Spill Tugas BMKG: Bukan Sekadar Ramal Cuaca dan Gempa

Penulis: Hapsari
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 10 September 2026 | 02:05 WIB
Spill Tugas BMKG: Bukan Sekadar Ramal Cuaca dan Gempa
Ilustrasi BMKG pemantauan cuaca, gempa, hingga aktivitas gunung berapi [Gemini AI-astakom.com]

astakom.com, Jakarta - Ketika banyak peringatan bencana seperti gempa, hujan angin bahkan informasi soal hujan yang deras, yang dicari adalah situs BMKG. Dari pengamatan cuaca sejak 1841 hingga kini, lembaga ini memang punya tugas memantau cuaca, iklim, gempa bumi, dan tsunami di Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG selama ini dekat banget sama masyarakat, banyak yang mengira kalau fungsinya cuma ngasih informasi prakiraan cuaca dan gempa bumi. Padahal, tugas lembaga ini jauh lebih luas.

BMKG punya tanggung jawab menyelenggarakan pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika, termasuk melakukan pengamatan, mengelola data, memberikan pelayanan informasi, hingga mendukung sistem peringatan dini.

Cikal bakal BMKG sudah ada sejak 1841 dan mengalami berbagai perubahan kelembagaan sebelum resmi menggunakan nama BMKG pada 2008. Keberadaan BMKG penting banget karena informasi yang dihasilkan buat mendukung keselamatan masyarakat serta banyak sektor, mulai dari transportasi, pertanian, kelautan hingga penanggulangan bencana.

Bukan cuma ramal cuaca dan fenomena alam

BMKG merupakan singkatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Lembaga ini merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan tugas pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2024 tentang BMKG, lembaga ini berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden melalui menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang transportasi. BMKG dipimpin oleh seorang Kepala.

Lalu, apa maksud dari meteorologi, klimatologi, dan geofisika? Meteorologi berkaitan dengan kondisi atmosfer dan cuaca, seperti hujan, suhu udara, angin, awan, hingga cuaca ekstrem.

Klimatologi berkaitan dengan kondisi dan pola iklim dalam jangka panjang. Informasinya dibutuhkan, antara lain, untuk sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, pembangunan, dan berbagai kegiatan ekonomi.

Sementara geofisika berkaitan dengan berbagai fenomena fisik bumi, termasuk gempa bumi dan tsunami.

Karena itu, pekerjaan BMKG sebenarnya tidak berhenti pada pertanyaan sederhana seperti, Besok hujan atau tidak?

Di balik informasi tersebut terdapat proses pengamatan, pengumpulan data, analisis, pengolahan, hingga penyampaian informasi kepada masyarakat dan berbagai sektor.

Sejarah BMKG dimulai sejak 1841

Meski nama BMKG baru digunakan pada 2008, sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia sudah berlangsung jauh lebih lama.

Menurut catatan sejarah BMKG, kegiatan itu bermula pada 1841. Saat itu, pengamatan cuaca dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen, Kepala Rumah Sakit di Bogor. Seiring meningkatnya kebutuhan terhadap data cuaca dan geofisika, kegiatan tersebut berkembang menjadi lembaga yang lebih terorganisasi.

Pada 1866, pemerintah Hindia Belanda meresmikannya menjadi instansi pemerintah bernama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi. Lembaga tersebut dipimpin oleh Dr. Pieter Adriaan Bergsma.

Perkembangan pengamatan terus berlanjut. Pada 1879, dibangun jaringan penakar hujan yang terdiri dari 74 stasiun pengamatan di Jawa.

Kemudian pada 1908, pengamatan gempa bumi mulai dilakukan dengan pemasangan komponen horizontal seismograf Wiechert di Batavia. Komponen vertikal kemudian dipasang pada 1928.

Artinya, sistem pemantauan cuaca dan geofisika di Indonesia memiliki sejarah lebih dari satu abad.

Dari BMG berubah nama jadi BMKG

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, lembaga meteorologi dan geofisika mengalami sejumlah perubahan struktur dan nama.

Pada masa awal kemerdekaan, dibentuk Biro Meteorologi di Yogyakarta yang berada di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia dan melayani kepentingan Angkatan Udara. Sementara itu, di Jakarta dibentuk Jawatan Meteorologi dan Geofisika.

Dalam perkembangannya, lembaga ini beberapa kali berganti nama dan kedudukan. Pada 1980, lembaga ini menjadi Badan Meteorologi dan Geofisika atau BMG. Kemudian pada 2002, BMG ditetapkan sebagai Lembaga Pemerintah Non Departemen.

Perubahan besar terjadi pada 2008. Melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, nama Badan Meteorologi dan Geofisika diubah menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG.

Setahun kemudian, pada 1 Oktober 2009, disahkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Undang-undang tersebut menjadi salah satu landasan penting penyelenggaraan meteorologi, klimatologi, dan geofisika di Indonesia.

Regulasi mengenai kelembagaan BMKG kemudian diperbarui melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2024, yang mencabut Perpres Nomor 61 Tahun 2008 dan menajamkan tugas serta fungsi BMKG.

Apa saja tugas BMKG?

Secara resmi, tugas BMKG adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang penyelenggaraan meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Jika diterjemahkan secara sederhana, BMKG memiliki rangkaian pekerjaan mulai dari mengamati fenomena, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisis kondisi, menyediakan informasi, hingga memberikan peringatan dini.

Berikut beberapa tugas utama BMKG.

1. Memantau Kondisi Cuaca

Salah satu layanan BMKG yang paling dikenal masyarakat adalah informasi cuaca. BMKG melakukan pengamatan terhadap berbagai unsur atmosfer, antara lain suhu, kelembapan, tekanan udara, angin, awan, dan curah hujan.

