Indonesia-Timor-Leste Bidik Warisan Budaya Bersama Masuk UNESCO, Kolaborasi Mulai Disiapkan

Penulis: Dhea Vallerina Riyon
Editor: Anri Syaiful
Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:01 WIB
Indonesia-Timor-Leste Bidik Warisan Budaya Bersama Masuk UNESCO, Kolaborasi Mulai Disiapkan
Indonesia-Timor-Leste Bidik Warisan Budaya Bersama Masuk UNESCO, Kolaborasi Mulai Disiapkan [Kemenbud]

astakom.com, Jakarta - Hubungan Indonesia dan Timor-Leste kembali mendapat warna baru lewat jalur kebudayaan. Bukan cuma soal pertukaran seni, kedua negara kini mulai membahas langkah yang lebih konkret untuk merawat warisan budaya yang punya keterkaitan di kedua sisi perbatasan.

Kementerian Kebudayaan RI menyebut pembahasan tersebut mengarah pada sejumlah agenda, mulai dari pengelolaan museum dan perpustakaan, pelestarian warisan budaya bersama, sampai peluang pengajuan bersama atau joint nomination Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO.

Melansir keterangan resmi Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) yang diterima Astakom.com pada Rabu, (12/08/2026), Menteri Kebudayaan Fadli Zon membahas peluang tersebut bersama Menteri Muda Bidang Seni dan Budaya Timor-Leste, Jorge Soares Cristovão, dalam pertemuan di kantor Kemenbud, Senayan, Jakarta, Rabu (12/08/2026).

Budaya serumpun bidik UNESCO

Persamaan budaya yang tumbuh di Indonesia dan Timor-Leste menjadi salah satu alasan kerja sama ini mulai diarahkan ke level yang lebih serius. Kemenbud melihat kedekatan tersebut bisa menjadi modal untuk mengembangkan pencalonan warisan budaya bersama ke UNESCO.

“Karena ada banyak persamaan budaya, kita dapat mengeksplorasi kemungkinan joint nomination warisan budaya takbenda ke UNESCO. Selain itu, kami mengundang negara-negara di Pasifik untuk residensi bidang budaya di ISI Yogyakarta, termasuk dari Timor-Leste. Menurut saya ini satu kesempatan yang bagus untuk terutama seniman-seniman muda berkolaborasi,” ungkap Menbud Fadli Zon, mengutip keterangan resmi Kemenbud.

Gagasan itu muncul ketika posisi Indonesia di tingkat global dalam isu warisan budaya juga sedang menguat. Indonesia terpilih sebagai anggota Komite Antarpemerintah untuk Warisan Budaya Takbenda UNESCO periode 2026–2030 pada Juni 2026. Komite tersebut memiliki peran dalam mengevaluasi dan menetapkan warisan budaya takbenda yang masuk dalam daftar UNESCO.

Perbatasan jadi titik temu

Kedekatan budaya kedua negara bukan sekadar narasi diplomatik. Wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste selama ini menjadi ruang pertemuan masyarakat yang memiliki hubungan sosial dan budaya yang saling beririsan.

Hal tersebut turut menjadi perhatian Jorge Soares Cristovão. Ia menilai keterkaitan budaya di kawasan perbatasan membuat kolaborasi menjadi penting agar warisan yang dimiliki bersama tetap terjaga.

“Secara kultur, kita tidak bisa memisahkan Timor-Leste, terutama masyarakat di wilayah perbatasan, karena kebudayaan di wilayah tersebut memang sudah menyatu. Karena itu, kolaborasi dan joint nomination menjadi sangat penting untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya bersama,” jelas Jorge.

Peluang kerja sama juga tidak hanya menyasar warisan budaya takbenda. Timor-Leste membuka kemungkinan penguatan hubungan dengan institusi museum dan perpustakaan Indonesia, terutama untuk peningkatan kapasitas pengelolaan, pelatihan staf, katalog, tata pamer, hingga pengelolaan koleksi.

Rencana tersebut berkaitan dengan pembangunan Perpustakaan Nasional dan Museum Nasional Timor-Leste. Dalam pertemuan itu, Jorge menyampaikan pembangunan Perpustakaan Nasional ditargetkan selesai tahun depan, sementara Museum Nasional diproyeksikan rampung pada pertengahan 2028.

Rumah budaya hingga museum

Kerja sama budaya juga diarahkan agar punya ruang interaksi yang lebih nyata. Salah satunya melalui rencana mengaktifkan kembali Rumah Budaya Indonesia di Dili sebagai ruang bertemunya masyarakat dan pelaku budaya dari kedua negara.

Kemenbud juga membuka peluang berbagi keahlian untuk membantu pengelolaan museum dan perpustakaan Timor-Leste. Bentuknya dapat mencakup pertukaran tenaga ahli, tata pamer, hingga pengelolaan koleksi.

“Untuk perpustakaan dan museum, apabila diperlukan, kami dapat membantu melalui pertukaran keahlian, termasuk dalam hal tata pamer dan pengelolaan koleksi. Kami juga dapat berbagi pengalaman mengenai program Museum Passport yang menjadi salah satu inovasi untuk memperkenalkan museum kepada masyarakat,” ungkap Fadli Zon.

Di sisi lain, pembahasan turut menyentuh Anjungan Timor-Timor di Taman Mini Indonesia Indah. Museum Timor-Timor di kawasan tersebut ke depan direncanakan diarahkan menjadi Museum Persahabatan Indonesia-Timor-Leste, sehingga sejarah hubungan kedua negara dapat dikemas sebagai ruang pembelajaran dan interaksi budaya.

Kedua pihak selanjutnya sepakat menindaklanjuti berbagai gagasan melalui penyusunan nota kesepahaman atau MoU. Agenda tersebut mencakup peluang kolaborasi warisan budaya, museum, perpustakaan, pertukaran budaya, hingga program yang dapat melibatkan seniman muda.

Buat generasi sekarang, kerja sama ini bukan cuma soal seremoni diplomatik. Kalau benar-benar berjalan, budaya yang selama ini hidup di masyarakat bisa punya ruang kolaborasi yang lebih luas—dari komunitas, museum, seniman muda, sampai panggung UNESCO. (deA/aNs)

Gen Z takeaway

Budaya yang punya akar sama enggak harus dipisahkan oleh batas negara. Justru, kolaborasi bisa jadi cara baru buat bikin warisan lama tetap relevan di generasi sekarang.

Kebudayaan Menteri Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Warisan Budaya UNESCO

Infografis

Terkini