Aksi Anarkis Pemukim Israel Serang Anak-Anak & Wartawan di Hebron

Penulis: Nur Nadiah Islamiyah
Editor: Anri Syaiful
Minggu, 6 September 2026 | 20:01 WIB
Aksi Anarkis Pemukim Israel Serang Anak-Anak & Wartawan di Hebron
Aksi Anarkis Pemukim Israel Serang Anak-Anak & Wartawan di Hebron [Ilustrasi Masjid Al-Aqsa/Gemii AI]

astakom.com, Jakarta – Momen ceria anak-anak di Tepi Barat mendadak berubah jadi situasi mencekam. Sejumlah pemukim Israel melancarkan aksi penyerangan terhadap anak-anak Palestina dan para wartawan yang sedang berada di sebuah taman bermain kawasan Hebron selatan, Tepi Barat, pada Sabtu (05/09/2026) waktu setempat.

Tak berhenti di situ, tak lama setelah insiden anarkis tersebut meletus, tentara Israel justru langsung menetapkan area taman sebagai zona militer tertutup.

Taman bermain diserbu

Melansir laporan dari Anadolu pada Minggu (06/09/2026) aktivis lokal Ahmed al-Hathaleen mengungkapkan kalau para pemukim Israel yang didampingi langsung oleh aparat tentara dan polisi Israel menyerang anak-anak serta awak media, termasuk jurnalis asing, yang tengah beraktivitas di taman bermain komunitas Khirbet Umm al-Khair, Masafer Yatta.

Menurut penuturan al-Hathaleen, para pemukim Israel mendadak datang ke lokasi dan langsung bikin kerusuhan dengan menyerang anak-anak. Bukannya menindak pelaku, pasukan tentara dan polisi Israel justru mengeluarkan status "zona militer tertutup" untuk area tersebut. Mereka kemudian memaksa anak-anak, wartawan, warga lokal, hingga para aktivis untuk angkat kaki dari sana.

Hingga saat ini, al-Hathaleen menyebutkan kalau pasukan Israel masih berjaga ketat di dalam area taman dan memblokir akses anak-anak yang ingin masuk.

Tutup ruang rekreasi

Tindakan ini jelas memicu keprihatinan mendalam. Al-Hathaleen menegaskan kalau fasilitas publik tersebut adalah satu-satunya ruang rekreasi terbuka bagi anak-anak di komunitas setempat untuk sekadar bermain dan mengekspresikan diri. Area ini sebenarnya sudah berdiri bertahun-tahun, bahkan baru saja selesai direnovasi dan dipercantik dengan berbagai fasilitas baru.

Lokasi taman bermain ini juga menyimpan rekam jejak kelam. Di titik yang sama, seorang aktivis bernama Odeh al-Hathaleen meninggal dunia terbunuh sekitar satu tahun yang lalu. Laporan setempat mencatat kalau area ini memang sudah berkali-kali jadi sasaran spill kekerasan dan serangan dari pemukim maupun militer Israel.

Sengketa lahan lengkap

Di balik ketegangan ini, ada polemik kepemilikan lahan yang cukup rumit. Permasalahan taman bermain tersebut berkaitan erat dengan status wilayah di Area C Tepi Barat. Pada Januari lalu, Badan Administrasi Sipil Israel sempat menerbitkan perintah pembongkaran atas lahan tersebut dengan dalih kalau area itu berdiri di Area C berdasarkan Kesepakatan Oslo.

Padahal, warga lokal menegaskan kalau tanah tersebut merupakan milik sah dari keluarga komunitas setempat, lengkap dengan bukti dokumen kepemilikan resmi.

Status Area C

Untuk dipahami, berdasarkan Kesepakatan Oslo II tahun 1995, wilayah Tepi Barat memang terbagi menjadi tiga zona:

  • Area A: Berada di bawah kendali penuh otoritas Palestina.
  • Area B: Berada di bawah administrasi sipil Palestina, namun kontrol keamanannya dipegang Israel.
  • Area C: Berada di bawah kendali penuh (full control) pemerintah dan militer Israel.

Area C sendiri mencakup sekitar 60 persen dari keseluruhan wilayah Tepi Barat. Pembagian wilayah ini pada awalnya cuma dirancang sebagai aturan sementara (temporary regulation) sampai ada kesepakatan final mengenai status Tepi Barat yang sayangnya, hingga kini masih terus menyisakan konflik berkepanjangan. (nAD/aNs)

Gen Z Takeaway

Satu-satunya tempat main anak-anak di Hebron diserang dan langsung dikunci jadi zona militer, cuma karena sengketa lahan lama yang tak kunjung beres. Ini bukti nyata kalau konflik politik dampaknya langsung merenggut hak dasar dan ruang aman anak-anak untuk sekadar bermain.

palestina Palestine Update israel Israel Gaza Update

Infografis

Terkini