nilai yang lebih besar bagi kita semua,” paparnya.

"Karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama dan mari kita optimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” jelasnya.

Dari pengimpor jadi eksportir

Salah satu momen paling menarik adalah saat Presiden Prabowo pamer pencapaian sektor pangan Indonesia. Dulu Indonesia identik dengan status pengimpor biji-bijian, beras, hingga jagung. Sekarang Indonesia sudah level up jadi eksportir dan siap bantu kebutuhan pangan global.

"Indonesia selama bertahun-tahun merupakan importir besar biji-bijian, beras, dan jagung. Sekarang kita adalah eksportir dan kita akan mampu meningkatkan dukungan bagi seluruh dunia,” ungkap PresidenPrabowo.

Suara Global South

Mengenai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa target ini bukan sekadar mengejar deadline. Ini adalah janji buat mengentaskan kemiskinan dan memperkuat institusi.

"Kita membuat komitmen yang jelas untuk mengangkat rakyat kita dari kemiskinan, melindungi planet kita, dan membangun institusi yang lebih kuat. Komitmen ini tetap berdiri,” jelasnya.

Ia menegaskan kalau perjuangan Global South tak boleh redup setelah 2030. Suara negara-negara berkembang harus tetap jadi penentu agenda masa depan dunia.

"Sudah sangat logis bahwa suara Global South harus didengar, tidak hanya dalam mempercepat implementasi Agenda 2030, tetapi juga dalam membentuk apa yang akan datang setelahnya,” jelasnya.

"BRICS dapat menyatukan suara-suara Global South dan memperkuatnya ketika kita membentuk masa depan,” ucap Presiden Prabowo.

Di akhir pidatonya, Presiden ke-8 RI itu memberikan visi optimistis tentang tatanan dunia baru yang ideal untuk generasi mendatang.

"Sebuah masa depan ketika ketahanan melindungi pembangunan, ketika inovasi memperluas peluang, ketika kerja sama menghasilkan hasil yang konkret, dan ketika keberlanjutan berarti kesejahteraan harus diberikan untuk hari ini dan untuk generasi mendatang,” tutupnya. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Singkatnya, Presiden Prabowo pengen negara-negara berkembang (Global South) nggak cuma jadi penonton atau sekadar "pemasok mentah" buat negara maju, tapi naik kelas lewat kolaborasi teknologi dan industrialisasi hijau bareng BRICS. Mulai dari potensi critical minerals Indonesia sampai suksesnya kita level up dari pengimpor pangan jadi eksportir, ini bukti kalau isu iklim dan ekonomi bisa diolah jadi peluang karier, investasi, serta lapangan kerja masa depan yang unbreakable buat generasi kita.

KTT BRICS KTT BRICS 2026 Forum Brics KTT ke-18 BRICS

Infografis

Terkini