Jangkau Anak Putus Sekolah, Kemensos dan SP2MI Perkuat Sinergi Pendidikan Kesetaraan

Penulis: A. Cuwantoro
Editor: Anri Syaiful
Jumat, 14 Agustus 2026 | 12:20 WIB
Jangkau Anak Putus Sekolah, Kemensos dan SP2MI Perkuat Sinergi Pendidikan Kesetaraan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Ketua Umum SP2MI Amirudin membahas kesepakatan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kantor Kemensos, Jakarta, Kamis (13/8/2026). [Kemensos]

astakom.com, Jakarta – Kementerian Sosial (Kemensos) dan Serikat Penggerak Pendidikan Masyarakat Indonesia (SP2MI) sepakat menjalin kemitraan strategis guna memperluas penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS). Langkah ini diwujudkan melalui penguatan program penyetaraan pendidikan di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Kesepakatan tersebut dirumuskan dalam pertemuan antara Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Ketua Umum SP2MI Amirudin di Kantor Kemensos, Jakarta, Kamis (13/08/2026).

Gus Ipul menguraikan bahwa penanganan anak putus sekolah di Indonesia memerlukan intervensi serius dan kolaboratif. Menurut data resmi, jumlah anak tidak sekolah saat ini menembus angka lebih dari empat juta jiwa, dengan fenomena terbesar terjadi pada lulusan SD yang tidak melanjutkan ke tingkat SMP.

"Secara resmi data mencatat ada empat juta lebih anak tidak sekolah. Namun, ini kerap menjadi fenomena gunung es yang jumlah aslinya bisa jauh lebih besar di lapangan," ujar Gus Ipul.

Pertemuan ini merupakan bentuk tindak lanjut dari Silaturahmi Nasional (Silatnas) SP2MI 2026 yang digelar di TMII, Jakarta Timur, pada Juni lalu.

Pemanfaatan aset gedung dan penyediaan tenaga pengajar

Melalui kolaborasi ini, Kemensos akan menyediakan sarana dan prasarana belajar dengan memanfaatkan eks gedung Sekolah Rakyat rintisan yang berada di lingkungan Sentra Kemensos. Sementara itu, SP2MI akan menerjunkan tenaga pendidik profesional yang berpengalaman dalam mengampu program Paket A, Paket B, dan Paket C.

"Kami menyiapkan fasilitas tempat di Sentra Kemensos, sedangkan SP2MI memfasilitasi tenaga pengajarnya. Kita mulai dari pilot project skala kecil terlebih dahulu sebelum dikembangkan secara nasional," jelas Mensos.

Gus Ipul juga mendorong agar sistem PKBM ini menjadi jembatan (bridging program) menuju pendidikan formal di Sekolah Rakyat. Anak-anak atau remaja marjinal yang telah lama meninggalkan bangku sekolah dapat melakoni proses matrikulasi dan penyetaraan terlebih dahulu di PKBM.

"Langkah ini penting untuk menjangkau mereka yang selama ini 'tak terlihat' (the invisible people). Kita ingin ada percepatan agar yang putus sekolah bisa kembali belajar, yang buta huruf bisa membaca, dan yang belum berijazah bisa mendapatkan ijazah untuk bekal bekerja," tegas Gus Ipul.

Persiapan legalitas dan pelatihan tenaga pendidik

Menanggapi sinergi tersebut, Ketua Umum SP2MI, Amirudin, menyampaikan apresiasi atas respons cepat Kemensos. Pihaknya siap menggelar pelatihan khusus bagi para calon tenaga pengajar yang akan ditugaskan di Sentra Kemensos.

Sebagai langkah konkret, SP2MI dan Kemensos melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial akan segera merumuskan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai payung hukum pelaksanaan program di lapangan.

"Kami akan menindaklanjuti kerja sama ini melalui kesepakatan resmi dengan Ditjen Rehsos Kemensos agar program pembelajaran bisa segera direalisasikan," pungkasi Amirudin. (ACwan/aNs)

Gen Z Takeaway

No child left behind! Kemensos bareng SP2MI resmi berkolaborasi buat nuntasin masalah 4 juta+ Anak Tidak Sekolah (ATS) di Indonesia. Kemensos bakal sediain fasilitas gedung di Sentra Kemensos, sementara SP2MI bakal ngirim guru-guru buat program penyetaraan Paket A, B, dan C. Program ini dirancang jadi batu loncatan buat anak-anak marjinal sebelum masuk ke Sekolah Rakyat!

Anak Tidak Sekolah (ATS) SP2MI P2MI BP2MI Kemensos

Infografis

Terkini