Sah! KH Miftachul Akhyar Kembali Dipercaya Menjabat Rais Aam PBNU Periode 2026–2031
astakom.com, Jakarta — KH Miftachul Akhyar secara resmi terpilih kembali sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026–2031. Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya yang sebelumnya mengemban amanah Rais Aam periode 2021–2026 ini kembali dipercaya memimpin jajaran ulama tertinggi Nahdlatul Ulama.
Keputusan tersebut diambil secara bulat melalui sidang musyawarah tertutup sembilan ulama sepuh anggota Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) pada rangkaian Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/08/2026) malam.
Anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, menyampaikan bahwa proses penentuan posisi Rais Aam berjalan sangat sejuk dan harmonis dalam waktu sekitar satu jam, dari pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, di Gedung Serbaguna KH Wahab Hasbullah.
“Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota Ahlul Halli wal 'Aqdi secara mufakat memutuskan bahwa Kiai Haji Miftachul Akhyar dipilih kembali menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031,” ujar Kiai Anwar Iskandar saat membacakan hasil keputusan resmi rapat AHWA.
Pengejawantahan nilai Al-Qur'an dan Pancasila
Kiai Anwar menjelaskan, mekanisme pemilihan Rais Aam melalui perwakilan sembilan kiai AHWA berlandaskan pada prinsip murni musyawarah mufakat yang diajarkan dalam Al-Qur'an serta selaras dengan sila keempat Pancasila.
"Apa yang diputuskan di dalam Ahlul Halli wal 'Aqdi tadi dalam menentukan Rais Aam sepenuhnya berdasar pada musyawarah mufakat," tegasnya.
Rapat musyawarah AHWA tersebut dibuka oleh KH Nurul Huda Djazuli dan dipimpin oleh KH Miftachul Akhyar dalam kapasitasnya sebagai Rais Aam demisioner.
Pesan kebangsaan AHWA: rangkul semua elemen NU
Usai penetapan resmi, sembilan anggota AHWA menitipkan amanah dan pesan khusus kepada Kiai Miftachul Akhyar. AHWA meminta Rais Aam terpilih untuk merangkul seluruh potensi warga dan tokoh Nahdlatul Ulama tanpa terkecuali, termasuk pihak-pihak yang sempat memiliki dinamika atau pandangan berbeda selama proses Muktamar.
"Ada catatan yang merupakan pesan dari para Ahlul Halli wal 'Aqdi, bahwa Rais Aam terpilih diamanatkan untuk mengajak seluruh potensi yang ada di Nahdlatul Ulama untuk bersama-sama merawat dan mengurus organisasi ke depan," tutur Kiai Anwar.
Pendekatan inklusif ini diharapkan mampu menjaga persatuan serta memperkuat soliditas jam'iyah Nahdlatul Ulama dalam menatap tantangan zaman ke depan.
Penetapan Rais Aam ini menjadi tonggak krusial dalam Muktamar ke-35 NU. Setelah penetapan puncak kepemimpinan syuriyah ini rampung, rangkaian Muktamar dilanjutkan ke agenda pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU periode 2026–2031. (ACwan/aNs)
Gen Z Takeaway
KH Miftachul Akhyar resmi lanjut memimpin sebagai Rais Aam PBNU periode 2026–2031 usai terpilih secara oyag/mufakat oleh 9 kiai AHWA di Muktamar ke-35 NU Jombang (30/8/2026). Selain menetapkan pemimpin tertinggi ulama, AHWA juga titip pesan adem agar PBNU ke depan merangkul seluruh elemen NU demi menjaga persatuan organisasi!









