Kementan Kejar Kemandirian Energi, 2 Juta Ha Disiapkan untuk Bioetanol
astakom.com, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menindaklanjuti arah Presiden Prabowo untuk menuju transisi energi hijau dengan penggunaan bioetanol. Kementerian Pertanian mulai menggerakkan pengembangan bioetanol dengan bahan baku dan basis tiga komoditas utama, yaitu tebu, ubi kayu atau singkong, dan jagung.
Pemerintah siapin pengembangan lahan sampe 2 juta hektare sebagai fondasi pembangunan industri bioetanol nasional sekaligus jadi langkah agresif demi memperkuat kemandirian energi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman nge-spill kalau pengembangan bioetanol nggak cukup cuma dengan membangun pabrik. Pemerintah terlebih dahulu pastiin ketersediaan bahan baku lewat pengembangan kawasan pertanian dalam skala besar dan terintegrasi dengan industri pengolahan.
Siapin lahan 2 juta hektare
“Etanol ini butuh lahan 1 sampai 2 juta hektare dengan tiga komoditas strategis. InsyaAllah kita akan bangun pabriknya, kita gerakkan masif seluruh Indonesia,” kata Mentan Andi Amran setelah memimpin Rapat Program Khusus Pengembangan Bioetanol bersama 44 bupati dari sejumlah daerah di Jakarta, dikutip astakom.com pada Senin (21/09/2026).
Tiga komoditas itu bakal dikembangkan sesuai potensi masing-masing daerah. Tebu menjadi salah satu fokus utama, karena punya potensi besar sebagai bahan baku bioetanol, sementara singkong dan jagung bakal dikembangkan di wilayah yang punya kesesuaian lahan dan produktivitas tinggi.
“Ini cetak tebu, tanam tebu, tanam ubi, tanam jagung. Kita jadikan etanol,” kata Mentan Amran.
Biaya pembangunan
Menurut Andi Amran, kepastian bahan baku menjadi fondasi penting buat menarik investasi industri bioetanol. Karena itu, pemerintah bakal melakukan konsolidasi lahan dan siapin kawasan produksi sebelum pembangunan industri dilakukan secara masif.
Dia menaksir pembiayaan pembangunan industri bisa melibatkan BUMN dan swasta. Pemerintah juga bakal mengambil peran dalam penyiapan kawasan, sementara investasi industri bisa diperkuat lewat keterlibatan sektor swasta.
“Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta dan pasti swasta mau karena tanahnya disiapkan oleh negara,” katanya.
Buka peluang kemitraan
Mentan Amran tegaskan pengembangan bioetanol juga harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Makanya pemerintah bakal ngepush skema kemitraan agar masyarakat ikut menjadi bagian dari pertumbuhan kawasan pertanian dan industri yang dibangun.
“Ini tidak boleh monopoli, minimal 30 persen rakyat. Jadi rakyat menikmati. Sekarang nggak boleh di bawah 20, harus 30 persen untuk rakyat. Harus tumbuh bersama kalau negara mau kuat,” kata Mentan Andi Amran.
Pemerintah juga ngepush keterlibatan pengusaha daerah sehingga pengembangan bioetanol nggak cuma menciptakan industri, tetapi juga sekaligus membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
Tahap awal jagung
Dalam tahap awal, Kementan akan memperkuat pengembangan jagung melalui percontohan di daerah yang menyatakan kesiapan. Mentan Amran menyebut dukungan awal dapat diberikan dengan luasan 500 hingga 1.000 hektare per kabupaten dan diperluas hingga 1.500 hektare bagi daerah yang menunjukkan hasil produksi baik.
“Nanti kita lihat hasilnya. 1.000 hektare untuk setiap bupati yang datang. Kita lihat jagungnya yang tanamannya bagus, produksinya tinggi, saya akan tambah di Januari, tambah luasan jagung,” jelasnya.
Tebu 1 juta hektare
Selanjutnya, Mentan juga menyoroti support yang diperlukan yaitu berupa alat dan mesin pertanian (alsintan). Alat-alat itu bakal disiapkan untuk memperkuat produktivitas dan mempercepat pengembangan kawasan. Sementara untuk tebu, pemerintah menyiapkan pengembangan dalam skala yang lebih besar.
“Yang paling penting adalah tebu. Kita butuh 1 juta hektare. Tadi sudah dihadiri oleh Pak Dirjen dari Kehutanan Planologi, kemudian Deputi dari BUMN. Kita akan bergerak bersama,” ungkap Mentan Amran.
Kawasan yang bakal jadi lahan pengembangan bioetanol
Dalam penyiapan lahan, pemerintah akan mengutamakan kawasan yang sesuai secara teknis dan memiliki kepastian legalitas. Mentan Amran menegaskan pengembangan bioetanol tidak dilakukan dengan mengabaikan aspek lingkungan.
Pemerintah akan terlebih dahulu mengkaji berbagai sumber lahan yang tersedia, termasuk kawasan yang dapat diarahkan untuk agroforestri atau tanaman pangan serta lahan yang telah dilepaskan. Pelepasan kawasan hutan menjadi pilihan terakhir.
“Pokoknya kita jaga lingkungan, tetapi kita juga menjadi swasembada energi atau berdaulat energi,” katanya. (Shnty/aNs)
Gen Z Takeaway
Pemerintah mulai gaspol mengembangkan bioetanol berbasis tebu, singkong, dan jagung dengan menyiapkan lahan hingga 2 juta hektare. Bukan cuma bangun pabrik, Kementan juga fokus mengamankan bahan baku, melibatkan swasta dan masyarakat, serta menjaga aspek lingkungan. Targetnya, bioetanol bisa mendorong kemandirian energi sekaligus membuka hingga 8 juta lapangan kerja permanen. Ke depan, bauran etanol ditargetkan naik bertahap dari E5, E10, E20 hingga berpotensi E40 pada 2030–2031.