Data tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan informasi dan prakiraan cuaca. Informasi ini dibutuhkan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari, tetapi juga memiliki fungsi yang jauh lebih luas.

Sektor penerbangan, misalnya, membutuhkan informasi mengenai kondisi atmosfer untuk mendukung keselamatan dan operasional penerbangan. Begitu pula sektor kelautan yang membutuhkan informasi angin, gelombang, dan kondisi cuaca di laut.

2. Memantau dan Menganalisis Kondisi Iklim

Berbeda dengan cuaca yang menggambarkan kondisi atmosfer dalam waktu relatif singkat, klimatologi melihat pola dalam jangka panjang. Data klimatologi dapat digunakan untuk melihat pola curah hujan, musim, kekeringan, serta berbagai perubahan kondisi iklim.

Informasi tersebut penting bagi sektor pertanian, ketahanan pangan, pengelolaan air, pembangunan, dan penyusunan kebijakan. Dalam konteks perubahan iklim, data jangka panjang juga menjadi salah satu dasar untuk memahami perubahan kondisi atmosfer dan dampaknya terhadap berbagai wilayah.

3. Memantau Gempa Bumi

BMKG juga memiliki tugas penting dalam pengamatan gempa bumi. Ketika gempa terjadi, data dari jaringan pemantauan digunakan untuk menganalisis parameter gempa, seperti waktu kejadian, lokasi, kedalaman, dan magnitudo.

Informasi tersebut kemudian disampaikan kepada masyarakat serta pihak-pihak terkait. Kecepatan penyampaian informasi menjadi penting karena gempa bumi dapat terjadi tanpa banyak waktu untuk melakukan persiapan.

4. Menyediakan Informasi dan Peringatan Dini Tsunami

Sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi, Indonesia memiliki risiko tsunami di sejumlah wilayah. Karena itu, pemantauan gempa dan penyampaian informasi tsunami menjadi bagian penting dari layanan BMKG.

Saat terjadi gempa dengan parameter yang berpotensi menimbulkan tsunami, BMKG melakukan analisis dan menyampaikan informasi atau peringatan sesuai hasil pemantauan. Tujuannya adalah memberikan informasi secepat mungkin agar masyarakat dan pemerintah dapat mengambil langkah yang diperlukan.

5. Memberikan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

BMKG juga menyediakan informasi mengenai potensi cuaca ekstrem dan fenomena meteorologi, klimatologi, maupun geofisika yang dapat berdampak terhadap masyarakat. Informasi tersebut antara lain berkaitan dengan hujan lebat, angin kencang, gelombang tinggi, kekeringan, gempa bumi, hingga potensi tsunami.

Dengan adanya peringatan dini, masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan pemerintah dapat melakukan langkah antisipasi.

Fungsi BMKG menyangkut keselamatan

Berdasarkan Perpres Nomor 12 Tahun 2024, fungsi BMKG mencakup perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengamatan, pengelolaan data, pelayanan, serta sarana dan prasarana meteorologi, klimatologi, dan geofisika.

Regulasi itu juga mencantumkan modifikasi cuaca sebagai bagian dari bidang yang menjadi cakupan fungsi BMKG. BMKG juga memiliki fungsi dalam koordinasi pelaksanaan kebijakan terkait modifikasi cuaca.

Dengan demikian, pekerjaan BMKG dapat dilihat sebagai sebuah rangkaian yang saling terhubung. Dari pengamatan, pengumpulan data, menganalisa hingga memberikan informasi dan memberi peringatan dini. Dari peringatan dini itu kemudian ada tugas untuk pengambilan keputusan yang berujung pada keselamatan masyarakat.

Data yang dihasilkan tidak hanya digunakan oleh masyarakat, tetapi juga dapat dimanfaatkan berbagai sektor dalam menentukan kebijakan dan langkah mitigasi.

Mengapa BMKG penting bagi Indonesia?

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang luas dan memiliki berbagai karakter geografis. Di satu sisi, masyarakat menghadapi risiko hujan ekstrem, banjir, kekeringan, dan gelombang tinggi.

Di sisi lain, Indonesia juga berada di kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi sehingga gempa bumi dan tsunami menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Kondisi tersebut membuat informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika memiliki nilai strategis.

Data BMKG dapat digunakan untuk mendukung keselamatan transportasi, aktivitas pertanian dan kelautan, perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya, hingga mitigasi bencana. Karena itu, BMKG bukan sekadar lembaga yang memberi tahu apakah masyarakat perlu membawa payung hari ini.

Di balik sebuah prakiraan cuaca atau informasi gempa, terdapat sistem pengamatan, jaringan instrumen, pengolahan data, analisis ilmiah, serta mekanisme penyebaran informasi. (hPs/aNs)

Gen Z Takeaway

Spill BMKG adalah lembaga pemerintah yang mengamati, mengolah, menganalisis, dan menyediakan informasi mengenai cuaca, iklim, serta fenomena geofisika seperti gempa bumi dan tsunami untuk mendukung keselamatan masyarakat dan berbagai kebutuhan pembangunan. Sejarahnya pun bukan perjalanan singkat. Dari pengamatan cuaca secara perorangan pada 1841, berkembang menjadi lembaga pemerintah, mengalami berbagai perubahan kelembagaan, hingga akhirnya dikenal sebagai BMKG. Hari ini, keberadaan BMKG menjadi bagian penting dari sistem informasi dan peringatan dini Indonesia. 

BMKG Perkiraan BMKG Informasi BMKG

Infografis

Terkini